Amerika Serikat Resmi Resesi, Wall Street Ambles 1%

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
31 July 2020 00:54
Trader Gregory Rowe works on the floor of the New York Stock Exchange, Monday, Aug. 5, 2019. Stocks plunged on Wall Street Monday on worries about how much President Donald Trump's escalating trade war with China will damage the economy. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) dibuka melemah tajam pada perdagangan Kamis (30/7/2020). AS yang resmi mengalami resesi langsung memberikan dampak negatif ke lantai bursa dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut.

Ketiga indeks utama langsung masuk zona merah begitu bel tanda pembukaan perdagangan berbunyi. Indeks Dow Jones merosot 1,3% S&P 500 melemah 1% dan Nasdaq minus 0,7%.

Amerika Serikat resmi mengalami resesi setelah produk domestik bruto (PDB) di kuartal II-2020 dilaporkan mengalami kontraksi 32,9%. Kontraksi tersebut menjadi yang paling parah sepanjang sejarah AS.


Di kuartal I-2020, perekonomiannya mengalami kontraksi 5%, sehingga sah mengalami resesi.

Bukan kali ini saja AS mengalami resesi, melansir Investopedia, AS (negara dengan nilai ekonomi terbesar dimuka bumi ini) sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854. Sementara jika dilihat sejak tahun 1980, Negeri Paman Sam mengalami empat kali resesi, termasuk yang terjadi saat krisis finansial global 2008.

Artinya, resesi kali ini akan menjadi yang ke-34 bagi AS.

AS bahkan pernah mengalami yang lebih parah dari resesi, yakni Depresi Besar (Great Depression) atau resesi yang berlangsung selama 1 dekade, pada tahun 1930an. Tetapi kontraksi ekonominya tidak sedalam di kuartal II-2020.

Selain sah mengalami resesi, data buruk lainnya juga datang dari pasar tenaga kerja. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah klaim pengangguran pada pekan lalu bertambah sebanyak 1,434 juta klaim, lebih tinggi dari pekan sebelumnya 1,422 juta klaim.

Sementara itu, Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dini hari tadi mengumumkan kebijakan moneternya. Sesuai prediksi banyak analis, Ketua The Fed, Jerome Powell mempertahankan suku bunga acuan 0 - 0,25%, dan kebijakan pembelian aset (quantitative easing/QE) selama diperlukan guna membangkitkan perekonomian AS.

Powell saat mengumumkan kebijakan moneter dini hari tadi juga menyatakan terus meningkatnya kasus Covid-19 di AS membuat pemulihan ekonomi berjalan lambat.

Artinya, kebijakan suku bunga rendah dan QE akan ditahan cukup lama, mengingat perekonomian AS masih jauh dari kata bangkit. The Fed melihat perekonomian sudah mulai pulih, tetapi masih sangat jauh dari level sebelum virus corona menyerang dunia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading