Suntik Matahari Departement Store, Siapa Auric Capital?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
08 June 2020 10:48
Matahari Departement Store. (Dok. DetikCom/Sylke Febrina Laucereno)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten peritel fashion Grup Lippo, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) atau Matahari mengumumkan masuknya pemegang saham baru yakni Auric Capital, perusahaan investasi yang tercatat di Bursa Singapura dengan kode saham AURI.

LPPF pun mengumumkan susunan baru dewan komisaris perseroan, dan menyambut salah satu komisaris baru dari Auric yaitu Monish Mansukhani yang merupakan perwakilan dari Greater Universal, anak perusahaan yang dimiliki seluruhnya secara tidak langsung oleh Auric Capital.

Dengan demikian resmi sudah Matahari memiliki pemegang saham baru selain Grup Lippo yakni Auric lewat Greater Universal. Mansukhani menjabat Deputy CEO Auric Pacific.

Greater Universal akan memiliki sedikit di atas 5% atas saham Matahari, setelah dilakukannya penurunan modal saham, tergantung kepada persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

"Auric Capital memiliki reputasi yang kuat sebagai investor jangka panjang yang dapat memberikan nilai tambah, terutama di sektor konsumen, dengan memberikan analisa kritikal dan masukan strategis atas status usaha dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja jangka panjang," kata John Bellis, Presiden Komisaris Independen Matahari, dalam siaran pers, dikutip Senin (8/6/2020).

Hanya saja tidak disebutkan berapa besar nilai investasi Auric dan detail dibeli dari pemegang saham yang mana.


Mengacu data laporan keuangan per Desember 2019, jumlah saham beredar LPPF mencapai 2.804.883.280 saham. Dengan asumsi 5% dari jumlah itu adalah 140.244.164 saham, dan mengacu harga saham LPPF per Jumat pekan lalu (5/6/2020) di level Rp 1.600/saham, maka nilai saham Auric diperkirakan Rp 224 miliar.

Sebagai informasi, per Desember 2019, mengacu data laporan keuangan, ada tiga seri saham LPPF. Saham Seri A dipegang PT Multipolar Tbk (MLPL) 0,04% dan investor publik 0,01%. Saham Seri B dimiliki Multipolar 1,57%, dan publik 0,27%, sementara seri C dipegang Multipolar 16,57%, John Riady (komisaris) 0,00%, dan investor publik 78%.

Pada Januari lalu, Matahari juga mengangkat Terry O' Connor sebagai CEO. O'Connor juga diangkat sebagai Wakil Presiden Direktur Perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 4 Juni lalu.

Sebelumnya O'Connor menjabat sebagai Regional CEO Courts Asia, 26 tahun memimpin transformasi strategis atas solusi penjualan,
omni-channel dan ekspansi geografis.

Selain itu, RUPST pada 4 Juni lalu itu juga telah memberikan persetujuan atas laporan direksi atas jalannya usaha dan laporan keuangan Perseroan untuk tahun buku 2019.

Direksi melaporkan bahwa perseroan mencatat penjualan kotor sepanjang tahun 2019 sebesar Rp 18,0 triliun, naik 0,9% dari Rp 17,9 triliun di 2018. 
Pendapatan bersih konstan di Rp 10,3 triliun. Adapun laba bersih sebesar Rp 1,4 triliun, meningkat 25% dari laba bersih setelah penurunan nilai investasi di tahun 2018 Rp 1,09 triliun.

Siapa sebetulnya Auric, apakah masih terafiliasi dengan Grup Lippo juga?

Auric Capital adalah perusahaan yang berbasis di Singapura, yang merupakan investor aktif di sektor konsumen dan dipimpin oleh Andy Adhiwana, menantu Direktur Eksekutif Lippo Group dan Lippo China Resources Limited, Stephen Riady. Auric fokus pada investasi bisnis konsumen di Asia Tenggara.

Auric diketahui masih terafiliasi dengan Grup Lippo. Dalam sebuah prospektus Auric tertanggal 7 Maret 2017, di Bursa Singapura, disebutkan Auric dipimpin oleh Andy Adhiwana sebagai Group Chief Executive Officer (CEO), Direktur Eksekutif Grup, sekaligus pemegang saham pengendali perusahaan.

Andy pada periode itu memiliki, secara tidak langsung melalui Goldstream Capital Limited, sebanyak 34.487.811 saham Auric, mewakili 27,44% dari total jumlah saham yang diterbitkan perusahaan.

Sementara, mertuanya, Stephen Riady, yang juga Direktur Eksekutif dan pemegang saham pengendali perusahaan. Pada periode itu, Stephen Riady memegang, secara tidak langsung melalui Lippo China Resources Limited, sebanyak 61.927.335 saham Auric, atau mewakili 49,28% dari total jumlah saham yang diterbitkan.

Andy Adhiwana, enterpriseasia.orgFoto: Andy Adhiwana, enterpriseasia.org
Andy Adhiwana, enterpriseasia.org


Andy masuk ke Auric pertama kali pada 2011. Saat itu, sebagaimana diceritakan, enterpriseasia.org, Andy Adhiwana yang sebetulnya seorang dokter tengah berada di ambang karier yang sukses di bidang kedokteran. Sebagai anak sulung dari seorang ahli jantung yang sangat dihormati, Andy Adhiwana lulus dengan gelar Sarjana Kedokteran, Sarjana Bedah dan Doktor Kedokteran dari Universitas Heidelberg yang bergengsi di Jerman.

Andy kemudian mengejar minat dalam bisnis dan masuk dalam program Magister Administrasi Bisnis di National University of Singapore. Dia kemudian meraih gelar Magister Administrasi Bisnis.

Pada 2013, ia membuat keputusan tegas untuk masuk ke dunia bisnis dengan menerima posisi sebagai Manajer Pengembangan Bisnis Auric Pacific Group Limited dan hingga kini menjadi CEO.

Auric Pacific adalah perusahaan holding investasi berbadan hukum Singapura yang berinvestasi di beragam bisnis, meliputi distribusi barang-barang konsumen yang bergerak cepat (fast moving consumer goods/FMCG), manufaktur dan pengecer makanan, restoran serta manajemen food court.

Perusahaan ini terdaftar di papan utama Singapore Exchange Securities Trading Limited, dengan operasional bisnis dan operasi Auric Pacific hadir di Singapura, Malaysia dan Hong Kong.

Pada tahun 1997, Grup Lippo mengambil saham pengendali di Auric Pacific. Ini adalah kendaraan bisnis pertama dan utama dari Grup Lippo di Singapura, yang dijalankan oleh Stephen Riady. Selama masa jabatan Stephen, Auric Pacific sebetulnya fokus pada berbagai proyek pengembangan properti.

Nah, baru pada tahun 2006 ketika Riady mengakuisisi OUE Limited, Auric Pacific mengalihkan fokusnya ke bisnis makanan. Pada 2014, setelah penunjukan CEO ke Adhiwana, Auric terus menggenjot bisnisnya di lini bisnis makanan dengan salah satu brand yakni Sunshine Bread, disusul SCS Butter dan Buttercup, serta food court Food Junction.



Food Junction inilah yang September 2019 diakuisisi oleh perusahaan produsen food and beverage (F&B) BreadTalk Group Ltd yang tercatat di Bursa Singapura. Akuisisi itu sebesar 1,48 juta saham atau setara dengan 100% saham Food Junction Manajemen Pte. Ltd. (FJM) yang terafiliasi dengan Lippo Group. Nilai akuisisi ini mencapai S$ 80 juta atau setara dengan Rp 820,72 miliar (asumsi kurs Rp 10.259/S$).

Terkait dengan brand Sunshine Bread yang dikelola Auric, situs resmi Sunshine Bread mencatat, brand roti ini sebetulnya yang tertua di Singapura, didirikan tahun 1930. Semula perusahaan beroperasi dari ruko di Geylang, Singapura, sebelum diakuisisi oleh Singapore Cold Storage (SCS) dan kemudian ekspansi termasuk ke Malaysia.

Pada 2015, Auric Pacific berada di peringkat 50 besar dari lebih dari 600 perusahaan yang tercatat di Bursa Singapura dari sisi CGC alias Tata Kelola dan Transparansi Indeks (GTI), yang menilai transparansi keuangan perusahaan berdasarkan pengumuman laporan tahunan perusahaan.

"Iman saya membuat saya membumi, baik dalam menghadapi kesulitan dan di saat-saat yang baik. Saya selalu sadar bahwa bisnis ini ada di sini untuk melayani tujuan yang lebih besar, Tuhan, keluarga saya dan masyarakat," kata Andy, dilansir enterpriseasia.org.

[Gambas:Video CNBC]


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading