Sepekan Ambrol 9,7%, Harga CPO Bangkit Hari Ini Karena China

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
25 September 2020 12:18
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (CPO) Negeri Jiran menguat pada perdagangan hari ini Jumat (25/9/2020) setelah drop signifikan dalam empat hari perdagangan terakhir secara beruntun. 

Pada 10.40 WIB, harga CPO untuk kontrak pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatif menguat 0,8% ke RM 2.780/ton. Namun dalam sepekan harga CPO telah anjlok 9,7% dari level tertingginya pekan lalu.


Dalam sepekan terakhir ada beberapa sentimen negatif yang membuat harga komoditas unggulan RI dan Negeri Jiran ini menukik tajam. Pertama adalah harga minyak nabati global yang terus melorot.

Kemudian adanya proyeksi peningkatan output seiring dengan memasuki periode musim puncak produksi September-November di dua negara produsen terbesar dunia yaitu Indonesia dan Malaysia.

Reuters melaporkan output untuk periode 20 hari pertama bulan ini diperkirakan bakal naik 5% dibanding periode yang sama bulan sebelumnya.

Menambah sentimen negatif adalah kondisi perpolitikan Malaysia yang sedang diwarnai dengan kisruh. Drama politik Malaysia memasuki babak baru. Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim mengatakan pemerintahan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin telah jatuh.

Dirinya mengklaim sudah mengantongi suara mayoritas di Parlemen untuk membentuk pemerintahan. Audiensi bahkan akan dilakukan dengan Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah, untuk pengesahan.

Klaim itu muncul kurang dari tujuh bulan setelah Muhyiddin berkuasa. Muhyiddin menjadi PM setelah kekacauan politik yang menyebabkan runtuhnya pemerintahan Mahathir Mohamad.

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin memberikan konfirmasi secara resmi bahwa dirinya masih pemimpin pemerintahan yang sah. Klaim oposisi Anwar Ibrahim, ujarnya, masih harus dibuktikan dengan metode Konstitusi Federal.

Namun di tengah banyaknya sentimen negatif yang beredar terselip kabar positif yaitu adanya kemungkinan impor minyak sawit yang lebih besar dari China. Bloomberg melaporkan China memesan 21 kargo yang memuat minyak sawit pekan lalu.

Persediaan minyak sawit diperkirakan sebesar 320 ribu ton atau turun 230 ribu ton dari tahun sebelumnya.  Impor minyak sawit China September tercatat mencapai 550 ribu ton sementara untuk bulan Oktober diperkirakan mencapai 600 ribu ton.

Pengiriman kemungkinan akan masih melanjutkan kenaikannya menjadi 650 ribu ton di bulan November. Angka proyeksi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan impor 500 ribu ton di bulan Juli.

Selain China, India sebagai importir terbesar di dunia juga diperkirakan bakal membeli lebih banyak minyak sawit jelang festival Diwali. Apalagi di tengah penurunan harga seperti sekarang ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading