Roundup

OJK Cabut Izin Perusahaan Sandi-Rosan, Hero dkk Cetak Rugi Q3

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
02 November 2020 09:15
sandiaga, sandi, rosan,

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan terakhir di bulan Oktober, Selasa (27/10/20) ditutup di zona merah, anjlok 0,31% di level 5.128,22 poin.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi beli bersih sebanyak Rp 22 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi menyentuh Rp 8,2 triliun.

Pekan lalu pasar saham dalam negeri merasakan libur panjang dengan perdagangan hanya dilakukan selama 2 hari saja.


Sedangkan dari global, akhir pekan lalu Jumat (30/10/2020), indeks saham AS ditutup lebih rendah dengan penurunan terbesar sejak Maret lalu.

Penurunan ini disebabkan karena kerugian di sektor teknologi, yang dipicu dari rekor kenaikan kasus virus corona dan kegelisahan atas pemilihan presiden memadamkan sentimen investor.

Untuk memulai lagi perdagangan pekan ini di hari perdagangan pertama di bulan November, ada baiknya disimak sederet kabar emiten yang terjadi sepanjang pekan lalu.


1. Duh! OJK Cabut Lagi Izin Perusahaan Sandi Uno & Rosan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usaha di bidang asuransi umum PT Asuransi Recapital. Asuransi ini merupakan perusahaan yang didirikan bersama oleh founder OK OCE Sandiaga Uno dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan Perkasa Roeslani.

Pencabutan izin ini dilakukan melalui Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor KEP-45/D.05/2020 tanggal 16 Oktober 2020.

Hal itu dilakukan lantaran perusahaan tidak dapat memenuhi ketentuan yang menjadi penyebab dikenakannya sanksi Pembatasan Kegiatan Usaha (PKU), yakni pemenuhan ketentuan tingkat solvabilitas minimum.

2. Ya Ampun! Ramayana, HERO & Matahari Kompak Rugi di Q3

Sebanyak tiga peritel besar dalam negeri, PT Hero Supermarket Tbk (HERO), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mencatatkan kinerja buruk pada 9 bulan pertama tahun ini atau per September 2020.

Penjualan menurun selama periode Januari-September di tengah implementasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah daerah demi melawan pandemi Covid-19.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi kuartal III-2020, HERO mempertebal kerugiannya menjadi senilai Rp 339,46 miliar pada akhir periode tersebut. Meningkatkan berkali-kali lipat dari posisi akhir September 2019 lalu yang senilai Rp 6,68 miliar.

Tak jauh berbeda, kinerja keuangan RALS pada akhir periode September 2020 ini malah dinodai dengan tinta merah lantaran perusahaan terpaksa membukukan kerugian senilai Rp 95,21 miliar. Padahal pada akhir September 2019 lalu perusahaan masih mengantongi keuntungan senilai Rp 612,42 miliar.

Emiten ritel Matahari Department Store juga membukukan rugi bersih senilai Rp 616,60 miliar per kuartal III-2020. Nilai ini berbanding terbalik dengan periode akhir September 2019 di mana perusahaan masih mengantongi keuntungan senilai Rp 1,18 triliun.

3. Bakal Distribusikan Vaksin, Kalbe Farma Cetak Laba Q3 Rp 2 T

Emiten farmasi swasta, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,03 triliun pada 9 bulan tahun ini atau per September 2020, naik 6% dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,92 triliun.

Berdasarkan data laporan keuangan kuartal III-2020 yang baru dipublikasikan Jumat ini (30/10/2020), laba bersih itu seiring dengan penjualan Kalbe Farma yang naik tipis 1,6% menjadi Rp 17,10 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 16,83 triliun.

4. Laba Lippo Cikarang Q3 Melesat 77%, Ternyata Ini Pemicunya

Perusahaan properti milik grup Lippo, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) mencatatkan laba bersih senilai Rp 612,42 miliar pada periode Januari- September 2020, naik 76,80% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 346,39 miliar.

Kenaikan laba bersih ini meningkatkan nilai laba per saham menjadi Rp 229 dari sebelumnya sebesar Rp 129.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi kuartal III-2020, kenaikan laba bersih yang tinggi ini utamanya karena adanya kenaikan nilai aset bersih investasi Dinfra (dana investasi infrastruktur) senilai Rp 448,65 miliar dan laba atas pelepasan entitas anak sebesar Rp 4,58 miliar.

5. Pak Erick, Laba Kimia Farma Q3 Merosot 11% Jadi Rp 37 M

Emiten farmasi BUMN, PT Kimia Farma Tbk (KAEF), mencatatkan laba bersih pada 9 bulan tahun ini atau per September 2020 mencapai Rp 37,20 miliar, turun 11,07% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu laba Rp 41,83 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan per kuartal III-2020 yang disampaikan, Jumat (30/10/2020), koreksi laba bersih itu terjadi saat pendapatan perusahaan justru naik 2,47% menjadi Rp 7,05 triliun dari sebelumnya Rp 6,88 triliun.

Koreksi laba bersih ini seiring dengan beban keuangan yang membengkak menjadi Rp 447,76 miliar, dari sebelumnya Rp 357,10 miliar.

6. Pendapatan Melonjak, Laba Vale Q3-2020 Terbang Jadi Rp 1,13 T

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sepanjang periode Januari-September 2020 ini mencatatkan laba tahun berjalan senilai US$ 76,64 juta atau sekitar Rp 1,13 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$). Nilai ini meroket jauh dari periode yang sama tahun lalu di mana perusahaan hanya mengantongi laba US$ 160 ribu atau sekitar Rp 2,4 miliar.

Kenaikan laba yang signifikan ini mampu mengungkit nilai laba bersih per saham menjadi sebesar US$ 0,008 dari sebelumnya US$ 0,000.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, peningkatan laba bersih pada sembilan bulan tahun ini dikarenakan adanya peningkatan pendapatan usaha serta pendapatan lainnya yakni laba kurs.

7. Pandemi, Laba Gudang Garam Q3 Jeblok 22% Jadi Rp 5,65 T

Emiten rokok milik Keluarga Wonowidjojo, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan laba bersih pada 9 bulan pertama tahun ini atau per September 2020 sebesar Rp 5,65 triliun, turun 22% dari periode yang sama tahun lalu Rp 7,24 triliun di tengah pandemi Covid-19.

Berdasarkan data laporan keuangan per kuartal III-2020., koreksi laba bersih itu terjadi justru ketika pendapatan perusahaan naik menjadi Rp 83,38 triliun, naik 2,03% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 81,72 triliun.

Perusahaan mencatatkan penurunan beban usaha menjadi Rp 5,54 triliun dari sebelumnya Rp 5,76 triliun dan penurunan tajam beban lainnya menjadi hanya Rp 2,61 miliar dari sebelumnya Rp 22,71 miliar.

8. BRI Tiba-tiba Audit Laporan Keuangan di Kuartal III, Ada Apa?

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menunda untuk mempublikasi laporan keuangan kuartal III-2020 karena sedang proses audit.

"Laporan Keuangan Triwulan III Tahun 2020 BRI yang berakhir pada tanggal 30 September 2020 akan disertai laporan akuntan dalam rangka laporan keuangan yang diaudit (audited)," tulis surat resmi dari VP Corsec BRI Kusnandar Nugraha dalam keterbukaan informasi 28 Oktober 2020.

Dengan demikian, BRI memiliki kesempatan untuk mempublikasi laporan keuangan hingga akhir Desember 2020. Sesuai dengan regulasi, laporan keuangan audited bisa dipublikasi 3 bulan setelah tanggal tutup buku laporan.

9. Laba Ambles 61%, NPL Bank Permata Juga Bengkak di Q3-2020

PT Bank Permata Tbk (BNLI) melaporkan kinerja keuangan kuartal III-2020 dengan hasil yang kurang memuaskan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih bank yang baru diakuisisi Bangkok Bank ini, tercatat ambles 60,67% menjadi sebesar Rp 429,76 miliar per 9 bulan pertama tahun ini atau per September, dibandingkan perolehan yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,09 triliun.

Penurunan kinerja laba Permata Bank ini disebabkan anjloknya pendapatan bunga sebesar 2,59% menjadi Rp 8,43 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 8,65 triliun.

10. Catat! 1 dari 4 Anak Usaha Waskita Karya Bakal IPO di 2021

Emiten konstruksi pelat merah, PT Waskita Karya Tbk (WSKT), berencana mengantarkan anak usaha mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) pada tahun 2021. Meski demikian, manajemen belum memutuskan target raihan dana dari aksi korporasi tersebut.

Presiden Direktur Waskita Karya, Destiawan Soewardjono menuturkan, rencananya, akan ada satu dari empat anak usaha Waskita yang menjadi perusahaan publik di tahun depan sembari tetap memperhatikan kondisi pasar.

"Awal tahun kita harapkan, kita akan lihat situasi, mungkin salah satu anak usaha kita akan kita IPO-kan untuk menambah kemampuan Waskita dalam mengembangkan bisnis," ujar Destiawan, dalam paparan publik secara daring, Selasa (27/10/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading