Seruan Produk Prancis Diboikot, Aqua-Danone Punya Siapa?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
02 November 2020 15:16
Dok.Aqua-Danone

Jakarta, CNBC Indonesia - Seruan untuk memboikot produk Prancis semakin ramai jadi perbincangan secara global setelah sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang disebut tidak menghiraukan dan tak menggubris peringatan umat Islam sedunia dengan membiarkan penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW.

Di Kuwait, beberapa jaringan supermarket mulai mengeluarkan semua produk Prancis dari rak sebagai bentuk aksi protes.

Di Qatar, Alwajba Dairy Company dan Almeera Consumer Goods Company mengatakan mereka akan memboikot produk Prancis dan akan memberikan alternatif lain.


Kampanye lain juga dilaporkan di Yordania, Palestina hingga Israel. Universitas Qatar juga bergabung dalam kampanye boikot, mengumumkan bahwa mereka memutuskan untuk menunda Pekan Budaya Prancis sebagai protes atas penghinaan anti-Islam.

Sejumlah pembeli di beberapa negara Arab bahkan sudah merealisasikan seruan ini.

Seruan boikot terjadi hampir di Kuwait dan Turki. Bahkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta warganya tak membeli barang Negeri Menara Eiffel.

Sebelumnya Macron telah memicu kontroversi sejak awal September. Saat itu, ia mengajukan UU untuk 'separatisme Islam' di Prancis.

Macron sempat berujar bahwa 'Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia'. Karenanya pemerintahnya akan mengajukan rancangan undang-undang pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang tahun 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Setelah seorang guru di Prancis dipenggal karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas yang ia pimpin, seraya berbicara soal kebebasan, Macron kembali berkomentar. Ia berujar sang guru 'dibunuh karena kaum Islamis menginginkan masa depan kita'

Di Indonesia, seruan ini pun menggema. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan boikot produk Prancis agar pemerintah Prancis segera meminta maaf.

"Memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis serta mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan tekanan dan peringatan keras kepada Pemerintah Prancis," tulis MUI dalam surat imbauan yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Anwar Abbas dan Wakil Ketua Umum Muhyiddin Junaidi, 30 Oktober 2020.

"...serta mengambil kebijakan untuk menarik sementara waktu Duta Besar Republik Indonesia di Paris hingga Presiden Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia," tulis MUI.

Beberapa produk dari Prancis yang terkenal di RI yakni dari Danone, L'Oreal, dan merek mode mewah Louis Vuitton, Dior, Lacoste, Givenchy dan lainnya. Khusus Danone, nama air minus Aqua pun diseret-seret.

Lantas siapa pemilik Aqua?

Situs resmi Aqua-Danone mencatat, Aqua pertama kali didirikan pada tahun 1973 oleh Tirto Utomo dengan nama PT Golden Mississippi. Pabrik pertamanya berada di Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat.

Pada tahun 1974, perusahaan ini merilis produk pertama dalam bentuk kemasan botol kaca berukuran 950 ml dari pabrik di Bekasi dengan harga per botol saat itu Rp 75.

Dok Aqua-DanoneFoto: Dok Aqua-Danone
Dok Aqua-Danone

Perusahaan terus berkembang hingga mendirikan pabrik keduanya di Pandaan, Jawa Timur pada tahun 1984. Tahun 1985, pengembangan produk Aqua dalam bentuk kemasan PET 220 ml.

Tahun 1993, Aqua Group menyelenggarakan program Aqua peduli dengan melakukan daur ulang botol plastik kemasan Aqua menjadi materi yang dapat digunakan kembali.

Tahun 1998, terjadi aliansi strategis antara Tirta Investama dan Danone melalui Danone Asia Holding Pte.Ltd sebagai minority shareholder, selanjutnya Tirta Investama , PT Aqua golden Misssipi dan PT Tirta Sibayakindo sepakat untuk bersinergi membentuk Grup Aqua.

Pada tahun 2000 Aqua pun mulai mencantumkan 'Danone' di seluruh produknya. Pada 2001, Danone mulai meningkatkan kepemilikan saham di Tirta Investama sehingga Danone menjadi pemegang saham mayoritas Grup Aqua. Di tahun yang sama, Aqua menghadirkan kemasan botol kaca baru 380 ml.

Aqua golden Misssipi sempat tercatat di Bursa Efek Indonesia (dulu Bursa Efek Jakarta/BEJ) dengan kode AQUA, tapi kemudian secara sukarela delisting pada 1 April 2011.

Presdir AQUA saat itu, Willy Sidharta dalam suratnya kepada BEJ dan Bapepam (kini OJK), dikutip Detikfinance, menjelaskan, rencana go private tersebut berkaitan dengan kebijakan Danone Asia untuk mengkonsolidasikan kegiatannya di Indonesia dalam bidang pembotolan air minum dalam kemasan.

Pada awalnya, untuk bidang ini terdiri dari 12 anak perusahaan yang saham-sahamnya dimiliki oleh Tirta Investama.

Menurut Willy, go private ini juga sesuai dengan kebijakan global induk perusahaan yakni Grup Danone untuk membeli saham-saham yang dimiliki oleh pemegang saham non-strategis di dalam investasi-investasinya.

Willy juga menegaskan, tidak ada alasan bagi AQUA untuk tetap mencatatkan saham-sahamnya di bursa mengingat tidak aktifnya perdagangan saham AQUA di bursa. Perseroan melakukan pembelian atas sisa saham yang masih dimiliki publik sebanyak 6,4% sebesar Rp 100.000 per saham.

Harga tersebut mencerminkan 65% lebih tinggi dari harga penutupan sebelum pengumuman 30 September 2005 sebesar Rp 59.000 per saham. Adapun harga tender offer selanjutnya ditetapkan dengan harga sebesar Rp 500.000 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perseroan di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (22/9/2010).

Komposisi pemegang saham AQUA saat itu adalah PT Tirta Investama 12.419.090 saham (94,35%) dan publik 743.383 saham (5,65%). Dengan harga sebesar Rp 500.000 per saham, maka total dana yang harus dirogoh Tirta Investama saat itu sebesar Rp 371,691 miliar.

Sejak itu kini, Aqua di bawah brand Danone dan terus ekspansi.

Adapun Danone merupakan produsen makanan dan minuman yang berkantor pusat di Prancis kendati pendiriannya berawal dari Spanyol. Empat produk utamanya adalah susu segar, nutrisi awal kehidupan, air, dan gizi medis.

Situs resmi Danone mencatat, brand ini lahir berkat penggabungan BSN dan Gervais Danone pada Desember 1972 di Spanyol. Merger ini juga terjadi setelah pertemuan antara dua pengusaha saat itu, Daniel Carasso dan Antoine Riboud.

Pendirian Danone awal mulanya pada 1919 yang didirikan di Barcelona, Spanyol, oleh Isaac Carasso dengan nama awal anaknya yakni Daniel Carasso, yang punya nama panggilan Danon.

Demo di Kedubes Prancis (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)Foto: Demo di Kedubes Prancis (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Demo di Kedubes Prancis (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Mengacu siaran pers Danone per Q3-2020, perusahaan melaporkan total penjualan 9 bulan yakni mencapai 18 miliar euro atau Rp 311 triliun, turun 5,4% dari periode yang sama tahun lalu 19,03 miliar euro.

Pendapatan khusus Q3 2020 yakni 5,82 miliar euro, turun 9,3% dari sebelumnya 6,42 miliar euro.

Ini adalah akumulasi penjualan secara global di mana kontribusi terbesar penjualan per September tersebut masih disumbang oleh pasar Eropa dan Noram (North America: AS dan Kanada) mencapai 10,16 miliar euro, sisanya dari wilayah lain yakni 7,88 miliar euro.

"Hasil kinerja kuartal 3 kami mencerminkan seberapa besar dunia terdampak Cobvid-19, termasuk adanya upaya sanitasi, penutupan perbatasan, ketidakpastian dalam demand konsumen, dan beberapa perubahan struktural mempengaruhi bisnis kami," kata Emmanuel Faber, Chairman dan CEO, dalam pernyataan resmi, dikutip CNBC Indonesia, Senin (2/11/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading