Resesi Jepan Bakal Panjang, Begini Nasib Mata Uang Yen

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 July 2020 10:48
Japanese yen notes are piled up after counting at a bank during a photo opportunity in Seoul October 8, 2010. REUTERS/Lee Jae-Won

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar yen melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (20/7/2020). Jepang yang berisiko mengalami resesi panjang membuat yen sedikit tertekan melawan dolar AS yang sama-sama menyandang status aset aman (safe haven).

Namun melawan rupiah, yen mampu menguat tajam melawan. Melansir data Refinitiv, pada pukul 9:33 WIB, yen melemah 0,35% melawan dolar AS ke 107,36/US$ di pasar spot. Sementara melawan rupiah, yen menguat 0,4% ke Rp 137,16/JPY.

Jepang sudah resmi mengalami resesi pada kuartal I-2020 lalu setelah produk domestik bruto (PDB) dilaporkan minus 1,7% year-on-year (YoY), setelah minus 0,7% YoY pada kuartal IV 2019. Jepang menjadi negara maju pertama yang mengalami resesi di tahun ini.


Resesi di negara dengan nilai perekonomian terbesar ketiga di dunia tersebut masih akan berlanjut di kuartal II-2020, bahkan diprediksi menjadi yang terburuk dalam satu dekade terakhir. Tanda-tandanya yakni ekspor yang terus merosot.

Data yang dirilis Kementerian Keuangan Jepang hari ini menunjukkan ekspor di bulan Juni ambrol 26,2% year-on-year (YoY), lebih besar dari hasil disurvei Reuters terhadap para ekonom yang memprediksi penurunan 24,9%. Penurunan tersebut melanjutkan kinerja negatif bulan Mei yang ambrol 28,3% year-on-year, menjadi yang terburuk sejak September 2009.

Hasil polling Reuters juga menunjukkan perekonomian Jepang diramal akan berkontraksi 5,3% di tahun fiskal 2020, dan akan menjadi yang terburuk sejak tahun 1994.

Penurunan permintaan dari Amerika Serikat menjadi pemicu anjloknya ekspor Jepang. Maklum saja, pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang melanda dunia membuat aktivitas perekonomian global merosot. Apalagi, AS merupakan negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia saat ini.

Amerika Serikat saat ini belum mengalami resesi, sehingga dolar AS sedikit lebih unggul ketimbang yen Jepang. Tetapi, di PDB Negeri Paman Sam juga diramal berkontraksi dalam di kuartal II-2020, sehingga akan resmi mengalami resesi juga. Data PDB AS akan dirilis pada Kamis (30/7/2020) pekan depan.

Sementara itu, meski melemah melawan dolar AS, yen perkasa melawan rupiah. 2 mata uang ini memiliki status yang berbeda, yen aset safe haven, rupiah mata uang emerging market yang dianggap berisiko.

Apalagi, Indonesia juga menghadapi risiko resesi. Pada Kamis (16/7/2020) Bank Dunia merilis laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juli 2020. Laporan itu diberi judul The Long Road to Recovery.

Lembaga yang berkantor pusat di Washington DC (Amerika Serikat) itu memperkirakan ekonomi Indonesia tidak tumbuh alias 0%. Namun Bank Dunia punya skenario kedua, yaitu ekonomi Indonesia mengalami kontraksi -2% pada 2020 jika resesi global ternyata lebih dalam dan pembatasan sosial (social distancing) domestik lebih ketat.

"Ekonomi Indonesia bisa saja memasuki resesi jika pembatasan sosial berlanjut pada kuartal III-2020 dan kuartal IV-2020 dan/atau resesi ekonomi dunia lebih parah dari perkiraan sebelumnya," tulis laporan Bank Dunia.

Di saat yang sama pada sore hari, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memperpanjang pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi selama 14 hari, akibat penyebaran kasus penyakit virus corona yang masih cukup tinggi. PSSB transisi yang terus diperpanjang tersebut berisiko membuat pemulihan ekonomi Indonesia berjalan lebih lambat dan lama.

Juli merupakan awal kuartal III-2020, jika PSBB transisi terus berlanjut, artinya masih belum semua sektor ekonomi yang dibuka, maka ada risiko pertumbuhan ekonomi minus, seperti yang diramal oleh Bank Dunia. Maklum saja, DKI Jakarta berkontribusi sebesar 29% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional di tahun 2019.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, sebelumnya memperkirakan ekonomi April-Juni akan terkontraksi dalam kisaran -3,5% hingga -5,1%.
Sementara PDB kuartal III-2020 diramal di kisaran -1% sampai 1,2%. Itu artinya memang ada risiko Indonesia mengalami resesi di kuartal III-2020 nanti. Rupiah pun mengalami tekanan.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading