Internasional

Ternyata Mubazir Depak Emiten China di Wall Street, Kok Bisa?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
06 July 2020 07:30
A United States flag is reflected in the window of the Nasdaq studio, which displays indices and stocks down, in Times Square, New York, Monday, March 16, 2020. (AP Photo/Seth Wenig)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk 'mendepak' saham-saham perusahaan asal China di bursa Wall Street dinilai hanya menjadi pekerjaan yang sia-sia alias mubazir karena emiten-emiten China masih bisa mencari pendanaan dari investor Amerika lewat pasar modal global.

Lembaga think tank Peterson Institute for International Economics (PIIE) menilai perusahaan-perusahaan China yang sahamnya akan dihapuskan dari bursa saham AS adalah kategori saham-saham "penggerak tanpa tujuan".

Korporasi-korporasi China ini juga dinilai tidak akan kesulitan mengakses pendanaan mereka dari investor Amerika dan lainnya meskipun nantinya emiten tersebut dikeluarkan dari bursa AS. Selain itu, keluarnya emiten-emiten China itu dari bursa AS pun tidak akan merusak pertumbuhan ekonomi negeri Tiongkok itu sendiri.


Hubungan AS dan China menjadi yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir dan pasar saham tampaknya menjadi salah satu 'medan perang' terbaru dari kedua negara adidaya ini.

Pada Mei lalu, Senat AS mengeluarkan undang-undang yang dapat melarang banyak perusahaan China untuk mendaftarkan saham (initial public offering/IPO) di bursa AS.

Bulan lalu, Presiden Donald Trump juga mendesak regulator untuk menemukan cara agar bisa memperketat pengawasan pada perusahaan-perusahaan asal China itu. Isu spionase juga mengemuka karena kekhawatiran adanya ketidaktransparansinya perusahaan China.

Laporan PIIE menunjukkan, kalau pun emiten China delisting paksa dari bursa AS, mereka masih bisa mendapatkan pendanaan dari investor Amerika dengan berbagai skema, termasuk melalui penyertaan langsung saham via perusahaan private equity dan pasar saham Hong Kong.

"Poin kuncinya adalah bahwa pasar modal bersifat global. Menutup perusahaan China dari bursa AS tidak akan kesulitan akses perusahaan-perusahaan ini ke modal AS," tulis laporan PIIE, dikutip CNBC International, Senin (6/7/2020).

Laporan PIIE mengungkapkan, ada sekitar 230 perusahaan China, dengan total kapitalisasi pasar mencapai US$ 1,8 triliun, yang terdaftar di bursa Nasdaq dan New York Stock Exchange, bursa yang dikenal sebagai Wall Street.

Menurut PIEE, sudah ada bukti bahwa perusahaan private equity AS sudah membeli perusahaan-perusahaan China yang menjadi perusahaan terbuka. Salah satu contoh adalah Warburg Pincus dan General Atlantic, yang baru-baru ini memimpin kesepakatan untuk mengambilalih perusahaan teknologi China, 58.com.

Laporan PIIE juga menilai, semakin banyak perusahaan China yang terdaftar di AS juga telah mencari listing sekunder mereka di bursa Hong Kong, wilayah yang dikenal sebagai pusat keuangan dan bisnis di Asia yang terbuka untuk investor internasional.

Perusahaan China yang telah meluncurkan penawaran sekunder mereka di Hong Kong termasuk perusahaan teknologi global yakni Alibaba, JD.com dan NetEase.

"Investor institusi AS dan warga AS yang ingin memiliki saham di perusahaan-perusahaan ini hanya akan membelinya di [lewat bursa] Hong Kong. Demikian pula, investor asing yang telah berinvestasi di perusahaan China melalui New York akan membelinya di Hong Kong," tulis laporan PIIE.

Trader Gregory Rowe works on the floor of the New York Stock Exchange, Monday, Aug. 5, 2019. Stocks plunged on Wall Street Monday on worries about how much President Donald Trump's escalating trade war with China will damage the economy. (AP Photo/Richard Drew)Foto: Wall Street (AP Photo/Richard Drew)
Trader Gregory Rowe works on the floor of the New York Stock Exchange, Monday, Aug. 5, 2019. Stocks plunged on Wall Street Monday on worries about how much President Donald Trump's escalating trade war with China will damage the economy. (AP Photo/Richard Drew)

Sebetulnya pertama kali kabar ini menyeruak terjadi pada September 2019. Kala itu Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan dengan China akan terealisasi lebih cepat dibandingkan ekspektasi pasar.

Sayangnya, Negeri Paman Sam diketahui sedang mempertimbangkan untuk membatasi investasi AS di China, termasuk kemungkinan memblokir semua jenis investasi, ujar sumber anonim, dilansir CNBC International.

Selain itu, laporan yang sama menyebutkan pembatasan investasi juga meliputi menghapus pencatatan saham (delisting) perusahaan China di pasar saham AS dan membatas penggunaan dana pensiun pemerintah di pasar keuangan Negeri Tiongkok.

Pada Mei lalu, AS memang telah meluncurkan sejumlah serangan kepada China dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu dari serangan itu adalah dengan membuat sebuah RUU yang menargetkan perusahaan China yang terdaftar di bursa AS, Wall Street.

RUU itu pada dasarnya dapat melarang banyak perusahaan China untuk mendaftarkan saham mereka di bursa AS, atau mengumpulkan uang dari investor Amerika.

Selain itu, RUU tersebut juga akan mengharuskan perusahaan-perusahaan China untuk menyatakan bahwa "mereka tidak dimiliki atau dikendalikan oleh pemerintah asing", dan harus diaudit oleh regulator AS selama tiga tahun berturut-turut. Jika tidak, mereka akan dilarang diperdagangkan di bursa.

Saat ini perusahaan China tercatat di tiga bursa di Wall Street yakni bursa NYSE American atau American Stock Exchange (AMEX), New York Stock Exchange (NYSE), dan Bursa Nasdaq. Dua bursa yakni NYSE American dan NYSE dimiliki oleh Intercontinental Exchange.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading