Reli Saat Injury Time, IHSG Berhasil Ditutup Naik 0,18%

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
01 July 2020 15:48
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (1/7/20) berhasil ditutup naik 0,18% ke angka 4.914,38 setelah mencatatkan kenaikan yang signifikan pada menit-menit terakhir perdagangan.

Walaupun IHSG terapresiasi, data perdagangan mencatat investor asing kembali melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 253 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi menyentuh Rp 6,1 triliun. Terpantau 161 saham naik, 242 saham turun, dan 165 stagnan.

Saham yang paling banyak dilepas asing hari ini adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan jual bersih sebesar Rp 76 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 127 miliar.


Sementara bursa di kawasan Asia terpantau bervariatif, Kospi Index di Bursa Korea Selatan turun tipis 0,07%, Nikkei di Jepang terdepresiasi sebesar 0,75%, sedangkan STI Singapore naik 0,76%.

Dari dalam negeri Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi periode Juni 2020. Hasilnya lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar.

Inflasi Juni 2020 berada di 0,18% secara bulanan (month-to-month/MtM). Ini membuat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 1,96% dan inflasi tahun kalender 1,09% yang menunjukkan daya beli masyarakat Indonesia mulai pulih kembali. Demikian disampaikan oleh Suhariyanto, Kepala BPS, dalam jumpa pers pada Rabu (1/7/2020).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia menghasilkan median inflasi bulanan sebesar 0,025%. Sementara inflasi tahunan ada di 1,805% dan inflasi inti tahunan 2,42%.

Beralih ke kiblat pasar ekuitas global yakni Wall Street, dini hari tadi tiga indeks saham utama Negeri Paman Sam ditutup dengan penguatan. Harga-harga saham di bursa New York naik dan mencatatkan kinerja kuartalan terbaik setidaknya dalam 20 tahun terakhir.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 215 poin atau naik 0,8%. S&P 500 terangkat 1,5% dan Nasdaq Composite melompat paling tinggi dengan apresiasi sebesar 1,9%.

Dengan begitu Dow Jones mencatatkan kinerja kuartalan terbaik sejak kuartal I-1987 dengan penguatan mencapai 17,8%. S&P membukukan lompatan tertinggi sejak kuartal IV-1998 dengan apresiasi nyaris 20% di kuartal kedua ini. Sementara itu Nasdaq Composite melonjak 30,6% dan menjadi kinerja terbaik sejak 1999.

"Kombinasi dari 1) stimulus 2) tren positif virus, 3) pembukaan kembali perekonomian dan 4) harapan ditemukannya vaksin membuat saham-saham mengalami kenaikan di kuartal kedua" tulis Tom Essaye, pendiri The Sevens Report.

"Memasuki kuartal ketiga hanya ada satu hal yang masih tersisa : stimulus. Ini bukan berarti kita akan melihat adanya koreksi. Namun curigalah terhadap reli yang terjadi di pasar sampai kita benar-benar punya dorongan yang mendukung saham-saham, mengingat kita sangat bergantung pada stimulus saat peruntungan sedang buruk" tambahnya.

Jalan menuju pemulihan ekonomi yang ditempuh Negeri Paman Sam juga tidak mudah. Hal ini disampaikan langsung oleh ketua the Fed, Jerome Powell.

"Output dan tenaga kerja masih jauh di bawah level sebelum pandemi. Jalan ke depan untuk perekonomian sangatlah tidak pasti dan akan bergantung pada seberapa sukses kita menekan [penyebaran] virus itu sendiri" kata Powell, sebagaimana diwartakan CNBC Internationl.

"Pemulihan secara total kemungkinannya kecil hingga orang-orang percaya diri untuk kembali beraktivitas" tambahnya. "Jalan ke depan juga akan bergantung pada kebijakan yang diambil oleh pemerintah di semua tingkatan untuk menyediakan kelonggaran dan bantuan selama yang dibutuhkan"

Beralih ke Benua Kuning, parlemen China baru saja mengesahkan undang-undang keamanan di Hong Kong yang tentunya dapat memicu panasnya situasi di Hong Kong.

Undang-undang tersebut dinilai dapat merusak status otonomi Hong Kong yang menganut asas satu negara dua sistem. Hal ini mendapat protes terutama oleh rival China yaitu AS. Dengan lolosnya UU ini, AS tentunya akan semakin geram.

Pekan lalu, IMF dalam laporannya yang bertajuk Global Financial Stability Report mengatakan ada beberapa hal berpotensi membuat pasar keuangan kembali tertekan yaitu ancaman gelombang kedua wabah corona, kerusuhan sosial hingga tensi geopolitik terutama hubungan dagang antar negara yang memanas.

Sementara itu sentimen negatif dari dalam negeri datang dari perkembangan terbaru kasus mega-skandal PT Asuransi Jiwasraya setelah Kejaksaan Agung menetapkan tujuh individu dan 13 perusahaan manajer investasi sebagai tersangka.

Hal ini menyebabkan beberapa perusahaan manajer investasi sulit untuk menjual produk reksa dananya dan bukan tidak mungkin ada ketakutan di antara para investor reksa dana sehingga terjadinya redemption besar-besaran yang tentunya akan mendorong mundur harga saham secara umum.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Saksikan video terkait di bawah ini:

Deretan Saham yang Diborong & Dilepas Asing di Semester I


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading