Saham Ambles 29%, Induk SCTV & Indosiar Buyback Rp 500 M

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
09 June 2020 15:20
Gedung SCTV

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pengelola dua televisi nasional SCTV dan Indosiar, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) berencana meningkatkan nilai pemegang saham dengan cara melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan sebanyak-banyaknya 2,95 miliar saham atau paling banyak 20% dari modal disetor dalam perseroan.

Gilang Iskandar, Corporate Secretary SCMA, mengatakan latar belakang buyback ini dilakukan seiring dengan kondisi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal tahun 2020 yang mengalami tekanan yang signifikan yang diindikasikan dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 18,46%.

Ditambah lagi, kondisi perekonomian regional dan global yang sedang mengalami tekanan dan perlambatan, antara lain disebabkan oleh wabah virus Covid-19.


Dalam memberikan stimulus perekonomian dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan karena kondisi perdagangan, maka Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menerbitkan SEOJK 3/2020.

Dengan diterbitkannya SEOJK 3/2020 tersebut, katanya, membuka peluang bagi perseroan untuk melakukan buyback saham tanpa memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) dengan memperhatikan kemampuan perseroan dan ketentuan yang berlaku.

"Sebab itu, kami bermaksud untuk meningkatkan nilai pemegang saham dengan cara melakukan buyback saham sebanyak-banyaknya 2.954.934.460 saham atau paling banyak 20% dari modal disetor, dengan turut memperhitungkan saham treasuri eksisting, dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor," katanya dalam keterbukaan informasi, BEI, Selasa (9/6/2020).

Adapun periode buyback dilakukan pada 9 Juni sampai dengan 8 September 2020. Biaya buyback saham akan berasal dari saldo laba perseroan.

"Penggunaan saldo laba tersebut tidak akan menyebabkan kekayaan bersih perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan."

Perseroan pada saat ini telah melakukan penyisihan cadangan wajib sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Oleh karena itu, alokasi dana untuk melaksanakan buyback saham berasal dari saldo laba perseroan per tanggal 31 Maret 2020 yang tercatat sebesar Rp 4,09 triliun.

Dari jumlah tersebut yang akan digunakan untuk membiayai buyback saham adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 500 miliar.

"Biaya buyback saham tidak termasuk biaya pembelian kembali saham, komisi pedagang perantara serta biaya lain berkaitan dengan pembelian kembali saham."

Dia mengatakan dampak dari pelaksanaan buyback saham adalah hilangnya pendapatan bunga atas dana yang digunakan untuk pembelian kembali saham perseroan.

Namun demikian, katanya, direksi perseroan berkeyakinan bahwa pelaksanaan buyback, tidak akan mempengaruhi pembiayaan kegiatan usaha perseroan, mengingat SCMA mempunyai modal kerja dan arus kas yang cukup dan memadai untuk melaksanakan buyback termasuk pembiayaan kegiatan usaha perseroan.

Mengacu data BEI, saham SCMA pada penutupan sesi II Selasa ini (9/6) ditutup naik 2,55% di level Rp 1.005/saham. Saham perusahaan naik 28% sebulan terakhir, kendati year to date atau tahun berjalan minus 29%.

Dari sisi kinerja, SCMA mengalami penurunan laba bersih sebesar 22,11% year on year (YoY) di akhir Maret 2020 lalu atau kuartal I-2020. Laba bersih ini turun menjadi Rp 311,52 miliar dari sebelumnya di periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 399,95 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) ini terjadi karena pendapatan perusahaan yang juga melorot pada periode 3 bulan pertama tahun ini.

Pendapatan SCMA turun 1,48% YoY menjadi senilai Rp 1,30 triliun, dari laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 1,32 triliun.

Penurunan pendapatan ini disebabkan karena turunnya pendapatan lain-lain yang tadinya di akhir Maret 2019 sebesar Rp 150,16 miliar menjadi hanya senilai Rp 86,66 miliar di akhir Maret tahun ini. Sedangkan pendapatan iklan sebetulnya sedikit naik menjadi Rp 1,51 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp 1,47 triliun.

SCMA adalah anak usaha dari EMTK, induk Grup Elang Mahkota yang dikendalikan Keluarga Sariaatmadja.

[Gambas:Video CNBC]


 


(tas/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading