Terungkap! Alasan Banyak BUMN Tekor versi Erick & Sri Mulyani

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
24 June 2020 11:43
Erick Tohir & Sri Mulyani / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan BUMN masih mendapat sorotan publik di tengah rencana bantuan pemerintah dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai total Rp 143,63 triliun kepada 17 BUMN. Dana tersebut akan diberikan melalui pencairan utang pemerintah, PMN (penyertaan modal negara) dan dana talangan.

Upaya pemberian stimulus PEN bagi BUMN ini dilakukan untuk menstabilkan kondisi BUMN di tengah pandemi Covid-19.

DPR pun buka suara dan menggelar rapat dengar pendapat terkait dengan rencana suntikan modal tersebut. Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima mengatakan rapat tersebut digelar untuk meminta penjelasan kepada perusahaan-perusahaan BUMN yang mendapatkan dana dari pemerintah. Hal itu terkait dengan dana yang digelontorkan jumlahnya tidak kecil.


"Ini bukan jumlah yang kecil jadi kita harus tahu secara detail. Pencairan utang pemerintah Rp 108,48 triliun, PMN [penyertaan modal negara] Rp 15,5 triliun, dana talangan Rp 19,65 triliun," kata Aria dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, dalam rapat tersebut, Senin (22/6/2020).

Upaya pembenahan BUMN memang tengah dilakukan Menteri BUMN Erick Thohir.

Bahkan sebelumnya Erick menegaskan akan mengupayakan untuk melakukan restrukturisasi perusahaan-perusahaan pelat merah dan menurunkan jumlahnya dari 142 perusahaan dan kini tinggal 107 perusahaan.

Dalam beberapa tahun ke depan, jumlah perusahaan BUMN juga akan diturunkan terus menjadi 70 perusahaan pelat merah.

Kabar terbaru, Erick Thohir dalam paparannya kepada Komisi VI DPR RI, menyebutkan kementerian bahkan sudah mendapatkan kewenangan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggabungkan dan melikuidasi perusahaan BUMN. Wewenang ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 40/M Tahun 2020 tentang Pembentukan Tim Percepatan Restrukturisasi BUMN.

"Sebagai info, dari 142 BUMN sekarang kita bisa tinggal 107, sudah signifikan dan terus kita turunkan. Akan jadi 80-70 ke depannya. Ini tahap 1 sudah dilaksanakan, berikutnya kita coba lakukan tahap selanjutnya. Ini juga kita turunkan klasterisasi. Sudah kita turunkan dari 27 jadi 12, jadi masing masing Wamen [wakil menteri] pegang 6 klaster," kata Erick di Jakarta, Selasa (9/6/2020).

Lantas kenapa banyak BUMN mencatatkan kinerja buruk, gurem, meskipun dana talangan atau PMN terus digelontorkan?

Sebagai catatan, alokasi PMN yang disalurkan oleh Kementerian Keuangan selama 2015-2019 di antaranya, pada 2015 alokasi PMN sebesar Rp 65,6 triliun dan 2016 sebesar Rp 51,9 triliun.

Pada 2017, PMN turun drastis menjadi hanya Rp 9,2 triliun dan pada 2018 Rp 3,6 triliun. Sementara pada 2019 PMN oleh Kemenkeu naik lagi menjadi Rp 20,3 triliun.

Pada tahun 2015-2016, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan PMN yang signifikan kepada BUMN dilakukan dalam rangka mendukung dimulainya Program Nawa Cita Presiden Joko Widodo.

7 BUMN rugi

Saat rapat kerja Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan Komisi XI DPR, Senin (2/12/2019), kondisi BUMN juga sudah menjadi perhatian.

"Kalau dari sisi corporate government, kami akan duduk bersama [dengan Kementerian BUMN] untuk merancang perbaiki kinerja BUMN," ujar Sri Mulyani saat ditemui di kompleks Senayan, Senin (2/12/2019).

Sri Mulyani saat itu juga mengatakan, pihaknya saat ini memberikan ruang terlebih dahulu kepada Menteri BUMN Erick Thohir dan jajarannya untuk melakukan evaluasi BUMN yang merugi tersebut.

"Menteri BUMN sekarang sedang lakukan evaluasi dengan dua wamennya. Mereka sedang menjalankan itu nanti kami liat, bagaimana bentuk policy yang dibutuhkan BUMN tersebut," kata Sri Mulyani melanjutkan.

Dia bahkan mengungkapkan ada 7 BUMN yang merugi pada 2018. Tujuh BUMN tersebut yakni PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Sang Hyang Seri, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pertani, Perum Bulog, dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Apa yang membuat banyak BUMN tekor?

Kenapa Banyak BUMN Tekor? Ini Kata Erick & Sri Mulyani
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading