Harga Batu Bara Terpuruk, Perusahaan Tambang Jadi Buntung

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 July 2020 09:38
An undated handout photo of Whitehaven Coal's Tarrawonga coal mine in Boggabri, New South Wales, Australia.   Whitehaven Coal Ltd/Handout via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara acuan Newcastle untuk kontrak yang ramai diperjualbelikan melemah lagi kemarin. Harga batu bara yang terlalu rendah jelas mempengaruhi profitabilitas perusahaan tambang di dunia.

Selasa (30/6/2020), harga batu bara turun nyaris 1% atau tepatnya 0,93% ke US$ 53,4/ton. Sejak menyentuh dasar di sepuluh hari terakhir bulan April, harga batu bara hanya mampu mencatatkan rekor tertingginya di US$ 56,5/ton setelah itu.


Harga batu bara acuan RI juga mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data Kementerian ESDM, harga batu bara acuan di bulan Januari berada di US$ 65,93/ton. Namun memasuki bulan Juni, harga acuannya jatuh ke US$ 52,98/ton. Artinya harga anjlok 19,6%.

Menurut asosiasi pertambangan batu bara RI (APBI), anjloknya harga batu bara membuat setidaknya 47% pemasok batu bara global dalam keadaan merugi. 

"Australia Afrika Selatan secara perspektif biaya (cost) saat ini masih dalam keadaan relatif aman sehingga kemungkinan besar kita tidak berharap akan ada pengendalian produksi dari negara-negara tersebut" tulis APBI dalam laporannya.

"Sementara Colombia, Indonesia, Russia dan USA adalah yang paling terdampak saat ini dan kabarnya pengurangan produksi telah terjadi di beberapa negara tersebut" tulis laporan itu.

APBI memperkirakan akibat merebaknya Covid-19 ada 85 juta ton permintaan yang terganggu tahun ini. Oleh sebab itu APBI melihat perlu adanya pengendalian produksi dalam bentuk pengurangan pasokan (supply cut) dari para produsen batu bara nasional.

Studi serupa juga dilakukan oleh IEEFA, jika harga batu bara acuan rata-ratanya berada di US$ 58/ton, maka enam dari 11 perusahaan tambang batu bara RI akan mengalami arus kas negatif per ton batu bara yang dijual.

Pasar batu bara lintas laut (seaborne) memang sedang loyo. Pembatasan impor China hingga kemungkinan beralihnya Jepang dan Korea Selatan ke gas karena lebih ramah lingkungan, pasokan banyak dan harga murah turut mempengaruhi minat terhadap batu bara. 

Di Jerman bahkan perusahaan utilitas terus didorong untuk beralih dari batu bara ke sumber energi lainnya yang lebih ramah lingkungan dengan diberikan insentif. 

Reuters melaporkan koalisi pemerintah Jerman dikabarkan telah menyetujui paket kompensasi untuk perusahaan utilitas yang beroperasi menggunakan hard coal (batu bara dengan ranking teratas seperti antrasit) sebagai bagian dari rencana Negeri Panser untuk beralih dari batu bara pada 2038 nanti.

Kesepakatan antara konservatif Merkel dengan koalisi Social Democrat (SPD) telah membuka gerbang ke parlemen untuk melakukan voting pada awal Juli nanti untuk menentukan nasib undang-undang yang mengatur habisnya masa penggunaan batu bara (phase out).

Perwakilan parlemen dari partai konservatif dan SPD mengatakan dengan kesepakatan tersebut maka perusahaan utilitas yang beralih dari batu bara ke gas akan mendapatkan bonus konversi 390 euro per kilowatt. Jauh lebih besar dari yang sebelumnya disetujui senilai 180 euro saja.

Bonus ini hanya diperuntukkan bagi pembangkit yang usianya tak lebih dari 25 tahun dan akan tersedia hingga akhir 2022 saja. Jika perusahaan utilitas mulai beralih ke gas setelah 2022 maka bonus yang diterima akan turun 25 euro per kilowatt setiap tahunnya.

Stasiun pembangkit yang berusia 25 - 35 tahun akan mendapat konversi bonus yang lebih rendah sebesar 225 euro jika mereka beralih ke gas.

Pemerintah juga ingin membujuk perusahaan utilitas yang tidak beralih ke gas untuk menutup pembangkit batu bara mereka dengan tender yang berjalan hingga 2026.

Di bawah rencana itu, perusahaan utilitas dapat mengajukan kompensasi jika mereka berencana menutup stasiun pembangkit listrik dan mereka yang memiliki penawaran terendah akan diberi kompensasi.

Setelah 2026, pembangkit listrik batu bara (hardcoal) akan terpaksa ditutup tanpa kompensasi. Tujuannya adalah untuk membuat pembangkit listrik Jerman bebas dari batu bara pada tahun 2033.

Pada akhirnya berbagai faktor ini lah yang menyebabkan harga batu bara terpuruk dan jadi ancaman bagi perusahaan tambang batu bara global.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading