Cemas Covid-19, Investor Obral 4 Saham LQ45 & Drop 4% Lebih

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
05 October 2020 08:15
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham domestik pekan lalu mengalami tekanan membuat saham-saham likuid dilepas investor dan mengalami koreksi dalam. Kekhawatiran terhadap perkembangan penyebaran virus corona (covid-19) membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi.

Sepanjang pekan lalu, tercatat ada empat saham di daftar indeks LQ45 atau indeks saham-saham likuid yang mengalami tekanan cukup dalam. Harga empat saham ini tercatat terkoreksi 4% lebih.

Saham-saham tersebut, yaitu saham PT PP (Persero) Tbk (PTPP) yang drop 5,85% ke level Rp 805/unit. Lalu saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) drop 5,15% ke level harga Rp 920/unit.


Ada juga saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) drop 4,87% ke level Rp 1.075/unit. Terakhir saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) drop 4,21% ke harga Rp 1.480/unit.

Pekan lalu IHSG tercatat melorot 0,39% ke 4.926,7. Asing tercatat juga masih menjual aset-aset ekuitasnya di bursa saham domestik.

Hal tersebut terlihat dari data transaksi yang menunjukkan aksi jual bersih (net sell) asing senilai Rp 1,47 triliun di seluruh pasar seminggu terakhir.

Setidaknya ada tiga kabar buruk yang mewarnai perdagangan di pasar sepanjang minggu ini. Hal tersebutlah yang membuat outflow di pasar saham domestik masih terjadi. 

Pertama, perkembangan Covid-19. Kenaikan kasus infeksi Covid-19 di Indonesia terus meningkat dan menimbulkan kekhawatiran. Dalam laporan terbarunya yang dirilis September kemarin Bank Dunia menyoroti lonjakan kasus dan belum terkendalinya wabah masih membuat prospek ekonomi RI ke depan penuh ketidakpastian.

Indonesia memang sudah dipastikan resesi untuk tahun ini. Bank Dunia merevisi turun prospek output perekonomian RI menjadi terkontraksi 1,6% dari tahun lalu. Padahal sebelumnya di bulan Juni lembaga keuangan global yang bermarkas di Washington DC itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mentok di nol persen. 

Kedua, hal yang dikhawatirkan adalah resesi ekonomi ini akan berjalan berkepanjangan dan menjadi penyakit kronis. Sentimen konsumen dan pelaku usaha yang memburuk berpotensi membuat pendapatan dan kinerja keuangan sektor dunia usaha semakin tertekan dan imbal hasil investasi ke aset-aset berisiko Tanah Air semakin memburuk.

Bukti bahwa ekonomi RI sedang sekarat sudah sangat kentara terlihat dari indikator data ekonomi yang dirilis pada pekan ini. BPS melaporkan inflasi untuk bulan September tercatat sebesar -0,05%.

Ya, Indonesia kembali mencatatkan deflasi. Genap satu kuartal sudah RI melaporkan terjadinya deflasi. Kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang deflasi bulan kemarin. 

Indikator inflasi inti yang mencerminkan daya beli masyarakat juga semakin menurun. Kini angka inflasi inti sudah sah di bawah 2% (yoy). Daya beli yang tergerus adalah warning bagi perekonomian RI. 

Ketiga, datang dari barat. Kabar Presiden AS Donald Trump dan First Lady Melania Trump yang positif terjangkit Covid-19 setelah ajudan Hope Hicks juga dinyatakan mengidap Covid-19 membuat bursa saham Asia berguguran.

Kasus Covid-19 global kini sudah tembus angka 34 juta orang lebih secara kumulatif. Angka kematian juga sudah berada di atas 1 juta. Lonjakan kasus di beberapa tempat di Eropa dan AS membuat negara seperti Spanyol khususnya untuk Madrid dan Inggris mulai memikirkan langkah lockdown lagi.

Covid-19 sampai saat ini memang masih jadi momok yang mengerikan bagi perekonomian global maupun domestik. Risiko yang tinggi ini membuat investor cenderung menghindarinya (risk averse) dengan melego aset-aset berisiko seperti saham.

Setelah Trump dan sang istri dikabarkan mengidap Covid-19, tiga indeks saham utama Wall Street ditutup di zona merah. Indeks Dow Jones turun 0,48%, S&P 500 terpangkas 0,96% dan Nasdaq Composite memimpin pelemahan dengan koreksi 2,22%.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading