Internasional

Resesi Makin Pukul Singapura, Pertumbuhan 2020 Minus 5-7%

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
11 August 2020 10:03
In this March 14, 2020, photo, a couple wearing face masks walk past the Merlion statue in Singapore. As the virus outbreak spreads ever further, it's becoming clear that some strategies are more likely to succeed in containing it: pro-active efforts to track down and isolate cases, access to basic, affordable public health and clear, reassuring messaging from leaders. (AP Photo/Ee Ming Toh)

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura merevisi perkiraan pertumbuhan ekonominya untuk 2020 menjadi kontraksi antara 5% sampai 7%. Ini diumumkan setelah Singapura melaporkan ekonominya mencatatkan penurunan tajam pada kuartal II 2020 akibat terdampak wabah virus corona (Covid-19).

Pada bulan Mei sebelumnya, produk domestik bruto (PDB) Singapura diperkirakan akan menyusut antara 4%-7% tahun ini. Ini ditegaskan Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI), Selasa (11/8/2020).

"Terlepas dari penyempitan kisaran perkiraan, masih ada ketidakpastian yang signifikan tentang bagaimana situasi COVID-19 akan berkembang di kuartal-kuartal mendatang, dan sejalan dengan itu, lintasan pemulihan ekonomi baik di ekonomi global dan domestik," kata MTI sebagaimana dilaporkan Channel News Asia.


Dalam laporannya, MTI juga mengatakan bahwa prospek permintaan eksternal Singapura telah melemah "sedikit" sejak Mei. Hal itu dikarenakan banyak pasar permintaan akhir utama Singapura mengalami gangguan ekonomi yang lebih buruk dari yang diproyeksikan pada kuartal kedua.

MTI memperkirakan pasar-pasar ini akan mengalami laju pemulihan yang lebih bertahap pada paruh kedua tahun 2020. Itu dikarenakan adanya ancaman wabah lokal dan perlunya langkah-langkah pembatasan yang berkelanjutan untuk menahan wabah terjadi lagi.

Ekonomi global juga mengalami ketidakpastian yang signifikan, kata MTI. Gangguan untuk ekonomi global datang dari gelombang baru wabah COVID-19 yang dapat menyebabkan langkah-langkah kesehatan masyarakat semakin diperketat atau penguncian (lockdown) nasional di negara-negara maju dan berkembang utama diterapkan kembali.

"Ini bisa mengakibatkan periode perlambatan ekonomi yang lebih tajam dan lebih lama di negara-negara ini," katanya.

Selain itu, perlambatan ekonomi global juga dapat meningkatkan tekanan pada sistem keuangan, antara lain meningkatnya utang korporasi, dislokasi pasar keuangan, dan arus modal keluar dari negara-negara pasar berkembang.

"Ini pada gilirannya dapat memicu putaran umpan balik negatif dan berpotensi meningkatkan resesi global," kata MTI.

"Sementara itu, terdapat risiko yang timbul dari ketegangan geopolitik dan sentimen anti globalisasi, seperti peningkatan proteksionisme yang dapat mengakibatkan gangguan lebih lanjut terhadap rantai pasokan global. Yang terakhir pada gilirannya dapat membebani perdagangan global dan pemulihan ekonomi global," tambah MTI.

Sebelum ini, MTI telah mengumumkan revisi pada kinerja ekonomi Singapura di kuartal II. Secara basis kuartalan (QtQ), ekonomi mengalami kontraksi sebesar 42,9% pada kuartal kedua II 2020 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pada perkiraan awal, ekonomi menyusut 41,2% pada kuartal II dibandingkan sebelumnya.

Angka terbaru ini mengirim negara kota di Asia Tenggara itu masuk ke dalam resesi teknis.

"Secara tahunan/year-on-year (YoY), ekonomi menyusut 13,2% pada kuartal yang berakhir 30 Juni," ujar kementerian lagi dikutip dari CNBC International. "Itu lebih buruk dari perkiraan sebelumnya yaitu kontraksi 12,6% dari tahun ke tahun."


[Gambas:Video CNBC]

(res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading