Gagal Tembus ke US$ 60/Ton, Harga Batu Bara Ambles Lagi

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
28 September 2020 10:07
Coal piles are seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepekan kemarin harga batu bara melesat tinggi tetapi gagal tembus level psikologis US$ 60/ton. Namun harga batu legam untuk kontrak yang aktif diperjualbelikan di bursa ini masih bertengger di level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Pada Jumat (25/9/2020), harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak berjangkanya ditutup ambles 1,67% ke US$ 58,8/ton. Ini merupakan harga tertinggi sejak 14 April silam. Dalam sepekan harga batu hitam ini naik 2,44%. 


Harga komoditas unggulan RI dan Australia ini menguat signifikan sejak minggu pertama September karena ada berbagai sentimen positif yang beredar di pasar. Salah satunya adalah isu kemungkinan pelonggaran kuota impor China.

Wabah Covid-19 yang awalnya merebak di China membuat produksi batu bara domestiknya tertekan. Alhasil Negeri Tirai Bambu harus mengandalkan impor batu bara untuk memenuhi kebutuhan konsumsi listriknya terutama untuk sektor residensial.

Impor batu bara yang jor-joran hingga April membuat China melakukan pengetatan sebulan setelahnya. Apalagi kasus Covid-19 di China dilaporkan sudah berhasil ditangani dan ekonomi Negeri Panda rebound.

Kebutuhan batu bara pun meningkat. Namun ketatnya pasokan dalam negeri membuat harga batu bara domestiknya melonjak tinggi. Selisih harga batu bara termal Qinhuangdao dengan nilai kalori 5.500 Kcal/Kg dengan harga batu bara impor Newcastle Australia untuk kalori yang sama pun sempat terpaut sampai hampir US$ 40/ton pada September.

Mahalnya harga batu bara domestik membuat China mau tak mau harus kembali impor. Hal ini turut mendongkrak permintaan batu bara lintas laut (seaborne) di kawasan Asia Pasifik. Harganya pun ikut terkerek.

Pemerintah China saat ini tengah berjuang untuk menggenjot produksi batu baranya agar harganya turun sehingga laba industri tambang maupun perusahaan utilitasnya tetap terjaga dan mengurangi ketergantungan impor.

Mengingat harga batu bara yang sudah melesat tinggi, bahkan hampir tembus US$ 60/ton, ada kemungkinan harga batu bara bakal terkoreksi untuk pekan ini. Apalagi harga gas alam cair (LNG) sebagai sumber energi primer substitusinya masih terbilang murah. 

Per 25 September, harga gas alam berada di US$ 2,139/mmBtu. Masih 14,51% di bahwa periode yang sama tahun sebelumnya. Harga LNG yang murah berpotensi membuat pelaku industri beralih ke gas ketimbang batu bara.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading