Pasar Khawatir Ada Second Wave Outbreak, Harga Minyak Jatuh

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
15 June 2020 09:35
FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Mengawali pekan ini, harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai ditransaksikan terkoreksi cukup dalam. Ketakutan akan terjadinya gelombang kedua wabah (second wave outbreak) kembali menghantui pasar.

Pada perdagangan Senin (15/6/2020) waktu Asia pukul 08.30 harga minyak mentah anjlok lebih dari 2,5%. Harga minyak Brent turun 2,61% ke US$ 37,72/barel, sementara harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam sebesar 3,53% ke US$ 34,98/barel.


AS sebagai episentrum penyebaran virus corona saat ini kembali melaporkan adanya lonjakan kasus infeksi baru dalam beberapa hari terakhir seiring dengan pembukaan ekonomi secara gradual.

Alabama melaporkan rekor jumlah kasus baru untuk hari keempat berturut-turut hingga hari Minggu. Alaska, Arizona, Arkansas, California, Florida, North Carolina, Oklahoma dan South Carolina semuanya memiliki jumlah kasus baru dalam tiga hari terakhir, menurut penghitungan Reuters.

Banyak pejabat kesehatan publik yang mengaitkan kenaikan kasus baru tersebut dengan pertemuan selama liburan akhir pekan Memorial Day pada akhir Mei. Di Louisiana, yang merupakan salah satu hot spot virus sebelumnya, kasus baru kembali meningkat dengan lebih dari 1.200 - dan menjadi yang tertinggi sejak 21 Mei.

Secara nasional, ada lebih dari 25.000 kasus baru yang dilaporkan pada hari Sabtu, tertinggi sejak 2 Mei. Lonjakan kasus ini sebagian karena adanya peningkatan yang signifikan dalam pengujian selama enam minggu terakhir.

Lonjakan kasus juga terjadi di China. Beijing beberapa hari terakhir melaporkan belasan kasus baru yang teridentifikasi berasal dariklaster pasar makananXinfadi. Setelah berminggu-minggu hampir tak melaporkan adanya penambahan kasus baru, kini Beijing telah mencatat lusinan kasus baru dalam beberapa hari terakhir.

Beijing sedang mengambil langkah untuk mencoba menghentikan wabah termasuk meningkatkan pengujian. Pada Minggu malam waktu setempat, Beijing memerintahkan semua perusahaan untuk mengkarantina dan mengawasi karyawannya yang telah mengunjungi pasar Xinfadi atau yang melakukan kontak dengan siapa pun yang telah mengunjungi pasar itu selama 14 hari.  

Hampir tidak ada kasus virus corona baru di kota tersebut selama hampir dua bulan sampai infeksi baru kembali dilaporkan pada 12 Juni, dan sejak itu jumlah total telah meningkat menjadi 51, melansir Reuters.

"Kekhawatiran tentang kenaikan infeksi COVID-19 baru-baru ini di AS dan ancaman 'gelombang kedua' membebani [harga] minyak saat ini," kata Stephen Innes, kepala strategi pasar global di AxiCorp, melansir Reuters.

Sementara itu, sebuah panel pemantauan yang dipimpin OPEC akan bertemu pada hari Kamis untuk membahas apakah negara-negara anggota telah mematuhi kesepakatan pemangkasan output sebesar 9,7 juta barel per hari (bpd) hingga akhir Juli sesuai dengan kuota masing-masing. Namun panel ini dikatakan tak akan membuat keputusan bila mengutip sumber dari OPEC+.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Second Wave Covid-19, Ancaman Baru untuk Komoditas


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading