Gokil! Rupiah Juara Asia, tapi Dinilai Masih Kemurahan?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
06 June 2020 09:11
Dollar AS - Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Menyebut rupiah sebagai jawara Asia memang tak berlebihan jika melihat performanya yang 'garang' minggu ini. Dolar AS dilibas tak berdaya di hadapan mata uang Tanah Air. Banjir sentimen positif membuat keyakinan investor membaik dan rupiah diburu. Meski sudah jadi jawara, rupiah dinilai masih kemurahan.

Nilai tukar rupiah yang menguat tajam di hadapan dolar greenback membuatnya menjadi mata uang paling seksi di kawasan Asia. Dalam sepekan terakhir nilai tukar rupiah menguat nyaris 5% terhadap dolar AS. 

Penguatan ini jauh lebih tinggi dibanding apresiasi yang dicatatkan mata uang kawasan Asia lainnya. Tak tanggung-tanggung, kini rupiah sudah kembali di bawah Rp 14.000/US$. 


Pada penutupan perdagangan pasar spot Jumat (5/6/2020) untuk 1 dolar AS dibanderol Rp 13.850. Dengan begitu, kini rupiah sudah melampaui level penutupan di awal tahun di Rp 13.880/US$.



Bombardir berita baik seputar kembali digebernya perekonomian membuat risk appetite investor berangsur pulih. Pelonggaran lockdown dan segala pembatasannya telah dimulai sejak awal Mei oleh banyak negara di dunia.

Kini perekonomian global sudah mulai menatap era baru yang disebut 'new normal'. Kata-kata new normal seolah memiliki kekuatan magis yang mampu mendorong investor kembali memburu aset-aset berisiko seperti saham dan instrumen investasi di negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Derasnya aliran asing yang masuk ke Tanah Air turut membantu penguatan nilai tukar rupiah. Pekan ini pemerintah melelang 7 seri SBN dengan target indikatif sebesar Rp 20 triliun. Namun penawarannya tercatat mencapai Rp 105,27 triliun. Artinya ada oversubscribed hingga 5,2x.


Pemerintah akhirnya menyerap dana sebesar Rp 24,3 triliun, sedikit di atas target indikatif yang dipatok jika mengacu pada berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.

Tingginya minat investor terhadap SBN juga terlihat di pasar sekunder dengan penurunan imbal hasil (yield) SUN pemerintah berdenominasi rupiah dengan tenor 10 tahun yang sudah semakin mendekati 7% setelah sempat naik ke 8% saat wabah corona merebak bulan Maret lalu. Penurunan yield mengindikasikan adanya kenaikan harga SUN.

Di pasar saham pun juga demikian. Investor asing mulai berani masuk ke saham-saham RI. Sepekan terakhir saja Bursa Efek Indonesia mencatat asing melakukan aksi net buy alias beli bersih senilai Rp 3,39 triliun di seluruh pasar. 

Menambah sentimen positif lain adalah rupiah yang semakin diburu oleh pelaku pasar. Survei dwi mingguan yang dilakukan oleh Reuters menunjukkan bahwa investor sudah mulai semakin menurunkan posisi jual (short) terhadap rupiah dan beralih ambil posisi beli (long).


Hasil survei terbaru yang dirilis Kamis (28/5/2020) pekan lalu menunjukkan -0,05, turun jauh dari rilis dua pekan lalu 0,21. Hasil tersebut menjadi penurunan kelima beruntun. Dengan survei terbaru yang menunjukkan angka minus, artinya pelaku pasar kembali mengambil posisi long rupiah.

Rupiah yang sudah sangat perkasa ini bahkan dinilai oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo masih kemurahan (undervalued). Dalam pemaparan kondisi ekonomi terkini melalui konferensi videonya kemarin, Perry menjelaskan berbagai alasan mengapa rupiah masih dinilai terlalu murah jika dibandingkan dengan fundamental value-nya.

Perry menjelaskan bahwa perbedaan suku bunga yang masih tinggi, yield surat utang yang menarik, kecemasan yang mereda, inflasi yang terjaga di kisaran target, defisit transaksi berjalan yang membaik hingga premi risiko (credit default swap/CDS) yang turun membantu penguatan rupiah lebih lanjut. 

Ke depan Gubernur BI masih optimis bahwa rupiah masih mampu untuk menguat. Luar biasa!



TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]





(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading