IHSG Babak Belur, Ini yang Akan Dilakukan BEI

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
10 September 2020 13:22
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan masih belum akan menambah kebijakan baru untuk mengantisipasi kondisi pasar setelah pemerintah provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai awal pekan depan.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan kebijakan yang diterapkan bursa saat ini masih dalam penyesuaian kondisi pandemi sehingga dinilai belum ada kebijakan tambahan yang perlu diterapkan.

"Belum. Kondisi market masih dalam kondisi pandemi terutama dari jam operasional yang belum diubah ke normal," kata Laksono kepada CNBC Indonesia, Kamis (10/9/2020).


Sementara itu, beberapa waktu lalu BEI kembali menerapkan kebijakan untuk pra pembukaan (pre-opening). PemberlakuanĀ kebijakan ini dilakukan kendati kondisi market saat ini kembali berfluktuasi.

Laksono menilai pemberlakuan kembali PSBB ini diperlukan untuk mengontrol penularan Covid-19, terutama di wilayah DKI Jakarta.

"Wajar reaksi pasar terhadap PSBB ini," imbuh dia.

Setelah Gubernur Anies Baswedan mengumumkan untuk kembali menerapkan PSBB mulai 14 September 2020 nanti, hal ini direspons negatif oleh pelaku pasar.

Bahkan, pada sesi I perdagangan telah dihentikan sementara (trading halt) tepatnya pukul 10:36:18 waktu JATS yang dipicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 5%.

Hal ini dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.

"Perdagangan akan dilanjutkan pukul 11:06:18 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan," tulis keterangan BEI.

Sebelumnya, Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan sentimen akan datang dari kebijakan pemerintah DKI Jakarta yang kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). PSBB total ini tentu akan memberikan impact negative terhadap pasar modal dalam negeri, baik saham maupun obligasi.

Namun demikian, sekuritas ini melihat kali ini pelaku pasar dan investor diperkirakan lebih siap menerima hal tersebut, sehingga penurunan mungkin akan terjadi namun dengan persentase yang lebih rendah sembari pelaku pasar dan investor mengamati dan mencermati perkembangan selanjutnya.

"Ada potensi perpindahan dana dari saham karena asset yang memiliki nilai resiko yang lebih besar kepada obligasi dengan tingkat resiko yang lebih kecil. Namun dengan adanya PSBB total yang diberlakukan kembali ada kemungkinan pasar obligasi juga mengalami kenaikan imbal hasil hari ini sebagai bentuk kompensasi kenaikan risiko," tulis sekuritas tersebut, Kamis (10/9/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading