Round Up Sepekan

Impor China Menurun, Batu Bara Sepekan Terpuruk 6%

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
14 June 2020 09:46
FILE PHOTO: A worker speaks as he loads coal on a truck at a depot near a coal mine from the state-owned Longmay Group on the outskirts of Jixi, in Heilongjiang province, China, October 24, 2015. REUTERS/Jason Lee/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara sepanjang pekan ini semakin terpuruk dan mendekati level terendah US$ 50/ton. Masih lemahnya permintaan ditambah dengan sentimen buruk yang merebak terkait lonjakan kasus terinfeksi virus corona menjadi pemberat harga si batu hitam.

Selama minggu ini (week on week/WoW), harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak yang berakhir 31 Juli 2020 anjlok US$ 3,25 atau 6,14% ke level US$ 52,95/ton pada penutupan Jumat kemarin (12/6/2020) dari US$ US$ 56,20/ton pada Jumat lalu (5/6/2020).

 


 

Penurunan permintaan dari China mempengaruhi harga si batu hitam, kendati ekonomi sudah mulai dibuka kembali secara gradual, prospek permintaan terhadap batu bara masih diliputi ketidakpastian.

Pembatasan perdagangan tampaknya menjadi penghalang impor batu bara China. Padahal sebenarnya peluang China untuk mengimpor batu bara lebih banyak masih terbuka. Pembatasan impor ini adalah langkah pemerintah China untuk melindungi produsen batu bara lokal setelah harga batu bara domestiknya turun tajam akibat pandemi corona.

Data bea cukai menunjukkan impor batu bara untuk semua jenis mencapai 22,1 juta ton pada bulan Mei, turun 29% dari bulan sebelumnya dan lebih rendah dari 21,8 juta ton pada Mei tahun lalu.

Meskipun kebijakan impor China masih belum jelas, pembatasan impor seperti adanya kuota pelabuhan telah menjadi masalah yang terus berkembang dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini disampaikan langsung oleh para trader batu bara kepada Reuters.

Pemerintah China sedang berupaya melindungi industri batu bara domestik dengan membatasi impor. Yu Zhai, Konsultan Senior Wood Mackenzie, memperkirakan impor batu bara China pada semester II-2020 adalah sekitar 80 juta ton, turun sampai 25,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan ekonomi China yang mulai bangkit usai dicabutnya karantina wilayah (lockdown) karena penyebaran virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) yang melambat, produsen batu bara di Negeri Tirai Bambu ramai-ramai menggenjot produksi. Maklum, ekonomi yang pulih tentu membuat permintaan listrik meningkat. Sebagian besar pembangkit listrik di China menggunakan batu bara sebagai energi primer.

Namun dengan membanjirnya batu bara impor, produsen lokal tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga. Akibatnya, profit margin pada kuartal I-2020 terpangkas hingga 30%.

"Produsen batu bara di China sedang mengalami masa sulit. Oleh karena itu, pemerintah mendorong pembangkit listrik untuk membeli batu bara dari dalam negeri," ungkap seorang pejabat asosiasi batu bara China, seperti dikutip dari Reuters.

China adalah konsumen sekaligus importir batu bara terbesar di dunia. Oleh karena itu, perubahan permintaan dari Negeri Panda tentunya bakal mempengaruhi pembentukan harga.

Analis melihat bahwa tingginya volume impor batu bara China awal tahun ini tidak mungkin dipertahankan terus menerus mengingat adanya kebijakan pembatasan impor dan kemungkinan pengurangan pasokan dari produsen yang berbiaya tinggi.

Ketegangan yang terjadi antara China dengan Australia juga turut menjadi faktor yang perlu dicermati dan dapat berdampak pada permintaan batu bara dari Australia mengingat Negeri Kanguru menjadi salah satu pemasok terbesar batu bara ke Negeri Panda.

Selain itu impor batu bara total Korea Selatan dan Jepang yang masih rendah di awal bulan ini juga menjadi sentimen lain yang turut menekan harga komoditas unggulan Australia dan Indonesia ini.

Mengacu pada data Refinitiv Coal Flow, untuk pekan yang berakhir pada 7 Juni, total impor batu bara Korea Selatan dan Jepang masing-masing adalah 0,98 dan 1,99 juta ton. Lebih rendah dibandingkan dengan 1,88 dan 3,31 juta ton yang diimpor di setiap negara pada minggu terakhir bulan Mei.

Sebenarnya potensi naiknya permintaan batu bara memang ada jika melihat temperatur di negara-negara Asia Utara yang lebih hangat dari normal membuat kebutuhan akan pendingin menjadi meningkat. Namun ketersediaan dan murahnya harga gas sebagai bahan bakar substitusi menjadi ancaman bagi batu bara.

Kabar buruk juga datang dari barat (Amerika Serikat). Jumlah korban akibat infeksi corona sudah mencapai 2 juta orang. Negeri Paman Sam mewaspadai gelombang kedua pandemi ini setelah AS melaporkan di Texas terdapat 2.504 kasus baru, tertinggi dalam sehari sejak wabah ini muncul.

Sementara prospek ekonomi AS yang lemah dari bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve AS) untuk terkontraksi sebesar -6,5% di tahun ini dan perkiraan suram baru-baru ini untuk ekonomi global dari Bank Dunia (World Bank) dan OECD berkontribusi terhadap penurunan harga batu bara minggu ini.

Bank Dunia memproyeksi bahwa ekonomi dunia masuk resesi di tahun 2020. Kegiatan ekonomi internasional akan menyusut 5,2% tahun ini atau merupakan resesi terdalam sejak Perang Dunia II.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) yang memprediksi bahwa ekonomi global akan berkontraksi setidaknya 6% pada tahun ini akibat penutupan ekonomi guna menekan angka wabah Covid-19.

OECD juga memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global akan "melambat dan tidak pasti".

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(har/har)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading