Katanya Rupiah Murah, Kok Masih Dibuang Investor?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 August 2020 11:02
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ini memang banyak tanggal merah sehingga menyisakan dua hari waktu perdagangan saja. Dengan periode perdagangan yang sempit rupiah di pekan ini masih mencatatkan pelemahan.

Pada posisi Jumat pekan lalu (14/8/2020) nilai tukar rupiah berada di Rp 14.720/US$ di pasar spot. Di pekan ini rupiah ditutup di level Rp 14.770/US$ atau melemah 0,34%.

Survei terbaru yang dirilis Reuters menunjukkan bahwa investor mulai mengurangi posisi jual (short) terhadap rupiah. Namun investor masih belum mengambil posisi beli (long) terhadap mata uang Tanah Air.


Survei dari Reuters tersebut menggunakan rentang -3 sampai 3. Angka positif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) terhadap dolar AS dan jual (short) terhadap rupiah, begitu juga sebaliknya.

Hasil survei yang dirilis pada Kamis (20/8/7/2020), menunjukkan angka 0,43 turun tipis dibandingkan hasil survei sebelumnya 0,45. Angka yang masih positif mengindikasikan investor masih mengambil posisi long terhadap dolar greenback.

Di sisi lain, investor sudah mengambil posisi long mata uang utama Asia lainnya, sehingga rupiah menjadi satu-satunya mata uang yang tidak diminati. Baht Thailand pada survei yang dirilis 23 Juli lalu masih menemani rupiah menjadi mata uang Asia yang "dibuang", tetapi posisi tersebut sudah berbalik dalam 2 rilis survei terakhir. 

Dalam survei tersebut, alasan investor masih belum tertarik terhadap rupiah adalah Bank Indonesia (BI) yang diprediksi masih akan menurunkan suku bunga acuannya lagi di tahun ini. Kala suku bunga diturunkan, yield Surat Berharga Negara (SBN) juga akan menurun, sehingga daya tarik investasi menjadi memudar.

Penurunan suku bunga acuan memang akan diikuti oleh penurunan imbal hasil pada surat utang pemerintah, sehingga hal ini cenderung membuat minat investasi menjadi turun.

Namun ke depan BI mensinyalkan tak akan menurunkan lagi suku bunga acuan setelah membabat BI 7 Day Reverse Repo Rate 100 basis poin (bps) sepanjang tahun ini. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir, BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di angka 4%.

Ketika BI tak lagi menurunkan suku bunga acuan, maka imbal hasil dari surat utang pemerintah diharapkan masih dapat tinggi sehingga akan memicu aliran masuk dana asing. 

Saat ini yield obligasi rupiah pemerintah RI bertenor 10 tahun berada di angka 6,73%. Masih ada selisih (spread) dengan obligasi pemerintah AS dengan tenor yang sama sebesar 600 basis poin, sehingga masih tergolong lebih menarik.

Apalagi saat ini inflasi sedang rendah. Bahkan di bulan Juli malah terjadi deflasi 0,1% dibanding bulan sebelumnya. Dengan inflasi inti tahun kalender berada di angka 1,03% dan secara year on year 2,07%, imbal hasil riil obligasi RI masih jauh lebih baik daripada AS.

Namun hingga minggu kedua bulan Agustus, BI masih mencatat adanya aliran modal keluar (outflow). Berdasarkan data transaksi 10-13 Agustus 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp4,74 triliun, dengan jual neto di pasar SBN sebesar Rp3,98 triliun dan jual neto di pasar saham sebesar Rp0,76 triliun.

Berdasarkan data setelmen selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp148,19 triliun.

Melihat fundamental rupiah yang lain, yakni dari sisi neraca pembayaran Indonesia (NPI). Berkurangnya defisit neraca dagang (CAD) menjadi -1,2% PDB di kuartal kedua serta surplusnya transaksi modal dan finansial membuat NPI surplus US$ 9,2 miliar.

Cadangan devisa juga bertambah dengan adanya stabilitas eksternal yang didukung dengan penerbitan global bond oleh pemerintah di angka US$ 135 miliar pada Juli lalu. Sehingga amunisi untuk stabilisasi rupiah jadi lebih banyak.

Kendati suku bunga ditahan dan ada perbaikan dari sisi NPI, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih penuh ketidakpastian. Pandemi Covid-19 yang belum usai menjadi ancaman utama ekonomi domestik. 

Pada kuartal kedua saja, output perekonomian RI nyungsep 5,32% (yoy) akibat pembatasan mobilitas yang masif (PSBB). Jika kasus Covid-19 tak segera di tangani dan mobilitas masih terhambat serta konsumen masih menahan untuk berbelanja, maka bukan tak mungkin ekonomi RI bakal jatuh ke dalam resesi. 

Faktor inilah yang juga membuat nilai tukar rupiah merosot meski BI masih optimis bahwa rupiah saat ini masih kemurahan. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading