Nasib Batu Bara Bergantung China & India, Harga Masih Loyo!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
06 August 2020 11:08
An undated handout photo of Whitehaven Coal's Maules Creek coal mine in New South Wales, Australia.   Whitehaven Coal Ltd/Handout via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali berbalik arah pada perdagangan Rabu kemarin. Koreksi yang terjadi pun lumayan signifikan. Nasib komoditas unggulan RI dan Negeri Kanguru ini sekarang tergantung pada kebijakan India dan China. 

Rabu (5/7/2020), harga batu bara termal acuan Newcastle untuk kontrak yang aktif ditransaksikan ditutup melemah dengan koreksi 1,48% ke US$ 53,4/ton.

Sampai saat ini harga batu bara belum mendapatkan katalis positif yang kuat untuk keluar dari pola pergerakan sideways yang berlangsung sejak bulan Mei di rentang US$ 51 - US$ 56 per tonnya.


Pasar batu bara lintas laut di kawasan Asia Pasifik memang belum bisa dikatakan bangkit meski relaksasi lockdown sudah banyak ditempuh. 

Impor India untuk kedua jenis batu bara pada bulan Juli diperkirakan oleh Refinitiv sebesar 12 juta ton, naik 36,4% dari 8,8 juta Juni, yang merupakan terendah sejak pelacakan kapal dan data pelabuhan Refinitiv dimulai pada Januari 2015.

Impor bulan Juli menunjukkan pemulihan yang signifikan dan merupakan yang tertinggi sejak April. Namun volume impor bulan Juli lalu masih 22% di bawah 15,3 juta ton yang diimpor India pada Juli tahun lalu.

Berbeda dengan India yang mulai menunjukkan adanya tanda pemulihan, berita dari China sebagai importir, produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia, kurang menggembirakan bagi para eksportir.

Impor melalui jalur laut Negeri Tirai Bambu untuk semua jenis batu bara diperkirakan hanya mencapai 20,6 juta ton pada Juli, turun dari 25,2 juta Juni dan juga lebih rendah dari 26,5 juta pada Juli 2019.

Sebenarnya ini bukan karena permintaan batu bara China lemah, mengingat konsumsi listrik rebound pada bulan Juni. Rendahnya impor China lebih karena Beijing berusaha membatasi impor batu bara untuk melindungi industri pertambangan domestiknya.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara termal di Qinhuangdao sebagai acuan domestik, berada di 572 yuan (US$ 81,95) per ton pada hari Senin. Harga batu bara domestik sedikit turun dari puncak baru-baru ini 592 yuan pada 10 Juli.

Meskipun China tidak memiliki kuota atau pembatasan impor batu bara yang formal, tetapi para pelaku industri memandang pihak berwenang lebih suka melihat harga batubara domestiknya berada dalam kisaran antara 500 dan 580 yuan.

Mengingat harga domestik sekarang mendekati kisaran level tertingginya, ada kemungkinan bahwa impor dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika ekonomi China melanjutkan pemulihannya.

Untuk tujuh bulan pertama tahun ini, impor batu bara China mencapai 163,9 juta ton, turun sedikit dari 164,6 juta untuk periode yang sama tahun lalu, menurut data Refinitiv.

Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk India, dengan impor Januari hingga Juli mencapai 99,7 juta ton, turun dari 123 juta pada periode yang sama pada 2019. Di luar dua importir batubara teratas Asia juga, gambarannya beragam.

Jepang sebagai importir nomor tiga terbesar mengimpor 96,1 juta ton dalam tujuh bulan pertama 2020, sejalan dengan 96,0 juta pada periode yang sama tahun lalu.Korea Selatan, importir peringkat keempat, mencatatkan impor sebesar 61,3 juta ton batu bara pada periode yang sama, turun dari 70,7 juta pada periode yang sama pada 2019.

Secara keseluruhan, empat importir Asia membawa 421 juta ton dalam tujuh bulan pertama tahun ini, turun 7,3% dari 454,3 juta pada periode yang sama tahun lalu. Ke depan jika China melonggarkan pembatasan impornya dan India terus melakukan impor, harga batu bara berpotensi menguat.

TIM CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading