Pengangguran AS Turun, Awas Emas Bisa "Jatuh Dari Langit"

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
07 August 2020 22:14
A customer puts gold bar on basket for sell to the gold shop in Bangkok, Thailand, Thursday, April 16, 2020. With gold prices rising to a seven-year high, many Thais have been flocking to gold shops to trade in their necklaces, bracelets, rings and gold bars for cash, eager to earn profits during an economic downturn.(AP Photo/Sakchai Lalit)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia bergerak liar memasuki perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) Jumat (7/8/2020), setelah rilis data tenaga kerja Negeri Paman Sam. Data tenaga kerja merupakan salah satu indikator kesehatan ekonomi AS, sehingga memberikan dampak yang signifikan pada harga emas.

Melansir data Refinitiv, setelah data tenaga kerja AS dirilis pukul 19:30 WIB lalu, harga emas langsung merosot 0,89% ke US$ 2.044,91/troy ons, tetapi setelahnya langsung rebound tajam kembali ke zona hijau, sebelum akhirnya melemah lagi 0,58% di US$ 2,048,91/troy ons pada pukul 20:33 WIB.

Departemen Tenaga Kerja AS hari ini melaporkan tingkat pengangguran di bulan Juli turun tajam menjadi 10,2% dari sebelumnya 11,1%. Selain itu, sepanjang bulan lalu, perekonomian AS kembali menyerap tenaga kerja di luar sektor pertanian, yang dikenal dengan istilah non-farm payrolls, sebanyak 1,763 juta orang, lebih banyak ketimbang prediksi di Forex Factory sebesar 1,53 juta.


Data-data tersebut menunjukkan perekonomian AS mulai bangkit setelah nyungsep hingga mengalami resesi di kuartal II-2020 lalu.

Tidak hanya itu, rata-rata gaji per jam juga mengalami kenaikan 0,2% di bulan Juli setelah menurun dalam 2 bulan beruntun. Kembali naiknya rata-rata gaji berpeluang meningkatkan belanja konsumen atau belanja rumah tangga yang merupakan tulang punggung perekonomian AS. Belanja rumah tangga berkontribusi sekitar 70% terhadap produk domestic bruto (PDB) AS.

Membaiknya pasar tenaga kerja membuat harapan perekonomian AS akan segara bangkit, saat itu terjadi semua faktor pendukung harga emas satu per satu akan hilang, dan logam mulai ini berisiko "jatuh dari langit" alias merosot dari rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons.

Dolar AS misalnya, dalam beberapa pekan terakhir terus merosot hingga menyentuh level terendah lebih dari 2 tahun kemarin. Akibatnya kemerosotan tersebut emas akhirnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa berkali-kali.

Penyebab anjloknya the greenback adalah AS yang diprediksi tertinggal dalam pemulihan ekonomi dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Ketika ekonomi AS bangkit, prediksi tersebut akan dipatahkan dan dolar AS bangkit kembali. Terbukti pada indeks dolar hari ini melesat 0,72% ke 93,457.

"Bahan bakar" emas lainnya yakni resesi, jelas ketika ekonomi AS bangkit, tentunya peluang keluar dari resesi semakin cepat. Satu lagi "bahan bakar" emas akan hilang.

Terakhir kebijakan suku bunga rendah dan program pembelian aset (quantitative easing/QE) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), yang merupakan "bensin" utama emas melesat naik. Memang kebijakan ini akan dipertahankan dalam waktu yang cukup lama sampai ekonomi AS benar-benar pulih.

Kebijakan The Fed saat ini sama dengan saat krisis finansial global 2008 yang juga membawa emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebelumnya US$ 1.920,3/troy ons pada September 2011.

Berkaca dari pergerakan emas saat itu, pada pertengahan tahun 2013 The Fed yang saat itu dipimpin Ben Bernanke mengeluarkan wacana untuk mengurangi QE. Baru sebatas wacana saja harga emas langsung merosot tajam.

The Fed pada akhirnya mengurangi QE mulai Januari 2014, emas pun makin merosot hingga akhirnya menyentuh level US$ 1.045,85/troy ons pada Desember 2015. Hanya dalam waktu 3 tahun harga emas ambrol dari US$ 1.920,3/troy ons ke US$ 1.045,85/troy ons.

Melihat pergerakan tersebut, patut diwaspadai kejatuhan harga emas, meski sepertinya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading