Ngeri! Rupiah Libas Dolar AS 1% Lebih, Dekati Rp 14.400/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 June 2020 12:22
Dollar AS - Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (2/6/2020). Mood pelaku pasar yang sedang bagus membuat rupiah mengerikan bagi lawan-lawannya.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah langsung melesat 0,65% ke Rp 14.480/US$. Apresiasi rupiah semakin membesar hingga 1,1% ke Rp 14.415/US$ pada pukul 12:00 WIB di pasar spot, melansir data Refinitiv. 

Rupiah saat ini berada di level terkuat sejak 12 Maret lalu. Di Asia, dengan penguatan tersebut menjadi mata uang terbaik.


New normal atau singkatnya menjalankan kehidupan dengan protokol kesehatan yang ketat di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19) mulai dilakukan di seluruh belahan bumi ini. Dengan demikian, roda bisnis perlahan kembali berputar sehingga berpeluang terlepas dari ancaman resesi global.

New normal tersebut membuat mood pelaku pasar membaik, sehingga mengalirkan investasinya ke aset-aset berisiko. Rupiah menjadi salah satu yang diuntungkan, sehingga menjadi perkasa pada hari ini.



Negara-negara di Asia, Eropa hampir semuanya akan memutar kembali roda perekonomiannya dengan melonggarkan kebijakan karantina wilayah (lockdown). Begitu juga dengan Amerika Serikat, negara dengan nilai ekonomi terbesar di dunia.

China, negara awal virus corona, sudah melonggarkan lockdown sejak bulan Maret lalu, dan memberikan bukti perekonomian bisa segera bangkit. Hal tersebut terlihat dari sektor manufaktur yang kembali berekspansi dalam 3 bulan beruntun setelah mengalami kontraksi tajam di bulan Maret.

Minggu (31/5/2020) lalu, purchasing managers' index (PMI) manufaktur China bulan Mei dilaporkan sebesar 50,6. Meski menurun dari bulan sebelumnya 50,8, tetapi masih di atas 50, yang artinya sektor manufaktur China masih berekspansi. Di bulan Maret, PMI manufaktur China berada di level 52, naik tajam ketimbang bulan Februari sebesar 35,7, yang merupakan kontraksi terdalam sepanjang sejarah.



Data PMI manufaktur China tersebut memberikan gambaran pemulihan ekonomi V-shape, merosot tajam akibat pandemi Covid-19, dan melesat naik ketika penyebaranya virus corona berhasil diredam. Jika semua negara bisa meniru pemulihan ekonomi China, resesi global tentunya bisa terhindarkan.

Indonesia juga memulai new normal di pekan ini. Dalam skema new normal di bidang perdagangan, sejumlah pusat perbelanjaan akan dibuka kembali secara bertahap. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebut ada 5 fase atau tahapan yang akan diterapkan.

"Setiap minggu kita lihat, karena kita mau menggerakkan Ekonomi secara cepat. Mungkin dan supaya tak ada distorsi yang lain-lain karena kita harus meningkatkan atau menghidupkan segera yang kemarin banyak pusat perbelanjaan tutup, dan pasar tradisional, dan ini kita harus buka minggu depan dengan protokol kesehatan yang ketat," kata Agus seperti dikutip CNBC Indonesia dari Rekaman Humas Kemendag, Jumat (29/5/2020).

Fase pertama akan dimulai pekan ini, dan fase-fase selanjutnya menyusul setiap pekannya.



Sementara itu dari dalam negeri, PMI manufaktur Indonesia sedikit membaik di bulan Mei, menjadi 28,6 dari bulan April sebesar 27,5. Meski masih berkontraksi, setidaknya angka indeks mulai bergerak naik. Dengan penerapan new normal mulai bulan ini, PMI manufaktur tentunya akan semakin naik mendekati 50, dan tidak menutup kemungkinan langsung menunjukkan ekspansi seperti yang dialami China.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2020. BPS mencatat terjadi inflasi 0,07% di Mei 2020. Sebanyak 67 kota terjadi inflasi sementara 23 kota deflasi.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia menghasilkan median inflasi bulanan (month-to-month/MM) sebesar 0,1%. Sementara inflasi tahunan (year-on-year/YoY) ada di 2,22% dan inflasi inti secara tahunan adalah 2,8%.

BPS mencatat year on year inflasi 2,19% sementara year to date inflasi 2020 mencapai 0,9%.

Rendahnya inflasi memang bisa memberikan gambaran penurunan daya beli masyarakat akibat banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19. Tetapi secara investasi, inflasi yang rendah membuat riil return berinvestasi di Indonesia menjadi lebih tinggi. Sehingga aliran modal asing bisa deras masuk ke dalam negeri, dan rupiah menjadi perkasa.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]





(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading