Ringgit Menguat, Harga CPO jadi Tertekan

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
27 July 2020 12:42
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (CPO) Negeri Jiran terpangkas pada perdagangan awal pekan ini, Senin (27/7/2020). Penguatan ringgit terhadap dolar AS jadi sentimen pemberat yang membuat harga CPO turun. 

Pada 11.02 WIB, harga CPO untuk kontrak pengiriman Oktober 2020 di Bursa Malaysia Derivatif dipatok di RM 2.750/ton. Harga CPO turun 1% dari posisi penutupan perdagangan pekan lalu. 


Sepekan lalu harga CPO naik 6,27%. Kenaikan ini dipicu oleh risiko penurunan output akibat cuaca buruk yang melanda Indonesia dan Malaysia. Banjir yang melanda kawasan Kalimantan dikhawatirkan akan membuat panen terganggu. 

Selain dari sisi pasokan, harga CPO juga mendapat sentimen positif dari permintaan yang membaik. Menurut survei yang dilakukan oleh Intertek Testing Services (ITS), ekspor minyak sawit periode 1-25 Juli naik 4,6% dibanding periode yang sama bulan sebelumnya. 

Pada Sabtu pekan kemarin, ITS melaporkan ekspor minyak sawit Negeri Jiran pada 25 hari pertama bulan Juli mencapai 1.454.925 ton dari sebelumnya 1.390.860 ton. Kenaikan ekspor didominasi oleh CPO, RBD (Refined, Bleached, Deodorized) palm stearin dan palm fatty acid distillate.

Ekspor ke Uni Eropa (UE) turun dari 385.915 ton menjadi 330.980 ton. Ekspor ke China juga mengalami penurunan, dari 337.200 ton menjadi 285.075 ton. Namun impor India dan wilayah sekitarnya yang meningkat signifikan membuat total ekspor pada 25 hari bulan Juli secara umum meningkat. 

Ekspor minyak sawit Malaysia ke India mencapai 388.790 ton padahal sebelumnya hanya  281.425 ton. Ekspor naik lebih dari 100 ribu ton. India memang mulai kembali membeli minyak sawit dari Malaysia. 

Kenaikan permintaan seiring dengan pemulihan ekonomi yang juga disertai dengan pembebasan bea keluar sampai nol persen hingga akhir tahun diperkirakan turut mendongkrak harga.

Namun pada perdagangan hari ini harga CPO terkoreksi. Selain karena sudah reli terus menerus, penguatan ringgit Negeri Jiran turut menekan harga CPO. Ringgit yang menguat 0,2% di hadapan dolar AS membuat harga CPO menjadi lebih mahal bagi pembeli asing sehingga mengurangi minat permintaan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading