Efek Pandemi, Laba Adaro Energy Q3 Ambles 73% Jadi Rp 1,6 T

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
03 November 2020 09:46
Pengusaha Boy Thohir saat memberi tanggapan kepada tim CNBC Indonesia di Kantor Adaro, Jakarta, Selasa (24/4) Boy Thohir merupakan putra dari salah satu pemilik Astra International Teddy Tohir. Dia juga seorang pengusaha yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia bisnis. Dia menyelesaikan pendidikan MBA-nya di Northrop University Amerika Serikat. Boy Thohir dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses membawa Adaro Energy sebagai perusahaan batu bara terbesar di Indonesia.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan laba bersih pada 9 bulan tahun ini atau per September 2020 mencapai US$ 109,38 juta atau setara dengan Rp 1,6 triliun (kurs Rp 14.700/US$).

Jumlah laba ini ambles 73,05% dari periode yang sama tahun lalu yang menembus US$ 405,99 juta atau setara dengan Rp 5,96 triliun.

Berdasarkan data laporan keuangan publikasi per kuartal III-2020, koreksi laba bersih ini terjadi seiring dengan penurunan pendapatan induk usaha PT Adaro Indonesia ini.


Pendapatan ADRO per 9 bulan (9M2020) mencapai US$ 1,95 miliar atau setara dengan Rp 29 triliun, merosot 26,35% dari periode yang sama tahun lalu US$ 2,65 miliar atau sekitar Rp 39 triliun.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi Thohir, mengatakan penurunan permintaan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi dan minat beli yang lemah di negara-negara pengimpor utama telah berdampak terhadap harga batu bara global.

Di masa yang sulit ini, perusahaan terus berfokus terhadap operasi dan efisiensi biaya, serta mengimplementasikan strategi untuk memperkuat bisnis inti.

"Kami juga mengambil sikap waspada terhadap pengeluaran dan mengeksekusi rencana belanja modal dengan hati-hati. Meskipun disiplin terhadap suplai telah mulai dilakukan, kami perkirakan bahwa pemulihan pasar akan membutuhkan waktu yang lebih lama," kata Garibaldi "Boy" Thohir, dalam siaran pers, Selasa (3/11/2020).

Dia mengatakan, meskipun dibayangi oleh tantangan ekonomi makro, perseroan masih dapat mempertahankan operasi yang solid. Kondisi pasar batu bara yang sulit akibat ekonomi global yang masih belum kondusif karena pandemi yang berkepanjangan terus menekan profitabilitas perusahaan.

"Meskipun ketidakpastian masih ada, model bisnis kami yang terintegrasi memungkinkan perusahaan untuk beroperasi dengan efisien dalam menghadapi tantangan inim," jelasnya.

"Di sisi yang positif, kami mulai melihat beberapa tanda rebalancing di pasar batu bara berkat disiplin terhadap suplai."

Perseroan juga tetap merasa optimistis terhadap fundamental industri di jangka panjang. "Dalam menghadapi tantangan jangka pendek, kami berfokus untuk menjaga kas, memperkuat struktur permodalan dan posisi keuangan, bertahan di jalur yang sudah ada, terus mengeksekusi strategi untuk memastikan kelangsungan bisnis, dan tetap bersumbangsih terhadap pembangunan nasional," katanya.

Dia menjelaskan, penurunan pendapatan usaha sebesar 26% karena didorong oleh penurunan Average Selling Price (ASP) dan volume penjualan, yang masing- masing turun 18% dan 9%.

"Pasar batu bara belum kondusif karena permintaan batu bara global masih lemah. Walaupun pasar batu bara termal seaborne turun secara yoy [year on year], berkat disiplin terhadap suplai, mulai terlihat tanda-tanda rebalancing pada 3Q20. Pada periode ini, produksi dan penjualan batu bara masing-masing mencapai 41,10 juta ton dan 40,76 juta ton, setara dengan penurunan 7% dan 9% yoy."

Di sisi lain, beban pokok pendapatan turun 20% yoy menjadi US$ 1,49 miliar, terutama karena penurunan pada nisbah kupas serta pembayaran royalti kepada pemerintah pada 9M20.

Biaya kas batu bara per ton (tidak termasuk royalti) turun 17% yoy akibat penurunan nisbah kupas maupun harga bahan bakar.

Manajemen ADRO mengungkapkan, pada 9M20, biaya bahan bakar turun 28%, karena harga bahan bakar turun secara yoy dan konsumsi bahan bakar turun 18% seiring menurunnya produksi dan nisbah kupas.

Adapun royalti kepada Pemerintah Indonesia turun 27% yoy menjadi US$ $207 juta, karena pendapatan dan ASP untuk 9M20 juga lebih rendah.

Sementara itu, laba inti pada 9M20 tercatat sebesar US$ 326 juta, atau turun 36% yoy karena didorong penurunan profitabilitas.

Laba inti tidak memasukkan komponen akuntansi non-operasional setelah pajak, yang di antaranya terdiri dari amortisasi properti pertambangan, rugi penurunan nilai properti pertambangan, rugi derivatif instrumen keuangan, dan rugi penurunan nilai wajar investasi pada perusahaan patungan.

Total aset per September mencapai US$ 6,47 miliar setara dengan penurunan 11% dari periode yang sama tahun lalu. Aset lancar turun 18% menjadi US$ 1,73 miliar, sementara aset non lancar turun 17% menjadi US$ 4,74 miliar.

ADRO juga mempertahankan saldo kas yang tinggi pada akhir 9M20 sebesar US$ 1,19 miliar.

Dari sisi belanja modal bersih pada 9M20 tercatat US$ 133 juta, atau turun 63% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Belanja modal ini terutama digunakan untuk membeli dan mengganti alat berat serta pengembangan Adaro MetCoal Companies (AMC). Perseroan terus mengalokasikan modal secara strategis dan selektif di masa yang sulit ini. Pada 9M20, kami menghasilkan arus kas bebas yang solid sebesar US$ 482 juta, atau naik 10% yoy," kata Garibaldi.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading