Internasional

Kerusuhan di AS tak Berdampak, Wall Street Ditutup Menghijau

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
02 June 2020 07:20
Trader James Dresch, center, and specialist Anthony Matesic, right, work on the floor of the New York Stock Exchange, Friday, Jan. 4, 2019. Stocks are jumping at the open on Wall Street Friday as investors welcome news of trade talks between the U.S. and China and a big gain in jobs in the U.S. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup naik pada perdagangan hari Senin (1/6/2020). Kenaikan terjadi meskipun AS sedang dilanda demo anti-rasisme parah di berbagai kotanya. Kenaikan juga terjadi di tengah memburuknya hubungan AS-China.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,4% menjadi 25,475,02 di penutupan. S&P 500 juga naik 0,4% menjadi 3.055,73, sedangkan Nasdaq Composite Index yang umumnya diisi saham-saham perusahaan teknologi melonjak 0,7% menjadi 9.552,05.



Kenaikan di bursa AS terjadi karena para pelaku pasar mengabaikan buruknya sentimen yang datang dari kerusuhan di AS. Negeri Paman Sam telah dilanda demo anti-rasisme dalam sepekan terakhir setelah kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd.

Floyd merupakan seorang pria Afrika-Amerika berusia 46 tahun. Ia tewas usai lehernya ditekan dengan lutut selama sekitar delapan menit oleh Derek Chauvin, salah satu dari empat polisi Minneapolis yang menahannya.

Sebagaimana dilansir AFP, George ditangkap karena diduga melakukan transaksi memakai uang palsu senilai US$ 20 (RP 292 ribu) pada Senin pekan lalu (25/5/2020).

Penangkapan George yang terekam dalam sebuah video yang menjadi viral tersebut memperlihatkan Chauvin menekan leher George. Padahal ia dalam keadaan sedang diborgol dan telungkup di pinggir jalan. Floyd meninggal di rumah sakit setempat tak lama kemudian.

Akibat tindakan yang banyak dianggap berbagai pihak sebagai rasisme tersebut, banyak warga AS yang menggelar demo di kota-kota negara itu. Parahnya, demo terjadi di tengah upaya AS menanggulangi wabah virus corona (Covid-19) yang mematikan. AS masih menjadi negara dengan kasus corona terbanyak di dunia, yaitu memiliki 1,8 juta lebih kasus COVID-19.

Namun demikian, para analis mengatakan secara historis investor mengabaikan kekacauan tersebut.

"Secara umum, jenis kekerasan sosial tidak benar-benar masuk sebagai faktor pasar," kata Karl Haeling dari LBBW.

"Hari ini memang [demo] itu membuat orang sedikit khawatir karena bisa melukai kepercayaan konsumen, itu bisa menyebarkan Covid-19, mungkin juga bisa menunda pembukaan kembali," katanya. "Tapi di sisi lain itu, ini bisa membuat Kongres lebih bersedia untuk meluncurkan paket fiskal."




Selain hal-hal di atas, pasar juga nampaknya mengabaikan reaksi tajam China terhadap pengumuman Presiden Donald Trump yang menargetkan negara itu melalui undang-undang keamanan Hong Kong.

"Setiap kata dan tindakan yang merusak kepentingan China akan ditanggapi dengan serangan balik di pihak China," kata juru bicara kementerian luar negeri Zhao Lijian pada konferensi pers Senin, menanggapi ancaman Trump yang berniat menghapus status khusus Hong Kong setelah pemerintah negara itu menyetujui pemberlakuan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong.

UU tersebut banyak dianggap sebagai upaya China memperkuat kendalinya atas Hong Kong, kota miliknya yang secara hukum memiliki sistem pemerintahan sendiri.

Meski demikian, pasar mengabaikan masalah itu karena menganggap memanasnya hubungan AS-China tidak akan mempengaruhi hubungan dagang kedua negara.

[Gambas:Video CNBC]


(res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading