OJK: Perusahaan Raksasa RI Kurangi Penarikan Kredit

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
01 October 2020 14:18
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). (Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan 74 perusahaan kakap cenderung mengurangi nilai baki debet di perbankan dengan nilai penurunan mencapai Rp 61,2 triliun. Penurunan ini sejalan dengan menurunya pertumbuhan kredit dalam waktu tiga bulan terakhir.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pertumbuhan kredit per bulannya sejak Juni hingga Agustus terus mengalami penurunan secara year on year YoY), dimana Juni kredit tumbuh 1,4% YoY, lalu Juli tumbuh 1,53% tapi pada Agustus malah turun menjadi 1,04% YoY.

Baki debet adalah saldo pokok dari plafon pinjaman yang telah disepakati dalam perjanjian kredit dan biasanya akan berkurang jika angsuran rutin dilakukan atau sesuai jadwal pembayaran oleh debitur.


Penurunan nilai kredit ini terutama terjadi pada kredit korporasi yang secara tahunan mengalami kenaikan RP 39,8 triliun atau 1,86% namun secara year to date (ytd) malah turun Rp 53,8 triliun atau 2,41%.

"Di segmen korporasi, kami mencatat terdapat 74 debitur besar dari kelompok 100 debitur besar di bulan Agustus mengalami penurunan baki debet total Rp 61,2T dengan rata-rata turun sebesar 12,9%, dimana yang terbesar adalah PLN Rp 7,2 triliun, Gudang Garam Rp 5,3 triliun, Wilmar Nabati Rp 4,9 triliun, Petrokimia Gresik Rp 4,9 triliun dan Indofood Sukses Makmur Rp 4,4 triliun," kata Wimboh dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (1/10/2020).

Lemahnya permintaan kredit ini berdampak pada membaiknya likuiditas perbankan dengan kondisi loan to deposite ratio (LDR) perbankan hingga Agustus 2020 lalu berada pada posisi 85,11% dimana pada akhir Desember 2019 masih ada di level 94,43% dan pada Juli 2020 pada level 87,76%.

Dari sisi dana pihak ketiga, terjadi pertumbuhan 11,64% YoY. Jumlah ini terus mengalami pertumbuhan dari posisi Juli 2020 yang masih tumbuh 8,53% YoY dan pada posisi Desember 2019 pada 6,54% YoY.

Sementara itu, kondisi kredit bermasalah (non performing loan/NPL) selama enam bulan terakhir juga terus mengalami peningkatan dimana pada posisi Desember 2019 lalu nilai NPL berada pada posisi 2,53%.

Sedangkan sejak Maret sampai Agustus 2020 NPL secara gradually meningkat dari 2,77%, 2,89%, 3,01%, 3,11% dan 3,22% hingga pada Agustus lalu nilai NPL berhasil stagnan pada posisi 3,22%.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading