'Obligasi Sampah' Kebanjiran Peminat, Aman Nggak Nih?

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
09 September 2020 12:47
FILE PHOTO: A U.S. Dollar note is seen in this June 22, 2017 illustration photo.   REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CBC Indonesia - Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) memaksa pemerintah dan bank sentral bekerja keras. Untuk mengatasi wabah virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini, berbagai upaya dilakukan bahkan yang tidak biasa sekalipun.

Pemerintah di berbagai negara menggelontorkan stimulus fiskal dalam jumlah besar untuk mengatasi dampak pandemi baik di sisi kesehatan, sosial, sampai ekonomi. Stimulus fiskal di seluruh dunia untuk penanganan pandemi virus corona sudah melampaui jumlah yang digelontorkan saat krisis keuangan global 2008-2009.

stimulusMcKinsey


Tidak hanya otoritas fiskal, bank sentral pun getol memberi 'rangsangan' bagi perekonomian. Selain suku bunga rendah, otoritas moneter juga 'menyiram' likuiditas ke perekonomian agar sektor keuangan dan sektor rill bisa semarak lagi.

Misalnya di Amerika Serikat (AS). Bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menurunkan suku bunga acuan ke titik terendah sejak krisis keuangan global. Plus, bank sentral paling berpengaruh di dunia itu juga 'mengguyur' likuiditas baik dalam bentuk operasi moneter, currency swap dengan negara-negara lain, pembelian obligasi korporasi, hingga menyalurkan kredit ke dunia usaha.

Bank sentral Uni Eropa (ECB) juga melakukan hal serupa. Bank sentral yang dipimpin Christine Lagarde itu getol memborong obligasi. Tengah tahun ini, ECB menambah anggaran untuk pembelian aset sebanyak EUR 600 miliar sehingga total stimulus moneter yang digelontorkan mencapai EUR 1,35 triliun.

Peminat Junk Bond Membludak
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading