Newsletter

Awas Sesak Nafas, Perdagangan Hari Ini Butuh Oksigen Banyak

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
03 August 2020 06:16
[THUMB] Review 2019, & Songsong Pasar Modal 2020

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan nasional sepanjang pekan lalu bergerak di jalur positif berkat suntikan energi dari luar negeri. Hari ini, data dari dalam negeri internal bakal banyak berbicara mulai dari survei manufaktur hingga inflasi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis sebesar 0,09% pada pekan lalu, membawa indeks acuan bursa nasional ini ke level 5.149,627. Sepanjang bulan Juli, IHSG tercatat menguat 4,97% alias nyaris 5% meninggalkan level psikologs 4.900 dan terbang ke level psikologis 5.100.


Pada Kamis saja, investor asing melakukan aksi beli bersih sebanyak Rp 103 miliar di pasar reguler, dari nilai transaksi bursa Rp 9,4 triliun. Sebanyak 165 saham harganya naik, 262 turun, sisanya 156 stagnan

Saham yang paling banyak dikoleksi asing adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan beli bersih sebesar Rp 104 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatatkan net buy Rp 160 miliar.

Penguatan juga terjadi di pasar surat utang pemerintah yang terlihat dari melemahnya imbal hasil (yield) menjadi 6,825% pada akhir pekan lalu, dari 6,866% pada akhir pekan sebelumnya. Imbal hasil bergerak berlawanan arah dari harga. Koreksi imbal hasil menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat.

Dari pasar valas, rupiah juga menguat pada pekan lalu, sebesar 0,07% atau 10 poin menjadi Rp 14.530 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun sepanjang Juli, Mata Uang Garuda tercatat melemah 2,47% dari Rp 14.200 per dolar AS. Ini menempatkan rupiah sebagai mata uang degnan koreks terburuk di Asia Tenggara.

Sentimen positif pekan lalu terbantu dari beberapa kabar dari luar negeri, misalnya aktivitas manufaktur China Juli yang dilaporkan kembali berekspansi. Data Markit menunjukkan Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur China sebesar 51,1, naik dari posisi Juni sebesar 50,9.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di atas 50 berarti ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi. Artinya, sektor manufaktur China sudah berekspansi 5 bulan beruntun.

Sebagai konsumen utama batu bara dan sawit dunia, China merupakan mitra dagang utama Indonesia sehingga perbaikan ekonomi Negeri Panda tersebut menjanjikan kenaikan permintaan komoditas utama nasional.

AS Resesi, Wall Street Malah Menguat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading