Sejak 2019 Cuan 34%, Harga Emas Diramal Masih Bisa Meroket

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
02 July 2020 16:35
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu resesi global tahun lalu membuat harga emas meroket. Tahun ini resesi global adalah sebuah keniscayaan akibat merebaknya pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Minat terhadap aset safe haven seperti emas meningkat di kala kondisi perekonomian global sedang tak kondusif sehingga membuat harganya melambung.

Meski sudah naik 18% pada 2019, harga emas spot masih kuat untuk melesat 16% lebih di semester pertama tahun ini dan jadi aset yang memberikan imbal hasil yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan jenis aset lainnya seperti saham, obligasi hingga komoditas. 


Pandemi Covid-19 telah memicu terjadinya fenomena flight to safety di kalangan investor. Lockdown secara global membuat lebih dari tiga miliar penduduk bumi terkurung di dalam rumah. Produksi turun, kebutuhan akan tenaga kerja terkontraksi, pendapatan berkurang dan daya beli melemah. 

Saking parahnya dampak dari pandemi, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada di angka -4,9% tahun ini. Investor buru-buru menyelamatkan diri dan mencari suaka. Emas menjadi salah satu aset yang diburu. 

Selain risiko ketidakpastian yang tinggi seputar kapan wabah berakhir, beberapa faktor lain juga mendorong harga emas lebih tinggi. Isu seputar kerusuhan sosial akibat kesenjangan ekonomi, tensi geopolitik global yang meninggi dan praktik trade protectionism turut menjadi tema global tahun ini dan membuat investor kian melirik emas.

Menambah sentimen positif untuk harga emas adalah kebijakan bank sentral global yang ultra akomodatif. Melihat kepanikan yang terjadi di sektor finansial, bank sentral global seperti the Fed secara agresif memangkas suku bunga acuan. 

Federal Fund Rates (FFR) dibabat habis mendekati nol persen oleh Jerome Powell dan sejawat yang tergabung dalam komite pengambil kebijakan the Fed (FOMC).

Tak berhenti di situ, the Fed juga secara agresif melakukan aksi pembelian aset-aset keuangan seperti obligasi pemerintah (treasury), efek beragun aset KPR (mortgage backed securities), exchange traded fund (ETF) obligasi korporasi hingga obligasi korporasi itu sendiri melalui metode indeksasi. 

The Fed bahkan sampai mengulurkan bantuannya ke Mainstreet untuk membantu sektor UMKM AS bertahan dari gempuran pandemi melalui pinjaman lunaknya. Sudah triliunan dolar uang dipompa bank sentral AS itu ke perekonomian. 

Program pelonggaran kuantitatif atau Quantitative Easing (QE) yang diterapkan membuat neraca bank sentral Negeri Adidaya itu mengembang dengan pesat.

Pendekataan QE juga dilakukan di Eropa oleh bank sentralnya ECB dengan nama Pandemic Emergency Purchase Program (PEPP). Melalui program tersebut ECB berupaya untuk menyelamatkan perekonomian zona Euro dengan memompa lebih dari 1 triliun euro ke perekonomian. 

Pendekatan QE juga menjadi umum diterapkan oleh bank sentral di negara-negara berkembang. Termasuk di Indonesia, meski model yang diterapkan Bank Indonesia (BI) sedikit berbeda. 

Dipompanya sejumlah uang ke perekonomian ketika output anjlok membawa ancaman nyata di masa depan yaitu inflasi yang tinggi. Namun untuk saat ini, anjloknya harga minyak turut memberi tekanan deflasi bagi perekonomian (deflationary effect) mengingat minyak digunakan sebagai input dari berbagai aktivitas perindustrian dan ekonomi.

Rendahnya suku bunga acuan turut mengerek imbal hasil obligasi menjadi lebih rendah. Jika memperhitungkan inflasi maka real rate saat ini sudah berada di teritori negatif. Hal ini jelas membuat opportunity cost memegang aset emas yang tak memberikan imbal hasil menjadi lebih rendah.

Faktor inilah yang membuat harga emas menjadi melambung tinggi lantaran diyakini sebagai aset lindung nilai (hedge) terhadap depresiasi mata uang. Namun pertanyaannya adalah, sampai seberapa tinggi harga emas akan naik?  

Menilik Faktor Penggerak Harga Emas
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading