Kapan Anak Usaha Pertamina IPO? Ini Jawaban Bos Pertamina

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
29 June 2020 17:30
Nicke Widyawati

Jakarta, CNBC Indonesia - Wacana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) anak usaha PT Pertamina (Persero) kembali mengemuka dalam rapat kerja antara Pertamina dengan parlemen pada Senin ini, baik bersama dengan Komisi VI maupun Komisi VII DPR RI.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan kesiapan sebelum IPO dilakukan ialah melakukan restrukturisasi dan profitisasi atas subholding Pertamina terlebih dahulu sebelum melangkah ke penjualan saham perdana di pasar modal.

"Kesiapan untuk IPO pasti ada pre-kondisi yang harus dicapai dulu kami sedang melakukan itu. Kita gak serta merta ini IPO. IPO perlu market cap [kapitalisasi pasar] yang baik. Restrukturisasi adalah satu bagian saja sehingga punya market cap baru sehingga siap IPO," kata Nicke di depan Komisi VII, Senin (29/6/2020).


Nicke menjelaskan salah satu potensi yang bisa dilepas ke pasar ialah wilayah kerja (WK) di klaster empat yang sebetulnya kurang cocok dengan Pertamina sehingga lebih pas untuk dilepas sahamnya.

"Di hulu, kita lihat untuk melakukan divestasi bisa di level aset bisa di level perusahaan. Aset misal WK-WK [wilayah kerja] melepas kepemilikan Pertamina ke pihak lain kita sudah mengklaster dari WK yang kita miliki produksinya yang bagus 20%, 80% masih belum optimal, mana yang masih bagus mana value-nya. Lebih baik mana kita lepas, ini yang sedang kita rumuskan," jelasnya.

"WK-WK di hulu dalam 4 kelompok. Pertama WK umur di atas 10, dua yakni 5-10, ketiga bisa kita kerjasamakan dari sisi skala, skala ini menengah. Klaster empat malah gak cocok dengan Pertamina, buat perusahaan kecil mungkin lebih pas ini yang akan kita lepas," kata Nicke.

"Kluster keempat inilah prioritas pertama yang akan kami lepas. Korporasi banyak sekali syarat untuk IPO, kebutuhan pendanaan salah satu ada di hulu, lalu partnership di kilang. Per kilang pendanaan beda-beda."

Sebelumnya di hari yang sama, di Komisi VI, Nicke menyebut IPO menjadi salah satu opsi untuk menambal kebutuhan pendanaan tersebut. Hanya saja dia menegaskan kecenderungan IPO terjadi di anak usaha.

"IPO itu cara saja, bukan tujuan. Dan privatisasi sebetulnya malah gak ada dalam agenda kita. Artinya melepas saham negara itu tidak ada dalam agenda kita. Jadi IPO itu di anak, cucu, cicit mungkin ada," ujarnya.

Terkait dengan hal ini, Nicke menjelaskan bahwa rencana IPO perlu tahapan panjang.

"Sebetulnya kalau kita lihat kaitannya, perubahan organisasi itu sama dengan ketika kementerian BUMN ini dibentuk. Jadi tahapannya adalah restrukturisasi, profitisasi, baru privatisasi. Jadi tidak serta-merta ini langsung IPO. Apalagi IPO di Pertamina. Melepas saham negara gitu. Itu masih jauh sekali ceritanya," tandasnya.

Dia bilang, sejauh ini pihaknya baru melakukan restrukturisasi. Tahap berikutnya yang saat ini dilakukan adalah profitisasi.

"Misalnya, kilang ini sebelumnya cuma call centre. Kita harus merubah menjadi profit centre. Kita harus mengubah dulu, ini tahapan tidak mudah. Jadi ini masih panjang," urainya.

Nantinya, jika sudah melantai di bursa, Nicke menegaskan yang dilepas bukanlah saham negara, melainkan saham Pertamina melalui anak, cucu, atau cicit usahanya. Dia mengaku masih melakukan perhitungan.

"Kita juga gak ingin pelepasan saham Pertamina kalau gak ada ketetapan value. Karena harus ada profitisasi dulu," bebernya.

Di sisi lain, untuk mencari pendanaan Nicke tak semata-mata mengandalkan IPO. Dia menegaskan ada mekanisme lain untuk meraih modal.

"IPO hanya salah satu opsi untuk mencari pendanaan. Ada banyak opsi, kita sudah juga lalukan global bond, project financing seperti di Balikpapan, equity partnership. Banyak," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Iman Rachman,  Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Bisnis Pertamina, mengatakan bicara IPO memang masih terlalu dini.

"Timing terlalu dini, siapa subholding yang akan IPO, participating interest yang kami lihat. Margin hulu," jelas eks Direktur Mandiri Sekuritas itu.

"Sama saja kaya pendanaan perbankan. Kalau mau melakukan IPO pertama kebutuhan dana kita. Kebutuhan capex US$ 135 miliar," katanya.

Dia menjelaskan, dalam IPO, ada investor publik di mana porsinya bisa diatur atau alokasikan.

"Publik bisa kita atur [alokasi sahamnya]. Sebagian besar adalah investornya domestik. Dan mereka tidak kontrol. Kita tidak melakukan controling, mereka hanya melakukan sharing dana dengan kita," kata Iman.

"Kedua, sekarang aset belum semua turun. Sedangkan buat IPO asetnya harus turun. Ini masih proses. Kita tidak mau jual perusahaan ini lebih murah."

Nicke kemudian melanjutkan ada kajian untuk IPO dari sub-holding shipping dan new and renewable tapi belum bisa diambil keputusan untuk IPO.

"Untuk melakukan ini kita harus yakin tujuan IPO apa. IPO itu cara, bukan tujuan kalau tidak hasilkan market cap [kapitalisasi pasar] atau dana yang optimal tidak akan kita lakukan."

"Tetap kami lakukan tapi tidak hari ini, harus dengan matang keputusan pemegang saham, target market cap berapa harus kami sampaikan jangan sampai keputusan muncul di publik sebelm ada kajian yang optimal. Kalau ini keputusan pemegang saham kami lakukan dengan tahapan yang prudent profesional. 

"Untuk masing-masing subholding, kita harus melihat ada yang mash belum bisa [IPO]," kata Nicke.

Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya menyampaikan pesan tegas kepada Nicke Widyawati setelah ditetapkan dan melanjutkan jabatan sebagai Dirut Pertamina dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Erick berpesan kepada Nicke bahwa dalam 2 tahun ke depan harus bisa menyiapkan dua anak usaha Pertamina untuk melantai di bursa atau menawarkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Jadi target 2 tahun ke depan Ibu Nicke Direktur Utama bisa go public-kan 1-2 sub-holding jadi bagian transparansi, akuntabilitas supaya jelas," kata Erick dalam sambutan virtualnya, usai RUPS Pertamina di Jakarta, Jumat (12/6/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading