Internasional

PHK Bank & Maskapai, Pengangguran di AS Tembus Hampir 4 Juta

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
05 October 2020 06:51
Guests tour the displays during the opening celebration of the Statue of Liberty Museum on Liberty Island in New York, U.S., May 15, 2019. REUTERS/Demetrius Freeman

Jakarta, CNBC Indonesia - Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics) melaporkan jumlah pengangguran yang diklasifikasikan sebagai angka kehilangan pekerjaan permanen naik sebanyak 345.000 pada September ke level tertinggi 7 tahun yakni menjadi 3,8 juta.

Itu berarti, apa yang awalnya diharapkan banyak orang hanya sebagai cuti sementara atau kehilangan pekerjaan sementara kini berubah menjadi permanen karena terjadi penutupan bisnis dan efisiensi perusahaan secara besar-besaran di tengah pandemi Covid-19.

Jumlah pasar tenaga kerja yang diawasi ketat oleh pemerintah AS ini naik hampir tiga kali lipat setelah sempat turun ke level terendah dalam 19 tahun terakhir pada Februari lalu, tepat sebelum pandemi meletus di AS.


Lonjakan angka pengangguran secara permanen di AS ini pun memberikan bukti nyata tentang efek dari pandemi Covid-19 di negeri Paman Sam, dan tentunya global.

"Ini pertanda buruk," kata Austan Goolsbee, mantan penasihat ekonomi Presiden Barack Obama, dikutip dari CNN Business, Minggu (4/10/2020).

Ketika warga AS diberhentikan dari pekerjaan, Departemen Tenaga Kerja AS kemudian melakukan klasifikasi status menjadi pemberhentian sementara.

Adapun PHK (pemutusan hubungan kerja) yang diklasifikasikan sebagai PHK permanen adalah pekerja yang baru saja menyelesaikan periode pekerjaan sementara, lalu kehilangan posisinya untuk selamanya, yang berarti pekerjaan tersebut tidak akan kembali lagi.

Persentase penganggur AS yang diklasifikasikan sebagai penganggur permanen naik menjadi 35,6% di September, lebih tinggi dari kenaikan yang dicatatkan pada April lalu sebesar 11,1%.

"Ini sangat mengkhawatirkan, tidak hanya bagi orang-orang ini [penganggur], tetapi juga untuk apa yang dikatakannya tentang pemulihan [ekonomi]," kata Gus Faucher, Kepala Ekonom di PNC, dikutip CNN.

Namun kabar baiknya adalah AS dengan cepat mulai pulih dengan adanya penambahan jumlah pekerjaan baru.

Data pemerintah AS mencatat, ada 661.000 pekerjaan baru bertambah pada September karena lebih banyak bisnis mulai dibuka kembali dan langkah-langkah lockdown demi kesehatan dicabut.

Hanya saja, kabar buruknya adalah bahwa pemulihan pasar tenaga kerja di AS sebetulnya sudah kehilangan momentum, karena efek pandemi terlalu dalam memukul ekonomi.

"Bagian mudah dari pemulihan pasar tenaga kerja sebagian besar sudah di belakang kita sekarang [terlambat]," kata Brian Coulton, Kepala Ekonom Fitch Ratings, dalam sebuah catatan pada Jumat.

Kini, hanya dalam beberapa minggu terakhir, perusahaan besar termasuk Disney, raksasa asuransi AllState dan Raytheon Technologies masing-masing telah mengumumkan ribuan PHK.

Goldman Sachs, bank investasi di AS, juga memangkas ratusan pekerja setelah sebelumnya menghentikan PHK selama pandemi.

Lebih buruk lagi, Kamis mungkin menandai hari terburuk dalam PHK dalam sejarah penerbangan maskapai AS.

Setelah gagal mendapatkan lebih banyak suntikan modal dari pemerintah AS, American Airlines dan United Airlines mengumumkan rencana untuk memangkas total 32.000 karyawan.

"Kerusakan ekonomi kemungkinan akan menjadi lebih jelas pada Q4 karena lebih banyak perusahaan akhirnya mulai menyerah, melaporkan penutupan dan PHK," tulis Seema Shah, Kepala Strategi di Principal Global Investors, dalam catatan kepada kliennya, Jumat.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

AS Terus Provokasi China, Kali Ini Soal Taiwan di WHO


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading