IHSG Ambruk, Sri Mulyani Sebut RI Resesi & Ada FinCEN Leak

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
22 September 2020 11:55
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama Selasa (22/9/20) ditutup anjlok 0,87% di level 4.955,99. Skandal bank raksasa yang diduga terlibat pencucian uang dan rencana lockdown di Eropa menjadi sentimen negatif bagi pelaku pasar global memburuk turut memukul IHSG.

Selain itu, Indonesia juga kemungkinan besar masuk ke jurang resesi setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan proyeksi pertumbuhan kuartal III-2020.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih Rp 292 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 3,7 triliun.


Net sell asing pada perdagangan hari ini sebenarnya tergolong kecil, sebab dalam beberapa hari terakhir investor asing sering keluar dari bursa saham lokal hingga senilai Rp 1 triliun per hari.

Meskipun tekanan jual asing merendah, ketakutan investor lokal yang diakibatkan oleh banyaknya sentimen buruk pada perdagangan hari ini sudah cukup untuk membuat IHSG ambruk.

Saham yang paling banyak dilego asing hari ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan jual bersih Rp 160 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatatkan net sell Rp 51 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak di koleksi asing hari ini adalah PT Astra Internasional Tbk (ASII) dengan beli bersih Rp 12 miliar dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan net buy Rp 7 miliar.

Selanjutnya bursa di kawasan Asia terpantau anjlok, Hang Seng Index di Hong Kong turun 0,26%, Indeks SSE di China anjlok 0,12%, sedangkan Indeks STI di Singapura terdepresiasi 0,67%.

Beralih ke bursa saham New York, dini hari tadi tiga indeks utama Wall Street berdarah menyusul bursa Eropa yang ambruk sekitar 3%. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok 1,8%. Untuk indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing terdepresiasi 1,1% dan 0,13%.

Sentimen negatif juga datang dari Eropa, Inggris kabarnya akan kembali melakukan karantina wilayah (lockdown) akibat jumlah kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19).

CNBC International yang mengutip BBC melaporkan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dikabarkan mempertimbangkan untuk kembali lockdown untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Rencana tersebut kembali mengemuka setelah Inggris melaporkan lebih dari 4.000 kasus baru virus corona pada hari Minggu lalu.

Inggris tidak sendirian, banyak negara-negara Eropa mengalami peningkatan kasus yang signifikan setelah kebijakan lockdown dilonggarkan.

Sementara itu skandal perbankan global mencuat setelah FinCEN Files yang berisi sekumpulan dokumen penting nan rahasia di dunia perbankan dan keuangan, bocor ke publik. Dokumen itu berisi 2.500 lembar halaman, sebagian besar adalah file yang dikirim bank-bank ke otoritas Amerika Serikat (AS) antara tahun 1999 sampai 2017.

Di dalam file tersebut terdapat skandal penggelapan dana hingga pengemplangan pajak dari lembaga keuangan besar dunia. Terdapat penjelasan soal bagaimana beberapa bank terbesar di dunia mengizinkan kriminal mentransaksikan "uang kotor" ke seluruh dunia dan nilainya mencapai sekitar US$ 2 triliun

Ada 5 bank besar yang disebut dalam file tersebut, HSBC, JPMorgan Chase, Deutsche Bank, Standard Chartered dan Bank of New York Mellon.
CNBC International yang mengutip radio Jerman, Deutsche Welle melaporkan Deutche Bank dicurigai memfasilitasi lebih dari setengah nilai transaksi tersebut.

Sementara itu dari dalam negeri, sentimen yang datang dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan resesi yang terjadi di kuartal III-2020.

"Kemenkeu yang tadinya melihat ekonomi kuartal III minus 1,1% hingga positif 0,2%, dan yang terbaru per September 2020 ini minus 2,9% sampai minus 1,0%. Negatif teritori pada kuartal III ini akan berlangsung di kuartal IV. Namun kita usahakan dekati nol," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita September, Selasa (22/9/2020).

Berikut outlook dari Sri Mulyani pada Kuartal III-2020 :

  • Konsumsi Rumah Tangga : Kontraksi Minus 3% sampai minus -1,5%
  • Konsumsi Pemerintah: Positif 9,8%-17%
  • Investasi : Kontraksi -8,5% sampai -6,6%
  • Ekspor : Kontraksi -13,9% sampai -8,7%
  • Impor : Kontraksi -26,8% sampai -16%.

"Secara keseluruhan tahun 2020, proyeksi Kemenkeu antara minus 1,7% sampai minus 0,6%," kata Sri Mulyani.

Untuk diketahui ekonomi kuartal I-2020 masih positif di 2,97% sementara ekonomi di kuartal II-2020 minus 5,32%. 
Jika terjadi dua kuartal berturut-turut ekonomi negatif atau kontraksi maka Indonesia masuk resesi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading