Pekan Lalu Terbang 7,4%, Begini Masa Depan Harga Batu Bara

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
14 September 2020 11:12
Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal Newcastle melesat signifikan pada perdagangan pekan lalu. Harga batu legam tersebut menguat mendekati level tertingginya dalam sebulan terakhir.

Harga batu bara kontrak berjangka naik 7,44% dalam sepekan kemarin ke US$ 54,15/ton. Level tersebut merupakan harga tertinggi sejak 4 Agustus lalu yang berada di US$ 54,2/ton.


Kenaikan harga batu bara yang tajam terjadi lantaran harga kontrak futures-nya sudah terlampau murah. Harga terendah yang tercatat di bulan September berada di US$ 49,9/ton pada Senin (7/9/2020).

Harga batu bara ambrol sejak April saat sebagian besar wilayah bumi 'dikunci' untuk menekan penyebaran kasus infeksi Covid-19.

Negara-negara konsumen batu bara terbesar di Asia seperti India bahkan menerapkan lockdown nasional, sementara Negeri Sakura dan Negeri Ginseng juga menerapkan pembatasan sosial untuk menekan angka infeksi Covid-19 di negaranya. 

Lockdown menimbulkan konsekuensi berupa penurunan konsumsi listrik terutama dari sektor industri dan komersial. Penurunan konsumsi listrik juga menurunkan permintaan batu bara. Apalagi di masa pandemi banyak negara yang memanfaatkan momentum untuk mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.

Mengutip data Refinitiv, impor batu bara China pada Januari-Agustus 2020 adalah 183,2 juta ton. Turun 4,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian impor batu bara India selama delapan bulan pertama 2020 adalah 113,48 juta ton. Anjlok 18,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan impor batu bara Korea Selatan dalam periode Januari-Agustus 2020 adalah 71,01 juta ton. Ambles 21% ketimbang periode yang sama pada 2019. 

Beban puncak harian di Korea Selatan mengalami penurunan tajam pada bulan September di tengah cuaca yang tidak sesuai musimnya. Namun gangguan di seluruh armada nuklir setelah dua topan melanda Negeri K-POP membuat harga batu bara Newcastle mengalami kenaikan.

Argus Media melaporkan, Topan Maysak dan Haishen secara tak terduga membuat pembangkit listrik tenaga nuklir dengan kapasitas 5.3GW di Korea Selatan menjadi off line pada awal September.

Kekurangan nuklir kemungkinan telah menarik kapasitas batu bara tambahan ke dalam tumpukan pembangkit bulan ini.

Namun satu sumber dari perusahaan utilitas Korea Selatan mengatakan bahwa permintaan gas mungkin akan lebih terpengaruh karena ada lebih sedikit kapasitas batu bara yang tidak terpakai untuk menanggapi gangguan jangka pendek daripada gas.

"Ketiadaan faktor pendorong yaitu permintaan membuat sulit memperkirakan harga bisa rebound lagi. Sepertinya harga akan berkutat di level yang sekarang," tulis kolumnis Reuters Clyde Russell.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading