Internasional

Alamak, Baru Tenang Dikit, Trump Sanksi Minyak Iran

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
27 October 2020 11:48
President Donald Trump listens during the second and final presidential debate Thursday, Oct. 22, 2020, at Belmont University in Nashville, Tenn., with Democratic presidential candidate former Vice President Joe Biden. (AP Photo/Julio Cortez)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan manuver terbaru. Ia memberikan sanksi baru pada sektor minyak Iran, termasuk atas penjualan ke Suriah dan Venezuela pada Senin (26/10/2020).

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan bahwa sanksi tersebut akan mengirimkan peringatan kepada 'beberapa pembeli minyak mentah Iran yang tersisa'. "Penunjukan ini merupakan langkah penting dalam kampanye 'tekanan maksimum' untuk membatasi kemampuan rezim Iran mengancam tetangganya dan mengguncang Timur Tengah," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP.




Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengecam sanksi itu sebagai reaksi pasif terhadap kegagalan kebijakan Washington dalam mengurangi ekspor minyak mentah negeri itu menjadi nol. "Saya tidak memiliki aset di luar Iran untuk dikenakan sanksi. Saya akan mengorbankan hidup, harta benda, dan reputasi saya untuk Iran," tulis Zanganeh di Twitter.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebutnya sebagai #SanctionAddict. "Hentikan kebiasaan itu," katanya di Twitter.



Sejak 2018, Trump sudah memberlakukan sanksi besar-besaran yang bertujuan untuk mengakhiri semua ekspor minyak utama Iran. Trump berusaha untuk menghentikan semua sumber uang tunai untuk musuh regional sekutu AS, Arab Saudi dan Israel.

Di bawah aturan baru, pemerintah AS 'menunjuk' Perusahaan Minyak Iran Nasional, kementerian perminyakan Iran, dan Perusahaan Tanker Nasional Iran di bawah aturan kontraterorisme. Ini meningkatkan batasan bagi pemerintahan di masa depan untuk membalikkan arah.

Departemen Keuangan AS bahkan mengeluarkan sanksi dengan menghubungkan ketiga entitas tersebut dengan Pasukan Quds Pengawal Revolusi Iran. Pasukan ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS dan yang komandannya, Qasem Soleimani, tewas dalam serangan Amerika di bandara Baghdad di Januari 2020.

Menurut sejumlah pengamat, jika Trump kalah dalam pemilihan presiden pada 3 November, sanksi tersebut bisa menjadi salah satu 'tembakan' terakhirnya terhadap para pemimpin Iran. Biden, saat ini memimpin dalam jajak pendapat pemilu AS.

Henry Rome, analis senior di konsultan risiko Grup Eurasia, mengatakan bahwa Biden, jika terpilih, masih dapat meringankan sanksi. Tetapi akan menghadapi hambatan politik tambahan dengan membiarkan kritikus menuduhnya mengabaikan terorisme.

"Penunjukan baru hampir pasti dirancang untuk menghambat upaya diplomatik pemerintahan Joe Biden yang potensial dengan Iran," kata Rome.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading