Tunggu Data Ekspor-Impor, Dolar Singapura Turun ke Rp 10.881

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 September 2020 11:42
FILE PHOTO: A Singapore dollar note is seen in this illustration photo May 31, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo Foto: Dolar Singapura (REUTERS/Thomas White)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Singapura melemah melawan rupiah pada perdagangan Rabu (16/9/2020), meski masih berada di dekat level tertinggi dalam lebih dari 4 bulan terakhir.

Pelaku pasar menanti rilis data ekspor-impor Singapura yang akan dirilis Kamis besok.

Pada pukul 11:15 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.881,55, dolar Singapura melemah 0,16% di pasar spot, melansir data Refinitiv.


Pada bulan Agustus lalu, ekspor non minyak Singapura membukukan kenaikan 6% year-on-year (YoY), sementara secara month-on-month (MoM) mencatat kenaikan sebesar 1,2%. Kenaikan secara bulanan tersebut menjadi yang pertama setelah merosot dalam 3 bulan terakhir.

Ekspor menjadi krusial bagi Singapura, sebab sangat berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi.

Pada 2019, rasio ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura adalah 104,91%. Singapura menjadi negara dengan rasio ekspor terhadap PDB terbesar di dunia.

Bahkan dengan rasio yang sangat tinggi itu sebenarnya sudah turun. Sudah jauh dibandingkan posisi puncak pada 2006 yang mencapai 183,8%.

Ketika ekspor merosot, maka PDB pun berkontraksi, akibatnya Singapura mengalami resesi di kuartal II-2020 lalu. Data dari Pemerintah Singapura menunjukkan di kuartal II-2020 lalu, PBD mengalami kontraksi 12,6% YoY, sementara di kuartal I-2020 minus 0,3% YoY, sehingga sah mengalami resesi.

Di sisi lain, rupiah sedang mendapat tenaga dari membaiknya sentimen pelaku pasar merespon perkembangan vaksin virus corona.

AstraZaneca dan Universitas Oxford melanjutkan tahap uji coba vaksin setelah pekan lalu sempat terhenti.

Sementara Pfizer dan BioNTech berencana memperluas uji coba tahap III dengan menggandeng 44.000 orang relawan. "Keberagaman dalam uji coba klinis adalah prioritas Pfizer.

Apalagi dampak pandemi virus corona berbeda- beda untuk setiap komunitas di AS," kata John Young, Chief Business Officer Pfizer, seperti dikutip oleh Reuters.

Saat sentimen sedang membaik, maka investor akan mengalirkan modalnya ke negara emerging market, dan rupiah pun mendapat rejeki.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading