Newsletter

The Worst is Yet to Come, Bagaimana Nasib Pasar Hari Ini?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 June 2020 06:04
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri bergerak variatif kemarin. Indeks utama bursa saham RI melemah tipis cenderung flat, nilai tukar rupiah terdepresiasi di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) dan oligasir rupiah pemerintah RI menguat. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis dengan koreksi 0,05% ke 4.901,8. IHSG masih susah untuk tembus level psikologis 5.000. Data perdagangan mencatat, asing masih melepas kepemilikannya di saham-saham RI dengan membukukan aksi jual bersih sebesar Rp 568 miliar.


Saham-saham yang paling banyak dilego asing pada perdagangan kemarin adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net sell mencapai Rp 114 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan nilai jual bersih mencapai Rp 124 miliar.

Di awal perdagangan, IHSG dibuka anjlok. Selang tak berapa lama IHSG berhasil melenggang ke zona hijau. Namun hanya terjadi sementara dan indeks utama bursa saham domestik langsung berbalik arah. Di sesi kedua perdagangan, IHSG bergerak naik memangkas koreksinya dan ditutup mendekati level pembukaannya.

Beralih ke nilai tukar, rupiah kemarin melemah di hadapan dolar greenback. Data perdagangan intraday menunjukkan bahwa rupiah sempat melemah ke Rp 14.200/US$. Namun di akhir perdagangan pasar spot rupiah memangkas pelemahannya dan hanya terkoreksi sebesar 0,14% ke Rp 14.170/US$.

Rupiah yang sudah 'perkasa' memang rawan kehabisan tenaga alias kena koreksi karena sentimen memang lagi kurang baik. Memasuki Juni, investor mulai mengurangi  posisi beli (long) terhadap rupiah jika mengacu pada survei dua mingguan yang dilakukan oleh Reuters.

Dengan koreksi sebesar 0,14% hingga penutupan perdagangan kemarin, rupiah harus kembali menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Benua Kuning setelah pekan lalu juga menyabet gelar yang sama. Rupiah harus melemah ketika mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS.

Di tengah merebaknya sentimen negatif, risk appetite investor memang sedang turun. Banyak yang mencari suaka. Salah satunya dengan mengalihkan asetnya ke yang lebih tidak berisiko seperti emas atau obligasi pemerintah.

Lonjakan kasus virus corona di sejumlah negara telah membuat pelaku pasar khawatir adanya pembatasan aktivitas bisnis kembali, sehingga ekonomi yang tadinya mulai berputar menjadi terhenti.

Sentimen ini membuat obligasi rupiah pemerintah RI untuk berbagai seri acuan dan tenor mengalami kenaikan harga yang tercermin dari penurunan imbal hasilnya. Seri acuan yang paling menguat hari ini adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 3,60 basis poin (bps) menjadi 6,586%.

Di sisi lain, apa yang membuat pasar menjadi kurang kondusif adalah ramalan Dana Moneter Internasional (IMF) soal ekonomi dan pasar keuangan. Baru-baru ini IMF merilis laporan proyeksi ekonomi global untuk 2020. 

Dalam laporan tersebut proyeksi ekonomi RI yang pada April lalu diperkirakan masih bakal tumbuh 1,5% dipangkas 1,8 poin persentase oleh lembaga keuangan global tersebut. IMF 'meramal' ekonomi RI bakal terkontraksi -0,3% tahun ini. 

IMF juga mengeluarkan laporan yang bertajuk Global Financial Stability Report. Isinya IMF memperingatkan bahwa pasar keuangan dan ekonomi saat ini mengalami diskoneksi, sehingga reli di pasar terutama ekuitas yang terjadi akhir-akhir ini sangat rawan akan koreksi.

IMF menilai langkah bank sentral global yang sangat agresif untuk menyelamatkan perekonomian dari kejatuhan melalui pemangkasan suku bunga hingga pelonggaran kuantitatif, harapan pembukaan kembali ekonomi hingga stimulus fiskal membuat pasar jadi sumringah. 

Namun lembaga keuangan yang bermarkas di Washington DC itu juga memperingatkan bahwa investor tampaknya terlalu optimis untuk saat ini.

Awal Pekan, Wall Street Ditutup Ceria
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading