Parah! Laba Bersih Perusahaan Investasi Sandi Uno Drop 82,9%

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
30 October 2020 12:00
Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/1/2018). Pasca ambruknya koridor lantai 1 di Tower 2 Gedung BEI kemarin (15/1/2018), hari ini aktifitas perdagangan saham kembali berjalan normal

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten investasi milik Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya mencatatkan penurunan laba bersih sampai dengan 82,9% menjadi Rp 1,19 pada periode sembilan bulan pertama tahun ini. Tahun lalu, Saratoga mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7 triliun.

Penurunan ini disebabkan oleh keuntungan bersih atas investasi pada saham dan ekuitas lainnya yang turun sangat signifikan 88,8% dari Rp 5,85 triliun tahun lalu menjadi hanya Rp 651,64 miliar saja serta kerugian selisih kurs.

Secara rinci, portofolio investasi Saratoga terbagi menjadi tiga sektor utama, yakni infrastruktur yang sampai dengan September ini memberikan andil terhadap pendapatan Rp 740,63 miliar, turun dari tahun lalu Rp 3,75 triliun. Emiten bersandi SRTG ini tercatat memiliki saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sebesar 34%.


Portofolio investasi di sumber daya alam tercatat sebesar Rp 516,94 miliar dari sebelumnya Rp 2,50 triliun. Di sektor ini, Saratoga tercatat memiliki saham emiten batu bara seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan kepemilikan sebesar 15,18% saham dan emiten tambang emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan kepemilikan 19,13%.

Sedangkan, produk konsumen masih mencatatkan kerugian Rp 677 miliar, lebih dalam dari sebelumnya Rp 541,34 miliar.

Investasi pada ekuitas lainnya juga mencatatkan penurunan menjadi Rp 71,68 miliar dari sebelumnya Rp 135,37 miliar.

Di sisi lain, beban usaha mencatatkan kenaikan menjadi Rp 142,80 miliar dari sebelumnya Rp 125,31 miliar. Selain itu, perseroan juga mengalami kerugian selirih kurs Rp 132,69 miliar dari tahun lalu dengan keuntungan Rp 38,35 miliar.

Sampai dengan periode September 2020, liabilitas Saratoga tercatat sebesar Rp 3,58 triliun, turun dari akhir Desember sebesar Rp 3,88 triliun. Ekuitas mengalami kenaikan menjadi 23,76 triliun dari posisi Desember 2019 sebesar Rp 22,77 triliun. Dengan demikian total aset perseroan menjadi Rp 27,35 triliun per September ini.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading