Dikebut, Holding Garuda-Angkasa Pura Bakal Rampung Q2-2022

Market - Muhamma Choirul Anwar, CNBC Indonesia
16 September 2020 16:37
Wakil Menteri (Wamen) BUMN, Kartika Wirjoatmodjo (CNBC Indonesia/Anisatul Umah) Foto: Wakil Menteri (Wamen) BUMN, Kartika Wirjoatmodjo (CNBC Indonesia/Anisatul Umah)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana konsolidasi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor aviasi dan pariwisata kian tampak segera terealisasi. Bahkan, pembentukan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pariwisata dan aviasi ini ditargetkan tuntas pada 2020.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengaku belum lama ini membahas rencana konkret mengenai konsolidasi tersebut.

"Baru saja saya diskusi mengenai holding aviasi dan pariwisata. Kita mengintegrasikan Garuda, Angkasa Pura, ITDC, HIN, menjadi satu holding," katanya dalam HSBC Economic Forum bertajuk 'Orchestrating the next move: Transforming Indonesia into Asia's next supply chain hub' yang berlangsung secara virtual, Rabu (16/9/2020).


Perusahaan BUMN yang dimaksud yakni PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), PT Angkasa Pura I dan II, dan PT Hotel Indonesia Natour (HIN).

"Di 2021 sampai Q2-2022 kita harapkan bisa melakukan restrukturisasi portofolio secara lebih efektif. Ini diharapkan setelah holding ini efektif dan klasternya terjadi di 2022, orkestrasi dari konektivitas udara untuk men-generate arus pariwisata ini bisa berjalan," kata Wamen yang akrab disapa Tiko ini.

"Ini tentunya juga inovasi-inovasi dari sisi model bisnis yg diharapkan bukan hanya memberikan value ke BUMN tp bisa men-create economic growth tambahan bagi Indonesia usai Covid nanti."

Secara umum, dia menjelaskan bahwa restrukturisasi BUMN tengah digencarkan. Dikatakan, terdapat proses yang rumit dan kompleks, sehingga perlu pembagian berdasarkan tahapan-tahapan.

"Yaitu sampai dengan 2021 akhir ini fase survival dan going concern. Di mana memang fokusnya menyelesaikan permasalahan terkait keuangan dan kemudian membantu pemulihan Covid-19," kata mantan Dirut PT Bank Mandiri Tbk ini.

Pada fase ini, di saat yang sama pihaknya juga melakukan klasterisasi untuk memperkuat sinergi dan fokus core competence di masing-masing BUMN. Fase berikutnya di tahun 2021-2022, diharapkan harapkan perusahaan BUMN bisa melakukan restrukturisasi portofolio secara lebih efektif.

"Jadi ini tentunya menjadi inovasi inovasi dari sisi model bisnis yang diharapkan bisa bukan hanya memberikan value bagi BUMN, tapi juga meng-create economic growth tambahan bagi Indonesia pasca Covid nanti," tandasnya.

Apalagi, menurutnya saat ini supply chain di Indonesia memang belum ideal. Karenanya, dia juga fokus di beberapa sektor yang sangat berpengaruh, khususnya farmasi kesehatan dan pangan.

"Ini kita dorong adalah supply chain-nya lebih terintegrasi ke depan. Oleh karena itu kita perbaiki supply chain di Kimia Farma, Indofarma, Bio Farma. Termasuk kita mengintegrasikan rumah sakit IHC [Indonesia Healthcare Corporationmenjadi satu holding," paparnya.

Dengan begitu, diharapkan layanan farmasi diharapkan memberikan layanan yang lebih baik, efisien dan benar-benar membantu pemerintah menangani permasalahan kesehatan ke depan.

"Di sisi pangan kita juga mengintegrasikan para pemain pangan antar BUMN, Bulog, PT RNI, PTPN, Berdikari, sehingga diharapkan kebutuhan kebutuhan dasar di Indonesia untuk pangan bisa terbantu dengan biaya yang cukup murah dan kompetitif," tuturnya.

Langkah itu diharapkan juga menjadi salah satu backbone kontribusi BUMN untuk menghadirkan food security dan health security di Indonesia. Sejalan dengan itu secara khusus pihaknya juga membangun integrasi untuk penanggulangan Covid-19.

"Ada dua aspek. Pertama dari sisi aspek pelayanan kesehatan di bawah Indonesia Healthcare Corporation yaitu rumah sakit BUMN dan dari sisi persiapan pembuatan vaksin Covid yang di-drive di Bio Farma," urainya.

Di sisi lain pihaknya juga melakukan financials stress testing dan restrukturisasi keuangan secara massif. Langkah ini diterapkan terhadap Garuda dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) misalnya, yang memang mengalami persoalan keuangan.

"Kami tidak memungkiri bahwa memang dalam kondisi Covid maupun sebelum Covid beberapa BUMN mengalami tantangan keuangan karena leverage yang cukup tinggi di masa lalu. Nah ini tentunya juga menjadi bagian penting dari proses perbaikan reformasi keuangan di BUMN," ucapnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading