IHSG Anjlok 1% Gegara Isu BI, Ada yang Bisa Tenangkan ?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
21 September 2020 15:32
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Kamis 26/3/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan Senin (21/9/20) tertekan yakni turun 1,18% di level 4.999,36 setelah isu independensi Bank Indonesia (BI) kembali santer.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 249 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 6,8 triliun.

Saham yang paling banyak dilego asing hari ini adalah PT Astra Internasional Tbk (ASII) dengan jual bersih sebesar Rp 29 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 91 miliar.


Sementara itu saham yang paling banyak di koleksi asing hari ini adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan beli bersih sebesar Rp 65 miliar dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan net buy sebesar Rp 26 miliar.

Sentimen dari dalam negeri soal Bank Indonesia (BI) yang akan kembali menjadi pengawas industri perbankan. Kabar ini kembali muncul di pasar. Bahkan, kabar terbaru menyebutkan perubahan payung hukum tersebut tak lama lagi dibahas pemerintah bersama DPR.

Pembahasan terkait kewenangan BI sebagai otoritas moneter belakangan menjadi sorotan pelaku pasar. Pasalnya saat pandemi seperti ini, pergeseran fungsi kelembagaan sangat sensitif bagi pelaku pasar. 

Selanjutnya bursa di kawasan Asia terpantau bervariatif,Hang Seng Index di Hong Kong ambles 2,06%, sedangkan Indeks STI di Singapura terdepresiasi 0,50%, dan Indeks SSE di China turun 0,63%.

Reuters melaporkan bahwa bank-bank raksasa di Asia seperti HSBC dan Standard Chartered telah mengelola dana mencurigakan tersebut dalam dua decade terakhir. Laporan tersebut mengutip dokumen rahasia yang diajukan bank ke pemerintah AS, dan langsung dibantah oleh beberapa bank tersebut.

"Kami tidak mengomentari berita mengenai aktivitas mencurigakan," tutur HSBC dalam pernyataan resminya kepada CNBC.

Sementara itu, Standard Chartered dalam pernyataannya menyebutkan bahwa dalam realitasnya akan selalu ada upaya mencuci uang dan menghindari sanksi, dan perlu "tanggung-jawab untuk memerangi kejahatan finansial dengan sangat serius."

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading