Harga Emas Bakal Tembus Rp1,9 Juta/gram, Kapan?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 September 2020 06:40
A wedding ring made from Welsh Gold is seen on display at the Clogau office in Bodelwyddan, North Wales, Britain, March 12, 2018. Picture taken March 12, 2018. REUTERS/Phil Noble Foto: REUTERS/Phil Noble

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia masih bergerak volatil kendati masih dalam tren menguat dan menuju US$ 2.000/troy ons. Kenaikan harga emas dunia pada Rabu kemarin (16/9/2020) juga terjadi di tengah rencana pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang diumumkan Kamis dini hari.

Melansir data Refinitiv, pada pukul 17:12 WIB Rabu kemarin, harga emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.965,96/troy ons di pasar spot.

Meski belum sanggup lagi mencapai US$ 2.000/troy ons, namun Bloomberg Intelligence memprediksi harga emas masih akan terus menguat bahkan tidak menutup kemungkinan mencapai US$ 4.000/troy ons di tahun 2023.


Selain itu, Bloomberg Intelligence juga menyatakan pergerakan harga emas juga diprediksi akan lebih unggul dari perak yang belakangan ini juga mencuri perhatian pelaku pasar.

"Kondisi saat ini, di mana bank sentral terus menerapkan kebijakan moneter longgar menjadi fondasi yang solid bagi emas, tetapi kurang berdampak untuk perak dan tembaga. Logam untuk industri lebih terkait dengan stimulus fiskal dan bangkitnya perekonomian ekonomi global," kata Mike McGlone, ahli strategi senior komoditas di Bloomberg Intelligence, sebagaimana dilansir Kitco, dikutip Kamis (17/9/2020).

McGlone mengatakan reli harga emas baru saja dimulai, artinya kenaikan harga emas masih akan terus berlanjut.

"Emas mencapai dasar (bottom) di US$ 700 pada tahun 2008, dan mencapai puncak US$ 1.900 pada tahun 2019. Dengan kecepatan yang sama 2,7 kali dari level terendah di dekat US$ 1.470 tahun ini menunjukkan emas menuju US$ 4.000/troy ons di tahun 2023," katanya.

Meski McGlone memberikan outlook optimistis terhadap emas, tetapi ia juga memperingatkan level US$ 2.000/troy ons terbukti menjadi resisten (batas tahanan atas) yang kuat. Sehingga akan memerlukan waktu agak lama untuk menembus level tersebut.

Sebagai catatan, 1 troy ons, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram, sehingga besaran US$ 4.000 per troy ons dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 128.62 per gram. Dengan asumsi kurs rupiah Rp 14.800/US$, maka prediksi harga emas tahun ini bisa menembus Rp 1,9 juta/gram.

Sebelumnya beberapa pihak juga memprediksi harga emas global. Prediksi pertama datang David Roche, Presiden dan ahli strategi global di Independent Strategy yang berbasis di London. Pertengahan tahun lalu, dia memprediksi harga emas dunia bisa mencapai US$ 2.000/troy ounce.

Prediksi kedua dari Bank of America Merrill Lynch (BoA) yang memperkirakan harga emas dunia bakal menembus US$ 1.500 per troy ounce (oz) di tahun lalu dan sudah tercapai, lalu tahun ini bisa menembus US$ 2.000/troy ons dan sudah tercapai ketika emas global menyentuh level tertingginya US$ 2.072/troy ons pada 7 Agustus lalu.

Masih dari sentimen luar negeri, bos bank sentral AS, The Fed, Jerome Powell, pada Kamis (27/8/2020) malam mengubah pendekatannya terhadap target inflasi.

Sebelumnya The Fed menetapkan target inflasi sebesar 2%, ketika sudah mendekatinya maka bank sentral paling powerful di dunia ini akan menormalisasi suku bunganya, alias mulai menaikkan suku bunga.

Kini The Fed menerapkan "target inflasi rata-rata" yang artinya The Fed akan membiarkan inflasi naik lebih tinggi di atas 2% "secara moderat" dalam "beberapa waktu", selama rata-ratanya masih 2%.

Dengan "target inflasi rata-rata" Powell mengatakan suku bunga rendah bisa ditahan lebih lama lagi.

Tim Riset CNBC Indonesia menilai, suku bunga rendah yang ditahan dalam waktu yang lama tentunya berdampak negatif bagi dolar AS, dan dapat mendorong kenaikan harga emas dunia.

Sejak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, US$ 2.072,49/troy ons 7 Agustus lalu, emas berbalik merosot, dan tidak pernah lagi kembali ke atas level US$ 2.000/troy ons.

Emas juga bergerak dengan volatilitas tinggi, artinya naik-turun secara signifikan dalam waktu singkat, beberapa pekan terakhir. Namun beberapa pekan terakhir volatilitas emas cenderung merendah dan harganya menurun, tetapi masih mampu bertahan di atas US$ 1.900/troy ons.

Melansir situs resmi logammulia.com, emas Antam satuan 1 gram dibanderol Rp 1.030.000/batang, turun Rp 7.000 atau 0,68%. Sementara satuan 100 gram yang biasanya menjadi acuan di hargai Rp 97.212.000/batang atau Rp 972.120/gram, turun 0,71%.

Harga emas dunia pada perdagangan Selasa sebenarnya turun tipis 0,04% ke US$ 1.955,52/troy ons. Tetapi rupiah yang menguat melawan dolar AS membuat harga emas dunia menjadi lebih murah, sehingga menyeret harga emas Antam.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading