Internasional

Didepak dari Wall Street, 31 Emiten China Siap ke Hong Kong

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
16 June 2020 08:25
A panel outside the Hong Kong Exchanges displays top active securities during morning trading in Hong Kong, China October 11, 2018.  REUTERS/Bobby Yip

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank investasi asal Amerika Serikat (AS), Jefferies Group, mengungkapkan bahwa Indeks Hang Seng (HSI) di Bursa Hong Kong berpotensi memperluas cakupannya dengan adanya konstituen baru dari perusahaan-perusahaan teknologi asal China yang akan masuk dalam indeks acuan tersebut.

Dalam perubahan besar yang diumumkan pada Mei lalu, Indeks Hang Seng yang berusia 51 tahun ini, untuk pertama kalinya memungkinkan memasukkan perusahaan dengan pencatatan (listing) utama di bursa luar negeri dan yang memiliki saham kelas ganda (misal seri A dan B), untuk bisa menjadi anggota atau konstituen dari indeks benchmark ini.

Jefferies mengidentifikasi ada 31 perusahaan asal China yang saat ini terdaftar (listing) di bursa saham AS atau Wall Street yang berpotensi berbondong-bondong 'mudik' ke Bursa Hong Kong.


Bank investasi yang berpusat di New York ini memprediksi "emigrasi pencatatan" ini dapat menarik dana hingga US$ 557 miliar ke pusat keuangan Asia. Nilai itu setara dengan Rp 7.798 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$).

Saat ini, perusahaan yang listing di bursa AS, baik New York Stock Exchange (NYSE) maupun Nasdaq, dapat listing Secara sekunder di Bursa Efek Hong Kong. Tetapi, sebelum perubahan peraturan terbaru di HSI, perusahaan-perusahaan China yang tercatat di AS itu tidak dapat dimasukkan dalam indeks benchmark HSI.

Sebelumnya, Senat AS sudah mengeluarkan undang-undang pada Mei lalu. Isi UU tersebut pada dasarnya dapat melarang banyak perusahaan China untuk listing di bursa Amerika.

bursa hong kongFoto: REUTERS/Bobby Yip/File Photo
bursa hong kong

Menurut para analis, dilansir CNBC International, aturan ini, yang jika diteken oleh Presiden AS Donald Trump, bisa mendorong banyak dari perusahaan China untuk kembali tercatat di 'kampung halaman', baik di bursa China daratan, atau di Bursa Hong Kong.

"Intinya adalah bahwa evolusi Indeks Hang Seng selama 18 bulan ke depan sebagian besar akan menggeser konstituen indeks ini ke indeks China dengan sektor dominan yakni teknologi, e-commerce, dan bobot di sektor IT yang signifikan [di indeks ini]," tulis Jefferies dalam sebuah catatan, dilansir CNBC.

Jefferies juga menunjukkan bahwa nantinya HSI "hampir tidak akan mewakili" pasar Hong Kong lagi, karena konstituennya sudah diwarnai dengan perusahaan-perusahaan yang sebagian besar pendapatan mereka berasal dari China daratan.

"Konstituen Hang Seng yang baru akan mengurangi bobot sektor properti dan mungkin sektor keuangan sampai batas tertentu," tambah bank investasi yang didirikan pada 1962 ini.

Indeks Hang Seng saat ini terdiri dari 50 saham. Menurut Jefferies, ada kecenderungan HSI didominasi saham-saham perusahaan jasa keuangan, dengan porsi lebih dari 48%. Sektor properti dan konstruksi memiliki porsi lebih dari 10% di indeks tersebut.

HSI pertama kali dirilis pada 24 November 1969 dan dikelola oleh HSI Services Limited, anak perusahaan penuh dari Hang Seng Bank, bank yang diklaim terbesar ke-2 di Hong Kong berdasarkan kapitalisasi pasar.

Sebagai permulaan, laporan Morgan Stanley pada Mei lalu, menyebutkan tiga saham perusahaan teknologi asal China yakni raksasa e-commerce Alibaba, perusahaan pembuat telepon Xiaomi dan raksasa pengiriman makanan Meituan, diprediksi akan menuai manfaat karena berpotensi masuk dalam indeks ini nantinya.

Perusahaan-perusahaan China lainnya juga telah mengumumkan niat mereka untuk menghapus pencatatan (delisting) dari bursa AS, seperti raksasa teknologi Baidu. Pada bulan lalu mereka menyatakan tengah melakukan pembahasan soal opsi pencatatan sekunder di Hong Kong atau bursa lain.

CEO Hong Kong Exchanges and Clearing Ltd, Charles Li, sebelumnya mengatakan sejumlah perusahaan asal China yang terdaftar di bursa AS kemungkinan akan mencatatkan saham di Bursa Hong Kong pada tahun ini. Langkah ini diambil lantaran tingginya tensi antara AS-China menyusul undang-undang keamanan nasional baru yang diterapkan China di Hong Kong.

Sejumlah perusahaan China yang akan kembali ke Hong Kong ini akan mendorong jumlah penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) bakal lebih semarak lagi di kota administrasi China ini.

"Ini akan menjadi tahun yang besar bagi IPO, termasuk IPO besar dari Tiongkok. [Emiten] yang kembali sangat besar [kapitalisasi pasarnya], apa yang kita sebut mereka, dari AS," kata Charles Li, dilansir Reuters, Jumat (5/6/2020).

Presiden AS Donald Trump juga menegaskan pemerintahannya akan menghilangkan perlakuan khusus bagi Hong Kong menyusul undang-undang keamanan baru yang diterapkan China. UU tersebut dinilai akan membuat AS mencabut kembali status Hong Hong sebagai salah satu pusat keuangan global.

Perusahaan-perusahaan China yang tercatat di bursa AS (Wall Street) juga tengah tertekan, mengingat Nasdaq akan memperkenalkan kebijakan baru yang fokus pada transparansi. Kebijakan baru Nasdaq ini berpotensi membuat gerak bisnis perusahaan China terbatas, mau tak mau berpotensi terdepak dari Wall Street.

Li mengatakan, banyak perusahaan China yang mencatatkan saham di AS sebetulnya karena mereka tidak dapat memenuhi syarat untuk tercatat di Bursa Hong Kong, yang sampai saat ini memiliki standar pencatatan yang lebih ketat ketimbang AS, misalnya persyaratan hak tata kelola dan saham kelas ganda.

Beberapa perusahaan seperti itu masih tidak memenuhi syarat untuk mendaftar di Hong Kong, dan "kami sebenarnya tidak menginginkannya," kata Li.

"Tapi semua perusahaan besar yang kita tahu akan kembali, mereka sudah memenuhi syarat [untuk mencatatkan saham]," katanya, sembari menekankan perusahaan-perusahaan China yang akan 'mudik' itu berasal dari sektor teknologi.

"Mencatatkan saham di Hong Kong, di papan primer atau sekunder akan memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut lebih dekat dengan basis pelanggan utama mereka," katanya.

"Hari ini suasana di AS menjadi kurang bersahabat dan kami jelas secara mendasar akan mengubah banyak aspek dari pencatatan saham kami sehingga kami menjadi lebih akomodatif," katanya.

Pada 20 Mei lalu, senat AS atau DPD-nya AS meloloskan RUU di bidang pasar modal yakni "Holding Foreign Companies Accountable Act" atau RUU Akuntabilitas Perusahaan Asing.

RUU ini akan membuat perusahaan-perusahaan China yang tercatat di bursa AS seperti Alibaba Group Holding Ltd. dan Baidu Inc. bisa terdepak dari bursa saham AS di tengah hubungan kedua negara yang makin tegang.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading