Newsletter

The Worst is Yet to Come, Bagaimana Nasib Pasar Hari Ini?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 June 2020 06:04
Workers in protective suits direct people who was either living surrounding the Xinfadi wholesale market or have visited to the market to get a nucleic acid test at a stadium in Beijing, Sunday, June 14, 2020. China is reporting its highest daily total of coronavirus cases in two months after the capital's biggest wholesale food market was shut down following a resurgence in local infections. (AP Photo/Andy Wong) Foto: Tes asam nukleat di pasar grosir Xinfadi, Beijing (AP/Andy Wong

Kenaikan saham-saham di Wall Street tentunya menjadi kabar baik untuk pasar saham Asia dan Indonesia yang akan buka pagi ini. Namun investor juga perlu mencermati sejumlah sentimen lain yang berpotensi menjadi penggerak pasar hari ini seperti perkembangan pandemi Covid-19, upaya bank sentral hingga berbagai rilis data ekonomi.

Dari perkembangan pandemi Covid-19 terlebih dahulu, jumlah orang yang terinfeksi virus ganas ini secara global sudah mencapai angka lebih dari 10 juta orang. Korban meninggal juga tercatat melampaui angka 500 ribu jiwa. 

Lonjakan kasus yang kembali terjadi akhir-akhir ini membuat WHO berkomentar. Meski banyak negara sudah membuat kemajuan, secara global, pandemi terus merebak dengan pesat" kata Direktur Jendeal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah video konferensi.


Lebih lanjut, mantan menteri kesehatan dan mantan menteri luar negeri Ethiopia itu mengatakan bahwa intervensi yang paling penting untuk dilakukan saat ini adalah melakukan pelacakan kontak dan karantina.

"The worst is yet to come" begitu kata Tedhros. "Saya mohon maaf harus mengatakan hal tersebut, tetapi dengan kondisis seperti sekarang ini kita takut hal yang terburuk akan tejadi. Oleh sebab itu kita harus menyatukan tindakan untuk melawan virus berbahaya ini bersama-sama" ungkapnya.

Setelah berhasil menekan angka pertambahan kasus baru menjadi single digit, China kini melaporkan terjadinya lonjakan kasus baru. Beijing yang menjadi episentrumnya harus dikarantina (lockdown).

Sentimen yang kurang mengenakkan juga datag dari bank sentral AS, the Fed. Ketua the Fed Jerome Powell kembali mengatakan bahwa pemulihan ekonomi AS berada dalam ketidakpastian.

"Output dan tenaga kerja masih jauh di bawah level sebelum pandemi. Jalan ke depan untuk perekonomian sangatlah tidak pasti dan akan bergantung pada seberapa sukses kita menekan [penyebaran] virus itu sendiri" kata Powell, sebagaimana diwartakan CNBC Internationl.

"Pemulihan secara total kemungkinannya kecil hingga orang-orang percaya diri untuk kembali beraktivitas" tambahnya. "Jalan ke depan juga akan bergantung pada kebijakan yang diambil oleh pemerintah di semua tingkatan untuk menyediakan kelonggaran dan bantuan selama yang dibutuhkan"

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Powell setelah terjadi lonjakan kasus terutama di beberapa negara bagian yang secara agresif melonggarkan lockdown.

"Banyak bisnis yang mulai buka kembali, perekrutan meningkat begutu juga dengan pengeluaran. Serapan tenaga kerja meningkat dan belanja masyarakat menguat signifikan di bulan Mei" lanjutnya. 

"Kita telah memasuki fase baru dan telah melewatinya dengan lebih cepat dari yang diharapkan. Selagi kita menyambut bangkitnya aktivitas ekonomi kembali, hal ini juga menyisakan tantangan-tantangan baru terutama untuk memastikan bahwa virus masih tetap terkendali" pungkasnya.

Cermati Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini : Langkah ECB dan Harga Minyak
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading