Saham Bank BUMN Penerima Rp 30 T Malah Rontok, Sinyal Apa?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
05 July 2020 18:45
Sunarso Direktur Utama BRI saat memberi keterangan PERS Rapat Koordinasi OJK Dengan HIMBARA Sebagai Tindak Lanjut PMK 70/2020

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi menempatkan dana pemerintah ke bank BUMN senilai Rp 30 triliun. Benarkah untuk membantu ekspansi kredit, ataukah untuk menambah likuiditas di tengah tingginya beban finansial untuk restrukturisasi?

Tata-cara penempatan dana tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 70/PMK.05/2020 yang juga merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2020 (PP 23/2020) tentang Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Kemenkeu berharap penempatan dana bermekanisme seperti deposito tersebut bisa memacu ekspansi kredit bank pelat merah. Pemerintah memberikan keringanan dengan menetapkan bunga hanya 80%, dari suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (yang saat ini di level 4,25%).


"Kita harapkan untuk setiap satu rupiah yang ditempatkan, bisa salurkan 3 kali lipat atau 3 rupiah," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (29/6/2020).

Empat bank tersebut adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Setelah menerima penempatan dana PEN, mereka pun mendapat status baru, yakni 'Bank Peserta.'

Bank pembangunan daerah (BPD) dikabarkan menyusul, yakni BPD Jabar (Bank bjb), BPD DKI (Bank DKI), BPD Jateng (Bank Jateng) dan BPD Jatim (Bank Jatim). Namun rencana tersebut sampai sekarang belum final.

Namun di pasar saham, investor cenderung bereaksi kurang positif terhadap kabar tersebut, terlihat dari koreksi tiga dari empat saham bank BUMN penerima dana PEN tersebut.

Saham BBRI, misalnya, terkoreksi 2,24% dari Rp 3.120 ketika pengumuman penempatan dana PEN, menjadi Rp 3.050 pada akhir pekan lalu. Saham BBNI terkoreksi paling parah yakni sebesar 3,8% menjadi Rp 4.560 per saham, sedangkan BMRI tertekan 2,9% menjadi Rp 5.000 per unit.

Padahal, sentimen pasar sedang bagus-bagusnya karena perkembangan positif vaksin corona dan mulai ekspansifnya manufaktur negara maju. Manufaktur AS tercatat berekspansi pada Juni, tercermin dari angka PMI manufaktur versi ISM pada 52,6. PMI manufaktur China versi Caixin/Markit di level 51,2. Angka di atas 50 mengindikasikan ekspansi aktivitas manufaktur.

Saham BBTN menjadi satu-satunya yang menguat, yakni sebesar 1,23% ke level Rp 1.230 per saham. Lalu apa yang "salah" dari penempatan dana PEN? Mari kita ulas lebih jauh..

Dapat Tambahan Likuiditas, Mau Diputar ke Mana?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading