Internasional

Biden Sebut AS Masuk Era Kegelapan di Bawah Trump, Apa Benar?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 August 2020 19:12
Democratic U.S. presidential candidates Senator Amy Klobuchar, Senator Cory Booker, South Bend Mayor Pete Buttigieg, Senator Bernie Sanders, former Vice President Joe Biden, Senator Elizabeth Warren, Senator Kamala Harris, entrepreneur Andrew Yang, former Rep. Beto O'Rourke and former Housing Secretary Julian Castro at the 2020 Democratic U.S. presidential debate in Houston, Texas, U.S. September 12, 2019. REUTERS/Mike Blake

Jakarta, CNBC Indonesia - Joseph Robinette Biden Jr. atau Joe Biden resmi menjadi calon Presiden Amerika Serikat (AS) yang diusung oleh Partai Demokrat. Joe Biden yang merupakan mantan Wakil Presiden periode 2009-2017 itu akan menantang petahana dari Partai Republik, Donald Trump.

Dalam pidatonya, Biden menyebut AS berada di "zaman kegelapan" di bawah pemerintahan Presiden Trump.

"Presiden saat ini telah terlalu lama menyelubungi Amerika Serikat dalam kegelapan. Terlalu banyak amarah. Terlalu banyak ketakutan. Terlalu banyak perpecahan," kata Biden saat berpidato pada Kamis (20/8/2020) malam waktu setempat.


Ia berjanji akan membawa Negeri Adikuasa keluar dari "zaman kegelapan" tersebut.

"Semoga sejarah dapat mencatat akhir dari bab kegelapan Amerika Serikat dimulai di sini mala mini saat cinta dan harapan dan cahaya bergabung dalam perjuangan untuk jiwa bangsa" kata Biden.

Benarkah AS kini masuk dalam "zaman kegelapan"?

Dilihat dari sisi ekonomi, kondisi Amerika Serikat sebenarnya cukup bagus di era Presiden Trump, setidaknya dilihat dari pertumbuhan ekonomi serta pasar tenaga kerja.

Yang pertama produk domestik bruto (PDB), memang di tahun ini AS mengalami resesi, tetapi kontraksi ekonomi dalam 2 kuartal beruntun tersebut terjadi di banyak negara.

Penyebabnya, pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat pemerintah menerapkan kebijakan karantina (lockdown) untuk menghentikan poenyebarannya. Dampaknya, roda perekonomian melambat, bahkan nyaris mati suri.

Tetapi jika melihat ke belakang, di tahun 2018 atau tahun kedua Trump menjabat orang nomor 1 di AS, tercatat tumbuh 3%, sedikit di bawah 3,1% pada tahun 2015 atau pada era Presiden Barrack Obama. Untuk diketahui, pertumbuhan 3,1% tersebut merupakan yang tertinggi selama 2 periode Obama menjabat Presiden AS.

Reformasi pajak yang dilakukan Trump di akhir tahun 2017 menjadi salah satu pemicu melesatnya pertumbuhan ekonomi AS.

Dalam undang-undang yang dinamai yang dinamakan 2017 Tax Cuts and Jobs Act (TCJA), Presiden Trump memangkas pajak korporasi menjadi 21% dari sebelumnya 35%. Untuk pajak perorangan, dipangkas menyesuaikan dengan pendapat per tahun. Reformasi pajak yang dilakukan Presiden AS ke-45 ini merupakan yang terbesar dalam 30 tahun terakhir.

Kebijakan pemangkasan pajak tersebut memberikan 2 efek, dalam jangka panjang memberikan insentif untuk korporasi sehingga akan meningkatkan investasi, dan dalam jangka pendek mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat rumah tangga membayar pajak lebih rendah, artinya memiliki lebih banyak uang untuk melakukan konsumsi.

Analisis dari Tax Policy Center menunjukkan bahwa secara rata-rata, rumah tangga di AS menghemat sekitar US$ 1.300 dalam pembayaran pajak individu pada tahun 2018.

Konsumsi rumah tangga merupakan tulang punggung perekonomian AS yang berkontribusi sekitar 70% dari PDB AS. Oleh karenanya, PDB AS melesat di tahun 2018.

Sementara di tahun 2019, PDB melambat menjadi 2,2%. Salah satu penyebab utamanya yakni kebijakan proteksionisme a la Presiden Trump. Kebijakan tersebut memicu perang dagang AS dengan China.

Akibatnya tidak hanya AS, pelambatan ekonomi bahkan terjadi secara global akibat perang dagang kedua negara.

Meski perekonomian AS melambat akibat kebijakan tersebut, tetapi pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan kekuatan. Pada bulan Februari lalu tingkat pengangguran AS mencapai 3,5%, menjadi yang terendah sejak tahun 1969. Tidak hanya itu, tingkat pengangguran untuk warga Afrika-Amerika, Hispanik-Amerika, dan Asia-Amerika juga mencapai rekor terendah di era Trump.

Tetapi sekali lagi, pandemi Covid-19 membuat tingkat pengangguran AS kembali melonjak.

Pada bulan April, tingkat pengangguran AS mencapai 14,7%, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Data terbaru di bulan Juli menunjukkan tingkat pengangguran turun menjadi 10,2%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading