Proyek Gasifikasi Bukit Asam Rp 28 T Bakal Komersial 2025

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
10 June 2020 15:41
PT Bukit Asam/PTBA. doc PTBA

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten batu bara milik negara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan proyek gasifikasi batu bara dapat dikomersialisasikan selambatnya pada 2025 mendatang. Saat ini proyek tersebut masih dalam tahap persiapan fit dan engineering, procurement, construction (EPC) dan akan segera dimulai pembangunannya.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan proyek tersebut tetap berjalan dengan nilai investasi senilai US$ 2 miliar atau setara dengan Rp 28 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$).

"Rencana kerja sama dengan Air Products tetap berlanjut dengan nilai investasi US$ 2 miliar dan sekarang ini lagi kaji segera mulai fit dan EPC, komersial diharapkan 2024-2025," kata Arviyan dalam konferensi pers virtual, Rabu (10/6/2020).


Proyek yang dimaksud adalah proyek gasifikasi batu bara miliknya yang bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) dan Air Products and Chemicals, Inc. yang nantinya akan menghasilkan Dimethyl Ether (DME). Dalam pengembangannya, dari proyek yang sama juga akan menghasilkan metanol dan monoethylene glycol (MEG).

Sedangkan proyek gasifikasi lainnya yang bekerja sama dengan Pertamina, PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Dari sini perusahaan memproduksi sejumlah produk antara lain DME yang merupakan produk gasifikasi batu bara dan bisa dijadikan substitusi LPG, selain itu juga akan memproduksi pupuk dan polypropylene.

"Proyek dengan Chandra Asri sedang cari formula yang tepat terkait kebutuhan Chandra Asri karena dia butuhkan metanol buat bahan baku dan tetap [berjalan], belum ada rencana pull out atau pembatalan," tegasnya.

Arviyan sebelumnya juga menegaskanbahwa proyek ini masih on track dan akan segera dimulai. "Segera," tegasnya.

Penandatanganan proyek ini juga terpaksa molor setelah direncanakan akan dilaksanakan pada Maret lalu. Menurut rencana, penandatanganan akan dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah menggelar pertemuan pemimpin negara ASEAN dengan Amerika Serikat (AS).

"Masih yang program yang lama, memang rencana mau tanda tangan di Amerika sesuai rencana saat presiden menghadiri ASEAN Summit tapi karena ada wabah corona kan Presiden Trump [Donald Trump] tunda acara ini, jadi otomatis akan menyesuaikan nanti," kata Arviyan ketika ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Saat itu Arviyan menyebutkan bahwa proyek gasifikasi ini seharusnya sudah masuk dalam tahap akhir yakni memulai eksekusi gasifikasi. Namun sayang, karena wabah Covid-19, Bukit Asam saat itu tak bisa memastikan hingga kapan proyek ini akan molor.

Adapun proyek gasifikasi ini merupakan kerja sama hilirisasi mulut tambang menjadi DME. Melalui teknologi gasifikasi, batu bara akan diubah menjadi syngas (gas sintetis) yang kemudian akan diproses kembali menjadi produk akhir (jadi).

Sebelumnya Air Products juga meneken kerja sama dengan konsorsium Bakrie. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Air Products asal AS menandatangani proyek investasi metanol senilai US$ 2,5 miliar dengan konsorsium Bakrie.

Konsorsium Grup Bakrie yakni PT Bakrie Capital Indonesia (BCI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Ithaca Resources, bersama dengan Air Products menjalin aliansi strategis membangun industri metanol senilai US$ 2 miliar lebih atau setara Rp 28 triliun di Batuta Industrial Chemical Park, Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

"Jadi walau sedang Covid-19 begini, tetap Indonesia itu seksi buat orang lain. Tinggal bagaimana kita buat anunya saja. Tadi pagi [Jumat, 15/5] saya sudah bicara juga dengan Washington, sepakat, tinggal cocokkan waktu saja," kata Luhut, dalam wawancara dengan RRI, dikutip CNBC Indonesia, Senin (18/5/2020).

[Gambas:Video CNBC]

 


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading