Pekan Lalu Drop 4%, Nasib Harga Batu Bara Tak Tentu

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
12 October 2020 08:45
Dok.Mitra Investindo Foto: Dok.Mitra Investindo

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepekan lalu harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang aktif diperdagangkan drop signifikan sampai 4,03%. Harga batu bara ditutup di US$ 58,4/ton.

Harga batu bara mulai reli pada awal September lalu setelah menyentuh level terendahnya di US$ 49,9/ton. Setelah itu harga batu bara merangka naik dan tembus level psikologis US$ 60/ton.

Bahkan pada pekan lalu harga batu bara masih sempat mencicipi level US$ 60/ton sebelum akhirnya melorot pada dua hari perdagangan terakhir. Secara month to date (mtd), harga batu bara terkoreksi 5,58%. 

Melihat reli yang tak terhenti mulai pada pekan kedua September, koreksi harga yang terjadi hari ini seharusnya bersifat sehat. Ke depan ada beberapa risiko yang dapat mendongkrak harga batu legam ini.

Salah satu faktor yang sempat mengerek harga batu bara adalah ketatnya pasokan domestik China. Selagi pasokan batu bara domestik China masih ketat dan membuat harganya tidak kompetitif, maka harga batu bara impor lintas laut (seaborne) kemungkinan masih akan tertahan dari koreksi lanjutan. 

Saat ini harga batu bara termal Qinhuangdao untuk kalori 5.500 Kcal/Kg masih berada di atas rentang target harga informal yang ditetapkan pemerintah China.

Hal ini membuat para pelaku industri termasuk perusahaan setrum Negeri Panda berpotensi akan memilih batu bara impor. Apalagi jelang akhir tahun kebijakan kuota akan diperbarui.

Adanya pemangkasan produksi yang juga dibarengi dengan potensi La Nina yang menyebabkan disrupsi pasokan juga turut mendongkrak harga batu bara. Ke depan harga komoditas unggulan Australia dan RI ini diproyeksikan bakal merangkak naik seiring dengan pemulihan permintaan.

Kendati terjadi secara gradual, fenomena pemulihan permintaan batu bara juga terjadi di India. Total impor batu bara India pada bulan September diperkirakan mencapai 14,62 juta ton berdasarkan data pelacakan kapal dan pelabuhan Refinitiv, naik dari 12,97 juta pada bulan Agustus.

Ini merupakan kinerja terkuat importir batu bara terbesar kedua dunia itu sejak April, meski impor masih turun 6,3% dari 15,61 juta ton yang tercatat pada September 2019, melansir Reuters.

Selama sembilan bulan pertama tahun ini, impor diperkirakan mencapai 128,24 juta ton, turun 17% dari 154,8 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Sektor batu bara India telah terpukul keras oleh pembatasan aktivitas ekonomi yang diberlakukan mulai Maret dan seterusnya ketika negara terpadat kedua di dunia berjuang untuk mengatasi pandemi virus corona baru yang sedang merebak.

Perekonomian diperkirakan akan berkontraksi hingga 10% pada tahun fiskal yang dimulai pada bulan April. Itu akan menjadi kinerja terlemah India sejak 1979, dan analis memperkirakan permintaan listrik tahunan turun untuk pertama kalinya dalam hampir empat dekade.

Namun, ada beberapa tanda pemulihan tentatif. Seorang kolumnis Reuters, Clyde Russel menyebut pembangkit listrik tumbuh untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan pada September dengan aktivitas di pabrik meningkat paling tinggi dalam delapan tahun karena adanya relaksasi lockdown.

Pembangkit listrik naik 4,9% pada September dan menjadi peningkatan bulanan pertama sejak Februari, menurut analisis Reuters terhadap data pengiriman muatan harian dari operator jaringan federal.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Batu Bara Mulai Turun Dibayangi Anjloknya Impor China


(twg/twg)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading