Dolar Australia Menguat, Bikin Rupiah "Garuk-garuk Kepala"

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 July 2020 12:42
An Australia Dollar note is seen in this illustration photo June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Australia menguat melawan rupiah pada perdagangan Kamis (30/7/2020), padahal beberapa data ekonomi yang dirilis belakangan ini mengecewakan, dan sedang menghadapi serangan virus corona gelombang kedua.

Pada pukul 11:40 WIB, AU$ 1 setara Rp 10.436,72, dolar Australia menguat 0,37% di pasar spot melansir data Refinitiv.

Sebelum hari ini, mata uang Negeri Kanguru sudah menguat 3 hari beruntun, dan posisinya saat ini berada dekat level tertinggi 1,5 tahun Rp 10.507,27/AU$ yang dicapai pada 22 Juli lalu. Pada periode yang sama, rupiah justru terus menguat melawan dolar AS, bahkan sudah mencatat penguatan 7 hari beruntun.


Kuatnya dolar Australia seakan membuat rupiah "garuk-garuk kepala", dan berkata "kok bisa?"

Kemarin, Biro Statistik Australia melaporkan indeks harga konsumen (IHK) di kuartal II-2020 -1,9% di kuartal II-2020 dari kuartal sebelumnya atau quarter-to-quarter (QtQ). IHK yang minus artinya suatu negara mengalami penurunan harga, dan kali ini menjadi yang terburuk dalam 72 tahun.

Penyebabnya, sudah pasti pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang membuat roda bisnis menurun drastis bahkan nyaris mati suri akibat Australia menerapkan kebijakan karantina (lockdown) pada beberapa waktu di kuartal II lalu.

Sementara itu IHK inti yang tidak memasukkan item yang volatil dilaporkan -0,1%.

Sebelumnya pada pertengahan bulan lalu, tingkat pengangguran Australia melesat naik menjadi 7,4% dari bulan sebelumnya 7,1%. Tingkat pengangguran di bulan Juni tersebut merupakan yang tertinggi sejak Mei 1998.

Gubernur Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) Philip Lowe saat berbicara dengan Tema Covid-19: The Labor Market and The Public-sector Balance Sheet, mengatakan tingkat pengangguran di Australia masih akan meningkat lagi meski pemulihan ekonomi sedang berjalan.

Selain itu Australia sedang menghadapi serangan virus corona gelombang kedua.

Kota Melbourne di Negara Bagian Victoria kini menjadi episentrum penyebaran Covid-19. Guna meredam penyebaran virus corona, Melbourne resmi di-lockdown lagi sejak 9 Juli. Sebanyak 5 juta warga Melbourne dilarang meninggalkan rumah selama 6 pekan ke depan, kecuali karena alasan penting.

Tetapi sekali lagi, kurs dolar Australia masih tetap saja kuat. Salah satu penyebabnya adalah Gubernur Lowe yang tidak mempermasalahkan posisi nilai tukar dolar Australia melawan dolar AS. Hal tersebut diungkapkan saat berbicara mengenai pasar tenaga kerja.

Gubernur Lowe saat itu mengatakan posisi dolar Australia sudah seusai dengan fundamentalnya.

Artinya RBA tidak mengharapkan dolar Australia akan melemah untuk membantu perekonomian. Kala dolar Australia melemah, maka produk dari Negeri Kanguru akan lebih murah, sehingga ekspor berpotensi meningkat. Tetapi, sekali lagi RBA melihat nilai tukar dolar Australia saat ini sudah membantu pemulihan ekonomi, sehingga tak perlu lebih rendah lagi.

Saat itu, dolar Australia berada di atas level 0,7/US$, saat ini sudah naik di atas 0,71/US$. Ketika dolar Australia mampu menguat melawan dolar AS, maka berhadap dengan rupiah tentu saja juga bisa perkasa.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading