Sawit Masih Merana, Nasib Ekspor ke 50 Negara Gimana?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
17 June 2020 13:13
FILE PHOTO: A worker walks by a palm oil plantation in Chisec, Guatemala December 19, 2018. REUTERS/Luis Echeverria/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi virus corona (Covid-19) menyebabkan pasar ekspor minyak kelapa sawit Indonesia terganggu. Padahal, hampir 70% produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) domestik diekspor ke 50 negara.

Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta mengakui, pandemi Covid-19 menyebabkan aktivitas ekspor sawit terganggu karena logistik yang terhambat akibat kebijakan karantina wilayah di beberapa negara tujuan ekspor.

"Kondisi ekspor lebih terkendala karena masalah logistik atau administrasi dan penundaan, ini bukan yang boleh dibilang seterusnya. Semua pandemi pengaruh adanya penurunan, sampai detik ini kita masih bisa survive," kata Kanya, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (17/6/2020).


Meski demikian, produsen sawit menerapkan strategi efisiensi di tengah ketidakpastian pasar akibat pandemi. Hal ini antara lain dilakukan lewat penundaan ekspansi hingga mencari sumber penyerapan sawit dalam negeri.

Pasalnya, permintaan produk sawit di dalam negeri masih cukup dibutuhkan untuk memasok kebutuhan pangan, transportasi melalui kebijakan pencampuran biodiesel 30% hingga peralatan kosmetik.

"Sambil kita menunggu pandemi masih lama akan kembali normal, kita upayakan 70 persen dari produksi kita ekspor, tergantung dengan dunia luar. Kalau terganggu maka harus bersiap membuka kembali mencari potensi serapan di dalam negeri," tukasnya.

Tidak hanya itu, Gapki juga mendorong agar pemerintah memberikan stimulus bagi produsen sawit berupa pemberian bunga yang kompetitif, insentif pajak yang menarik serta kemudahan infrastruktur untuk jalur logistik sawit agar dapat sampai ke konsumen lebih cepat.

"Kalau perlu hilirisasi menjadi diperhatikan serius, kita minta tolong dibantu kemudahan infrastruktur dan logistik," tandasnya

Di sisi lain, harga komoditas CPO Malaysia yang juga menjadi acuan, menguat pada perdagangan intraday pada Selasa pekan ini (16/6). Melesatnya harga minyak dunia pada perdagangan awal pekan ini menjadi sentimen positif untuk harga CPO.

Selasa (16/6/2020) pada 11.06 WIB, harga CPO kontrak untuk pengiriman Agustus 2020 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange mengalami apresiasi sebesar 1,67% ke RM 2.368/ton.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading