Sempat Terseok-seok, IHSG Menghijau! Asing Borong TLKM & BBNI

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 July 2020 12:08
Ilustrasi Bursa, Pergerakan Layar IHSG di Gedung BEI Bursa Efek Indonesia  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,25% di sesi I perdagangan hari Kamis (30/7/2020). Sentimen positif yang datang dari luar turut membuat indeks utama bursa saham RI terangkat.

IHSG dibuka di 5.111,1 dan ditutup pada sesi I di 5.123,8. Total nilai transaksi hingga sesi satu tercatat Rp 5,32 triliun dengan asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 77,4 miliar di seluruh pasar.

Pada perdagangan sesi I ini IHSG sempat jatuh ke zona merah. Namun IHSG mampu bangkit dan berakhir di zona hijau hingga akhir perdagangan sesi I pada 11.30 WIB.


Menurut data RTI Infokom, ada sebanyak 150 saham yang mengalami apresiasi, 261 saham terkoreksi dan 145 saham harganya tak bergerak alias stagnan. Saham yang paling banyak diborong asing di pasar reguler yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 21,1 miliar, disusul PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 14,5 miliar.

Saham yang paling banyak dilego asing di pasar reguler yakni PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) Rp 14,7 miliar dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) Rp 11,4 miliar.

Bursa saham Tanah Air bergerak seirama dengan mayoritas bursa saham Benua Biru. Meski ada beberapa yang mengalami koreksi seperti Nikkei225 dan Straits Times, hijaunya bursa saham Asia ini tak terlepas dari kinerja Wall Street semalam. 

Bursa saham New York, tiga indeks utamanya ditutup di zona hijau dini hari tadi. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,61%, S&P 500 menguat 1,24%, dan Nasdaq Composite bertambah 1,35%.

Apa yang dinanti akhirnya datang juga. Sesuai perkiraan, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 0-0,25%. Ketua Jerome Powell dan kolega juga menyatakan suku bunga akan tetap bertahan rendah untuk mendukung pemulihan ekonomi akibat pandemi virus corona.

"Penyebaran virus corona menyebabkan kesulitan yang luar biasa di AS dan seluruh dunia. Setelah penurunan tajam di perekonomian dan pasar tenaga kerja, mulai terjadi pembalikan dalam beberapa bulan terakhir meski masih di bawah level awal tahun. Permintaan yang rendah membuat inflasi tertahan.

"Situasi di pasar keuangan secara umum membaik dalam beberapa bulan ini, mencerminkan dampak kebijakan untuk mendukung aktivitas ekonomi serta penyaluran kredit kepada rumah tangga dan rumah tangga. Namun ke mana ekonomi akan bergerak akan sangat ditentukan oleh virus. Krisis kesehatan akan membebani aktivitas ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan inflasi dalam jangka pendek dan menjadi risiko bagi perekonomian dalam jangka menengah.

"Dengan perkembangan tersebut, Komite memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 0-0,25%. Komite memperkirakan suku bunga acuan akan bertahan sampai ada keyakinan bahwa ekonomi berhasil melalui situasi ini," papar keterangan tertulis The Fed.

Suku bunga rendah akan memberi ruang bagi emiten untuk melakukan ekspansi. Dengan begitu, tercipta harapan untuk menaikkan pendapatan dan laba. Harga saham pun melambung.

Selain mempertahankan suku bunga, The Fed juga berkomitmen menggunakan seluruh instrumen yang ada untuk membantu ekonomi AS keluar dari nestapa akibat pandemi virus corona.

Artinya, The Fed sepertinya masih akan terus 'mengguyur' likuiditas ke pasar baik melalui pembelian obligasi sampai memberi kredit kepada dunia usaha. Likuiditas ini sedikit banyak akan masuk ke pasar keuangan yang kemudian menciptakan mentalitas 'beli, beli, beli'.

"Rasanya kita akan merasakan suku bunga rendah dan 'banjir' likuiditas dalam waktu yang agak lama. The Fed tentu tidak mau ekonomi menuju dasar palung," ujar Peter Tuz, Presiden Chase Investment Counsel yang berbasis di Virginia, seperti dikutip dari Reuters.

Meski semakin banyak negara yang sah memasuki resesi seperti halnya Hong Kong yang paling baru, kebijakan moneter yang ultra longgar menjadi salah satu pendorong harga aset-aset berisiko masih mampu naik. Pada akhirnya hal ini lah yang membuat harga saham masih mampu untuk menguat di tengah isu resesi global yang tak terelakkan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading