Internasional

Bom Meledak di Jeddah, Bursa Saham Arab Saudi Merah!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
12 November 2020 17:23
Polisi Saudi menutup jalan menuju pemakaman non-Muslim di Jeddah tempat sebuah bom menghantam peringatan Perang Dunia I. (Tangkapan Layar via CNN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Tadawul Arab Saudi terpantau merah pada perdagangan Kamis siang waktu Arab Saudi (12/11/2020) atau pukul 16.48 WIB waktu Indonesia.

Secara geografis Indonesia dan Arab Saudi berada di belahan bumi yang berlainan sehingga waktu cukup signifikan, yaitu 4 jam lebih dulu ketimbang Saudi.

Situs resmi Bursa Tadawul menunjukkan, indeks utamanya terkoreksi 0,21% atau 17,74 poin sejak pembukaan perdagangan Kamis ini di tengah sentimen peristiwa ledakan bom di Jeddah.


Tadawul berada di Riyadh, ibu kota Arab Saudi yang terletak di kawasan Nejd, sementara Jeddah adalah kota pelabuhan utama di Arab Saudi baik pelabuhan laut maupun pelabuhan udara, terletak di tepi Laut Merah.

Tercatat indeks utama Tadawul yakni Tadawul All Share Index (TASI) berada di level 8.431,92 atau minus 0,21% dengan nilai transaksi mencapai 6,24 miliar riyal Arab Saudi (SAR) atau setara Rp 25 triliun (kurs Rp 3.779/SAR), dengan volume perdagangan 194,09 juta saham.

Ada 83 saham naik, sementara 105 saham terperosok dalam dengan jumlah saham tercatat mencapai 203 emiten. Kapitalisasi pasar Bursa Tadawul mencapai 9,13 triliun riyal Arab Saudi.

Semua indeksnya turun, kecuali indeks saham-saham capital goods yang naik 1,17% dan consumer durables & apparel naik 0,72%. Bahkan indeks saham media dan entertainment naik 3,28% tertinggi.

Adapun indeks acuan lainnya yakni MSCI Tadawul 30 Index terkoreksi 0,37%.

Bursa Tadawul mulai mendapat perhatian setelah saham BUMN minyak Arab Saudi yakni Saudi America Arab Oil Company (Aramco) tercatat di bursa ini. Hari ini, saham Aramco berkode 2222, terkoreksi 0,70% di level 35,25 riyal Saudi.

Satu sentimen yang terjadi di Saudi yakni peristiwa ledakan bom terjadi di pemakaman non-Muslim di Jeddah, Arab Saudi, Rabu (11/11/2020) waktu setempat. Ledakan itu terjadi saat peringatan Perang Dunia I di negeri kerajaan itu.

Mengutip AFP, keterangan diberikan Kementerian Luar Negeri Prancis. Di tempat kejadian hadir para diplomat Eropa, termasuk dari negeri Presiden Emmanuel Macron itu.

"Beberapa konsulat termasuk dari Prancis menjadi sasaran serangan IED (improvised explosive device)," kata kementerian itu, dikutip Kamis (12/11/2020).

"Prancis mengutuk keras serangan yang pengecut dan tak dibenarkan."

Belum ada komentar resmi dari Saudi terkait ledakan ini.Namun sejumlah media mengaitkan dengan kontroversi kartun Nabi Charlie Hebdo dan komentar Macron soal Islam di Prancis.

Sementara itu, dikutip Reuters dari televisi pemerintah, negara tersebut beberapa jam setelah kejadian, mengumumkan mencegat dan menghancurkan dua drone bermuatan bahan peledak yang diluncurkan Kelompok Houthi Yaman.

Kelompok Houthi di Yaman disebut erat kaitannya dengan Iran. Kelompok ini menjadi sumber sejumlah serangan ke negeri itu termasuk ledakan di fasilitas minyak BUMN migas Saudi, Saudi Aramco, di 2019.

Bukan hanya itu, koalisi pimpinan Saudi juga mencegat dua kapal sarat bahan peledak di Laut Merah. Ini diyakini juga milik kelompok Houthi.

Di hari yang sama, Raja Arab Saudi Salman Bin Abdulaziz juga dikabarkan menyerang Iran di hari yang sama setelah kejadian. Ia secara tegas mendesak dunia untuk mengambil sikap tegas ke negara Ayatollah Khamenei itu.

"Kerajaan menekankan bahaya proyek regional Iran, campur tangannya di negara lain, mendorong terorisme, mengipasi api sektarianisme ... dalam upayanya untuk memiliki senjata pemusnah massal," katanya dalam pidato di Dewan Syura Arab Saudi, yang disiarkan melalui video conference dikutip Reuters.

Itu adalah pidato publik pertamanya sejak dia berpidato di depan Majelis Umum PBB pada September melalui videolink, di mana dia juga membidik Iran.

Muslim Sunni Arab Saudi dan Syiah Iran terkunci dalam perjuangan selama puluhan tahun untuk mendapatkan pengaruh di seluruh wilayah, mendukung pihak yang berlawanan dalam konflik dari Suriah hingga Yaman.

Ketegangan meningkat sejak Presiden AS Donald Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir penting dengan kekuatan dunia pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi yang ketat terhadap Republik Islam tersebut.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading